06.Menyesal

1046 Words
disini Zeeya merasa dilema ,harus bagaimana dirinya sekarang? "terus terang ,aku bingung tante,ini terlalu mendadak" "tante tahu ,sayang!awalnya tante juga tidak yakin tentang permintaan Mika" "aku akan tetap mengurus Miller tanpa harus menikah dengan ayahnya" "tapi ,permintaan Mika adalah kau harus menikahi ayahnya Miller" Zee menggigit bibir bawahnya,merasa bebannya datang bertubi tubi, "bisa kau pikirkan nanti Zee,sekarang yang terpenting tetaplah tinggal disini!"Rima bangkit seraya meninggalkan Zee sendirian. gadis itu menatap koper yang kini telah terisi sebagian baju nya,dia kembali menggigit bibir bawahnya "pergi?" "tidak?" "pergi?" "tidak?" argh...Zee mengeram frustasi sambil memegang kepala dengan kedua tangannya. tak pernah menyangka bahwa kakaknya akan menyeret dia dalam keadaan rumit seperti ini. . . . suasana malam ini sangat dingin,semilir angin menyapa pemilik iris coklat yang sedang berdiri sambil menghirup udara segar di halaman belakang rumahnya. Sebenarnya Zee bukan tipe gadis yang betah berada dirumah,namun semenjak kepergian Mika,gadis itu selalu menghabiskan waktunya dirumah,pulang tepat waktu ketika datang dari kampus. Karna dia merasa ada orang yang perlu dia urus dirumah,meski belum memutuskan untuk menerima permintaan Mika,namun tetap saja dia harus memasak makanan untuk kakak iparnya. ya,hitung hitung ini cara dia berterima kasih karna diberi ijin menumpang di rumah ini selama kakak nya dan Sam membina rumah tangga. terdengar suara pintu utama terbuka lebar,Sam yang tampak kusut memasuki ruang tamu dan duduk bersandar di sofa. penampilannya sangat acak acakan,Zee sangat iba melihat lawan debatnya seperti ini. gadis itu memandang Sam dari jarak jauh,Sam seperti tidak terurus dengan baik. "kau belum tidur ,Zee?"tanya Sam yang menyadari sepasang mata gadis itu sedang memperhatikannya di ambang pintu belakang "aku belum mengantuk" Sam menghela nafas panjang,kemudian bangkit menuju kamarnya,kamar tempat dirinya dan Mika berbagi ranjang , kamar tempat dirinya berkeluh kesah pada Mika sebelum tidur,kini semuanya terasa hampa dan sunyi. Sam melempar asal tas nya ke sofa,lalu membaringkan tubuhnya dengan beralaskan tangan di kepalanya. mengingat kembali surat wasiat yang dia terima waktu itu,semua terasa mustahil baginya. menikahi gadis yang tidak dia sukai dan tidak menyukainya,terlebih dia adalah adik iparnya itu tidak semudah membalik telapak tangan. memutar kembali memori saat kebersamaan Zee dan Miller,putranya sangat membutuhkan figur seorang ibu,dan Zee adalah orang terdekat miller setelah ibu dan neneknya. apa Sam siap menikahi gadis itu? matanya terpejam ,berusaha melupakan sejenak masalah yang berputar di otaknya. hingga suara dengkuran halus pun terdengar. . . . Zee menyiapkan sarapan untuk Sam dan dirinya,suasana canggung meliputi keduanya ketika sama sama sedang berada di meja makan,sesekali mereka saling melirik satu sama lain. Samudra. "Zee?tentang pernikahan itu.." "tidak perlu dilakukan"potong Zee dengan cepat. "aku bisa mengurus Miller tanpa harus menikah"sambungnya. atensinya masih menatap nanar sisa nasi dalam piringnya,jujur membicarakan tentang pernikahan jantung Zee tidak bekerja dengan benar,selalu berdetak kencang seolah ingin lari dari tempatnya. "aku sudah selesai,aku berangkat duluan !"tukas Zee kemudian,merasa risih karna Sam selalu menatapnya "aku antar!"tukas Sam membuat langkah Zee berhenti sejenak, demi apapun,situasi akhir akhir ini membuat Zee tidak nyaman,dia yakin Sam mengalami hal serupa. "tidak perlu,kak" "kenapa?" "aku ..ehmm itu.." "kau harus tetap menjalankan hukuman dari Mika bukan?" "maka menurut lah"sambungnya seraya berjalan mendahului Zee yang masih membeku disana. *** Selama perjalanan mereka hanyut dalam pikiran masing masing,mobil terasa sunyi semenjak kepergian Mika,padahal mobil itu adalah saksi bisu pertengkaran Zee dan Sam setiap hari. lima belas menit membelah jalanan,kini mobil itu berhenti didepan gedung Institut teknologi sepuluh nopember. "nanti aku jemput!" ucap Sam saat Zee turun dari mobilnya,tanpa menunggu jawaban Zee ,Sam langsung tancap gas. Baru saja Zee akan menolak ,karna dia ingin pergi dengan Arga.ah...gagal pikirnya. "are you oke ?"suara Destian yang tiba tiba terdengar di telinganya,membuat Zee tersentak. "yes,tapi lebih baik lagi jika kau tidak mengejutkan aku"Zee mendengkus kesal. Destian terbahak,kemudian merangkul pundak Zee menggiringnya masuk kedalam gedung. "ngomong ngomong,kau dengan kakak ipar mu masih berhubungan dengan baik?" "apa maksudmu?" "ya..kulihat dia tetap mengantar dan menjemputmu meski tidak ada kak Mika!" Zee terdiam,apa mungkin dia harus menceritakan pada para sahabatnya tentang apa yang terjadi? ah..tidak itu bukan ide yang bagus. . . . . sesuai janjinya,Sam datang tepat waktu menjemput adik iparnya,setiap pasang mata yang berada disekitarnya menatap ke arah Sam dengan tatapan kelaparan,dan penuh kekaguman. bagaimana tidak,Sam adalah pria tampan yang memiliki daya tarik tersendiri untuk memikat banyak peminatnya,tak salah jika semua mahasiswa disana terlihat mendambakan pria yang bertengger di mobil nya itu. Zee segera menghampiri Sam yang telah di hujami tatapan dari seluruh pasang mata,dia tidak rela Sam ditatap seperti itu,bukan karna cemburu melainkan Sam adalah milik Mikayla. "tunggu saja didalam mobil!kenapa harus keluar segala sih?"dengkus Zee saat memasang seatbelt nya, "kenapa memangnya?" "kau tidak lihat,tatapan mereka seperti singa betina haus belaian!" Sam terkekeh,melihat raut wajah tak suka dari gadis itu "kau marah?" "tidak,hanya saja kau harus menempatkan posisi mu,kau itu sudah punya anak,tidak pantas tebar pesona pada gadis gadis macam mereka" "hum..begitu rupanya?" "ingat ya!jangan berpikir aneh aneh" "memangnya apa yang aku pikirkan,aku bahkan tidak berpikir yang aneh aneh?" "tapi, senyum mu itu terlihat seperti mengejek ku,kak" Sam tertawa renyah,terlihat dirinya dapat mengesampingkan rasa sedih yang melandanya ketika bersama dengan Zee,benar! yang Mika katakan benar,bahwa kehadiran Zee mampu mengobati luka nya sedalam apapun. "ngomong ngomong,mengapa kau masih mengantar jemput aku?"sambungnya "aku sendiri tidak tahu,Zee,aku merasa harus tetap menepati janji ku pada Mika" Zee terdiam sesaat, "termasuk tentang pernikahan itu!"sambungnya , sontak Zee menoleh cepat kearah Sam ,tatapan mata mereka saling beradu ,seketika mata indah Zee menatap dalam manik kelam pria itu,lalu segera memalingkan wajah,setelah hampir terpesona . mereka kembali dilanda keheningan,Zee memijat pelipisnya sambil menatap keluar jendela. "aku tidak akan memaksamu,jika kau tidak ingin!" "aku melakukannya,hanya karna permintaan Mika,kau tahu kan aku paling tidak bisa menolak keinginannya"sambungnya ya,Sam paling sulit menolak keinginan Mika,meski permintaan tersulit sekalipun dia akan berusaha memenuhinya, terbukti,teramat besar cinta pria itu kepada Mika, "aku tidak bisa mengorbankan masa mudaku menikahi pria yang tidak mencintaiku dan aku tidak mencintainya,kunci utama pernikahan adalah cinta,kak.Kita tidak bisa menikah " "aku terserah padamu saja !"jawab Sam Samudra menghela nafas berat,seberat beban kehidupan yang dia lewati ,Zee bisa merasakan itu. "begini saja!aku tetap mengurus mu dan Miller ,tapi ikatan kita tetap seperti ini,bagaimana?" "sampai kapan?" "sampai aku menemukan pasangan hidupku,hitung hitung aku sedang belajar sekarang" "lalu bagaimana dengan nasibku dan Miller setelah nya?" "entahlah,kepala ku pusing tiba tiba,tidak mungkin juga kan aku mengurus suami ,sekaligus kakak ipar ku dan juga keponakanku,secara bersamaan " Sam tergelitik mendengar ucapan Zee,merasa geli tentang kalimatnya itu,benar benar lucu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD