01.menyebalkan
"Zee,bangun!sudah pagi!" Zeeya yang asyik bergumul dengan selimut tebalnya ,enggan perduli dengan suara Mikayla yang berusaha membangunkannya.
"sudah pagi sweety,ayo, bangun!" Mikayla menyibak tirai berwarna gold,sehingga paparan sinar matahari menyelinap masuk menerpa tubuh gadis itu.
"kakak,aku masih mengantuk!"ucapnya dengan nada malas,dan matanya masih terpejam,
"kau ini,bukannya kemarin kau bilang pagi ini ada bimbingan dengan mr.Marco?",
"astaga!" Zeeya segera melompat dari ranjangnya setelah mengingat itu,menyambar handuk yang tergantung di kapstok ,lalu bergegas ke kamar mandi.
Mikayla hanya geleng geleng kepala melihat tingkah sang adik,pasalnya tidak sekali dua kali Zeeya melakukannya,
namun nyaris setiap hari,
tentu saja sang kakak tidak bisa berkomentar banyak tentang setiap perbuatan adiknya itu.
tak henti Mika menasihati Zeeya,namun apa yang didapat?tidak ada,
Mikayla keluar dari kamar Zeeya,menutup pintu kamarnya perlahan lalu kembali ke meja makan,menghampiri Samudra biru yang sedang sarapan disana.
"apa si pemalas itu sudah bangun?"tanya Sam pada istrinya.
"dia memiliki nama,Sam.Berhenti memanggilnya pemalas!!"protes Mikayla karna tak terima adik nya di sebut sebagai pemalas.
"kau terlalu memanjakan nya ,makanya dia berkembang seperti itu!"Mikayla diam tak menggubris ocehan suaminya lagi,
sejak kecil Zeeya terbiasa tinggal hanya berdua dengan Mika ,karna orang tua mereka sedang berbisnis diluar negeri,
dalam sebulan hanya seminggu orang tua nya tinggal ditanah air,itu sebabnya Zeeya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mika.
Terdengar suara langkah kaki mendekat kearah meja makan membuat Sam memalingkan wajah,sungguh dia sangat tidak suka dengan adik iparnya itu ,karna selain pemalas ,juga selalu merepotkan,
Mika hanya melirik suaminya sekilas lalu menggelengkan kepala.
Dalam pikirannya bertanya ,kapan mereka berdamai?
Tanpa diberi aba aba,Zeeya duduk dengan santai sambil menyendok nasi ke piringnya,serta menambahkan lauk pauknya diatas nasi,
"lain kali kau harus bangun lebih pagi,agar bisa membantu kakak mu memasak!"Zeeya memutar bola matanya malas.
"kakak ipar,apa kau tidak lelah setiap hari menasehati ku?kakak saja tidak keberatan aku bangun siang,lagi pula kau tidak merasa dirugikan dengan tindakanku bukan?"
"memang kau tidak merugikan aku,tapi kau membuat kakakmu lelah"
"kak Mika_"belum sempat melanjutkan ucapannya,Mika bersuara
"sudah sudah,kalian ini selalu saja bertengkar,aku bosan mendengar perdebatan kalian "
wanita berusia dua puluh enam tahun itu, menengahi perdebatan mereka,Zeeya melengos ketika mendapati tatapan menjengkelkan dari Sam.
Sedikit mengenal Zeeya,dia adalah gadis bermata sipit ,memiliki iris berwarna coklat dan bulu mata yang lentik serta hidung yang mancung,bentuk badan nya proporsional,tentu idaman para lelaki .
Sementara Mikayla, memiliki postur tubuh lebih mungil dibanding adiknya,rambut ikal dan kulitnya kuning langsat,mendominasi kecantikannya.
Saat Zeeya berusia empat tahun,dia ditinggalkan oleh ibunya,dan hanya tinggal berdua dengan Abraham sang ayah,
kemudian takdir mempertemukan Abraham dengan Rosa,ibu Mika yang statusnya adalah janda ketika putrinya menginjak delapan tahun,kemudian atas kesepakatan bersama,Abraham resmi memperistri Rosa.
Mereka hidup bahagia didalam satu atap,meski status antara Mikayla dan Zeeya adalah saudara tiri,namun mereka tampak akur dan selalu kompak,Mikayla sangat menyayangi adik tiri nya tersebut.
Karna kasih sayang itulah,Zeeya juga sangat menyayangi kakaknya.
Hingga kini mereka tumbuh menjadi dua gadis yang sangat didambakan para pria,mereka memiliki ciri khas masing masing di mata banyak pria.
hingga suatu hari,Mikayla membawa Samudra Biru sebagai calon suaminya datang kerumah,tentu disambut bahagia oleh keluarga dan terutama Zeeya,adiknya.
"Aku sudah selesai,aku berangkat dulu ya!"Samudra berdiri menghampiri Mikayla dan mencium kening nya,rutinitas yang setiap pagi suami istri itu lakukan,membuat Zeeya berdecak melihatnya,
tidakkah mereka punya sedikit simpati?untuk tidak melakukan hal hal yang membuat hati jomblowati seperti dirinya meronta karna ngenes,sungguh terlalu.
"Sam,sebentar!"Mika menahan tangan suaminya yang hendak menyambar tas kantornya dikursi makan.
"Bisakah sekalian kau mengantar Zeeya?"
gadis yang disebut namanya itu kemudian tersedak ,karena mendengar permintaan sang kakak yang baginya mustahil.
bisa bisanya mendorong suami untuk lebih dekat dengan adik tiri,apa tidak takut ditikung?
"Maaf kak,aku tidak bisa,aku sudah ada janji dengan Arga"dia segera menuang air putih di gelas,lalu meminumnya setelah menandaskan isi piring dimeja.
"Lebih baik diantar Sam,kau akan lebih aman!"tukas Mika
"jadi menurut mu ,bersama Arga aku tidak aman?"
"bukan begitu,tapi_"
"baiklah,aku akan mengantar Zeeya!"
Samudra mengintrupsi perdebatan kakak beradik itu.
"ck" gadis itu berdecak ,karna berani nya Sam menyetujui permintaan Mika.
Dia pergi meninggalkan meja makan dengan menghentakkan kaki karna moodnya mendadak berubah buruk,disusul oleh Samudra dibelakangnya.
Mika memperhatikan kepergian keduanya hingga hilang dibalik pintu,
seulas senyum terbit dari sudut bibir nya
"kalian sangat serasi"gumamnya
.
.
.
perjalanan dari the Grand kenjeran menuju tempat Zeeya menimba ilmu yakni ITS,kurang lebih memakan waktu sekitar lima belas menit,selama itu pula mereka betah saling berdiam diri.
Karna memang sejak dulu,mereka tidak akur satu sama lain,jadi,tidak salah ketika bertemu mereka tidak pernah bersikap ramah.
"turunkan aku disini!"titah Zeeya sambil melirik tajam kearah Samudra
"Kampus mu masih jauh,cukup duduk manis,biar ku antar sampai depan kampus!"
"Nggak usah!aku turun disini saja"
"Kau ini,bisa tidak sekali saja menurut? jangan menyusahkan orang lain"suara Samudra mulai meninggi
"Kalau kau tidak ikhlas ,harusnya tidak perlu repot mengantarku,aku juga tidak suka diantar oleh mu"Jawab Zeeya tak kalah sengit,sambil membuang muka kearah lain,
Zeeya paling tidak suka dibilang suka merepotkan orang lain,apalagi yang mengatakannya adalah Sam.
kalau itu benar,lalu mau apa?
"Aku memang tidak ikhlas,hanya saja ingin menyenangkan hati istriku,kalau bukan karna Mika,aku juga tidak ingin punya urusan denganmu!"
"Mika saja terus alasanmu,seandainya kau disuruh menikahi dengan ku ,kau juga akan menurutinya ? dengan alasan ingin menyenangkan hati istri? Konyol"Zeeya mendengkus kesal.
"sudahlah berhenti berdebat,aku tidak ingin energi ku terbuang sia sia karna menanggapi mu"Samudra memilih mengalah pagi ini,dia sedang menjaga tensi darahnya agar tetap stabil,karna setiap bersama Zeeya membuat tensinya selalu meningkat.
"salah siapa cari gara gara duluan"
"Zee,sekali saja kau pikirkan kakak mu!apa kau lupa kakak mu sedang sakit,bisa kan kau memberinya kebahagiaan di sisa hidupnya?"
"Apa maksudmu berkata sisa hidup? Kamu menginginkan kakak ku segera mati ?begitu?"
"Bukan begitu maksudku"
"Lalu apa? jadi yang kamu lakukan selama ini untuk kakak hanya karna dia akan segera mati?"
Samudra mulai terpancing emosinya ketika membahas hal sensitif tentang penyakit Mika.
"Selain kamu urakan dan tidak beretika,ternyata kau senang menuduh orang juga ya!"tukasnya datar
"Aku tidak menuduh,awas saja kamu mempermainkan kakakku,!" Zeeya melipat tangannya sambil menggeleng kepala.
"Aku sungguh tidak mempermainkan kakakmu Zeeya,astaga.. mana mungkin pernikahan main main bisa menghasilkan seorang anak"
kali ini Zeeya tidak dapat membalas perkataan Sam.
anak?
Astaga,bagaimana anak itu nanti setelah kehilangan ibunya,meski sebenarnya Zeeya membenarkan ucapan Sam,bahwa Mika tidak punya harapan hidup lebih lama,
namun kenyataan itu terlalu menyakitkan untuk Zeeya,dia menyayangi Mika lebih dari apapun.
Karna baginya,Mika adalah ibu peri dengan sejuta kebaikan dalam dirinya.
Tak terasa,mobil Ferrari yang Sam kendarai berhenti di tempat tujuan ,tanpa mengatakan apapun apalagi terima kasih,Zee keluar dari mobil dan menutup nya sedikit kasar.
Pikirannya masih kalut mengingat nasib Miller kedepannya,sepertinya dia tidak rela jika keponakannya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu,tapi mengingat soal ibu,apa itu artinya Sam akan mencari pengganti Mika untuk Miller?
Jika iya,apakah ibu tiri itu akan memperlakukan Miller dengan baik?
Entah mengapa ,hatinya teriris jika seandainya ibu tiri Miller adalah Hilda,teman sekaligus mantan pacar Sam dulu,bagaimana jika Hilda hanya menginginkan ayahnya saja?lalu membuang jauh anaknya seperti disinetron.
Berhubungan dengan mantan pacar,harusnya tidak dilakukan oleh Sam,meski memang sudah saling melupakan,besar kemungkinan rasa yang terlupakan itu kembali hadir karna nyaman.
dan kenyamanan itu yang berujung saling menyukai,siapa tau sebelum Mika tiada diam diam Sam sudah menjalin kedekatan lebih dari seorang teman,mengubah status mantan pacar menjadi calon istri,bukan kah itu logis?.
Banyak asumsi yang menari nari dalam benaknya.
'Tidak bisa dibiarkan'ucapnya lirih
"Apanya yang tidak bisa dibiarkan,Zee?"
Zeeya terkejut tiba tiba mendengar suara pria dibelakangnya,sontak membuat nya menoleh yang ternyata pemiliki bariton itu adalah Arga,
Zee merasa canggung saat itu,mengingat dia belum meminta maaf karena membatalkan sepihak janjiannya itu,dan lebih parahnya Zee lupa mengabari nya
"Sudahlah bukan apa apa,anggap saja kau tak mendengarnya,Ga"Zeeya tidak ingin membahas apapun mengenai urusan rumah tangga kakaknya,sekalipun dengan Arga sahabatnya.
"Oke baiklah,ngomong ngomong tadi aku menjemputmu,sepertinya kamu lupa dengan janji mu kemarin,kamu malah memilih pergi duluan,menyebalkan sekali ,bukan?"
"Aku tidak lupa,Arga.Hanya saja ibu peri memerintahkan kurcacinya mengantar ku,kau tahu sendiri kan ,betapa penurut nya seorang Samudra biru kepada Mikayla jessy"cibir Zeeya sambil memutar bola matanya malas.
memang,sejak menikah dengan kakaknya,Sam selalu menuruti kemauan Mika,termasuk berurusan dengan gadis banyak tingkah seperti dirinya,tentu saja sebenarnya dia anti,
namun demi Mika apa boleh buat?tidak ada pilihan lain selain kata "baiklah".
se menyebalkan itu kah,kakak tirinya itu?jawabannya adalah iya.
Selain Samudra,ada juga Zeeya yang merasa terhipnotis dengan segala bentuk perintah ibu peri,meski gadis itu sangat keras kepala dan pemberani namun nyatanya dia tampak gemulai di hadapan Mika.