Rencana yang Gagal

1342 Words
Pagi ini Ana berangkat lebih pagi dari biasanya. Bahkan saking semangatnya, sampai-sampai ia melewatkan kegiatan langka yang sangat ia tunggu-tunggu setiap harinya, sarapan pagi bersama Ayah, Bunda, dan juga Abang kesayangannya. Karena biasanya, Ayah dan Abangnya sudah berangkat ke kantor sebelum ia sarapan. Tapi tak apa ia tidak bisa sarapan pagi bersama keluarganya, mood-nya sedang baik saat ini, sangat-sangat baik malah. Efek diantar pulang oleh Rayhan kemarin mungkin yaa, he he. Entahlah, Ana sendiri pun bingung sebenarnya. Masa hanya karena diantar pulang oleh seorang laki-laki bernama Rayhan Ramadhan, mood-nya langsung meningkat secara drastis pagi ini? Hingga dirinya memiliki hobi baru sekarang, yaitu senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas layaknya orang gila. Ya, orang gila. Gila karena cinta. Ana ingat-ingat entah sudah berapa puluh kali ia senyum-senyum sendiri hari ini. Aneh ya? Apa jatuh cinta bisa membuatnya aneh seperti saat ini? Entahlah, Ana tak ingin mengambil pusing, ia hanya ingin menikmati berbagai rasa yang hadir dengan sendirinya karena si manusia kutub itu, rasa yang tiba-tiba datang dan masuk, tanpa mampu ia cegah. Hari ini Ana sengaja berangkat ke kampus dengan menggunakan taksi online, agar ia bisa diantar pulang lagi oleh Rayhan. Ia akan meminta Rayhan untuk kembali mengantarnya pulang, dengan alasan mobilnya masih mogok, masih berada di bengkel karena belum selesai diperbaiki. Rencananya seperti itu, dan Ana harap rencananya kali ini kembali membuahkan hasil. Menjadi dekat dengan Rayhan, bisa meluluhkan hati si manusia kutub itu, dan berujung dengan cintanya yang tersambut. "Semoga saja," harap Ana dalam hati, yang diakhiri dengan senyuman lebarnya. Tadi malam Ana dan kedua sahabatnya,Luna dan Clarissa, sudah sepakat untuk berangkat lebih pagi dari hari-hari biasa, agar mereka bertiga bisa nongki-nongki cantik terlebih dahulu di cafe dekat kampus, cafe favorit mereka bertiga saat sedang bosan menikmati menu kantin kampus. ********** Sesampainya di pelataran cafe, Ana tersenyum melihat mobil kedua sahabatnya yang sudah bertengger cantik dan rapi di sana. Lantas ia pun bergegas masuk untuk menemui kedua sahabatnya yang kini sedang duduk-duduk cantik di pojok dekat jendela, tempat favorit mereka jika sedang nongki-nongki cantik, seperti saat ini. "Hai girls, sorry ya, aku baru dateng. Kalian berdua belum lama kan nyampenya?" tanya Ana tak enak hati seraya memasang ekspresi bersalah kepada kedua sahabatnya, karena ia yang mengajak mereka untuk berkumpul pagi-pagi, tapi malah dia yang datang paling akhir di antara ketiganya. "Hai.. Nggak kok, santai aja, Na. Kita juga baru datang lima menit yang lalu. Oh ya, tadi kita udah sekalian pesenin minum buat kamu, orange juice kan seperti biasa?" ucap Clarissa, membuat Ana menghela nafas lega dan kembali menetralkan ekspresi wajahnya. "Syukurlah kalau kalian juga baru dateng. Aku kira kalian udah nunggu lama lho dari tadi. Kan nggak enak ya, aku yang ngajak kalian kumpul, pagi-pagi pula, tapi malah aku yang datang telat, he he.. Iya, Sa. Nggak apa-apa, thanks yaa udah dipesenin minum duluan, orange juice memang minuman favorit aku. Kalian tau aja deh, he he," jawab Ana disertai dengan kekehannya yang renyah garing gimana gitu. "Mmm, Na. Gimana kemarin diantar pulang sama Rayhan?" tanya Clarissa penasaran, seraya berusaha untuk menguatkan hatinya, takut-takut apa yang akan disampaikan Ana, membuat hatinya sakit karena cemburu. Berbeda dengan Ana yang sedikit mengeryitkan dahi. "Maksudnya gimana?" "Eh? Maksudnya ya perasaan kamu gimana setelah diantar Rayhan? Kalian berdua ngobrolin apa aja selama di mobil? Mampir-mampir dulu nggak? Atau ngapain aja gitu?" "Oh itu, ya gitu deh, Sa, he he," jawab Ana disertai dengan cengiran malu-malu. "Lho, kok ambigu sih, Na, jawabnya. Ceritain dong, Na. kita-kita kan juga penasaran sama kamu dan Rayhan. Kita berdua pengen tau kamu sama Rayhan ngapain aja, terus mampir makan dulu apa nggak? Jalan-jalan dulu nggak? Aku tebak kalian berdua pasti udah ngobrol banyak kan selama di mobil? Apa jangan-jangan kalian berdua udah jadian lagi?" serbu Luna antusias dengan berbagai pertanyaan disertai dengan tatapannya yang menggoda, berbeda dengan Clarissa yang diam sambil menunggu jawaban Ana dengan perasaan was-was, dag dig dug campak aduk. "Semoga Ana dan Rayhan belum jadian," ucap Clarissa dalam hati, sarat akan harapan. "Kamu kenapa sih, Lun? Kok kepo banget sekarang." "Lha, aku kan kalau soal kalian berdua kepo orangnya. Ayo lah, Na. cerita-in dong sama kita. Kita berdua udah kepo to the max tau nggak sama kamu? Udah kepo maksimal nih," paksa Luna yang tidak puas dengan tanggapan Ana barusan, yang juga diangguki oleh Clarissa. Tanda bahwa Clarissa juga setuju dengan perkataan Luna, sama penasarannya dengan Luna. "Lebay ah kalian berdua ini. aku tuh kemarin cuma kayak gitu doang sih, biasa aja. Kita berdua juga langsung pulang, nggak mampir dulu kemana-mana. Ngobrol di mobil juga nggak, cuma sebatas dianterin pulang aja sama Rayhan," jelas Ana panjang lebar yang dibalas dengan tatapan tidak percaya dari kedua sahabatnya. "Masa sih, Na? Jangan bohong deh kamu. Apa susahnya coba ngasih tau yang sebenarnya sama kita berdua? Kalau kamu sama Rayhan nggak mampir kemana-mana sih aku masih percaya ya, tapi kalau nggak ngobrol sama sekali masa iya sih? Kan perjalanan kalian dari kampus ke rumah kamu itu lumayan lama tuh, Na. Tiga puluh menitan kan? Nggak percaya aku, Na. Tapi kalau Rayhan bisa jadi sih ya? he he," ucap Luna panjang lebar, memaksa Ana agar mengaku dan menceritakan yang sebenarnya kepada dirinya dan Clarissa. "Ya Allah, kalian berdua ini ya, aku kan udah ngomong jujur tadi, masa sih nggak pada percaya? Seriusan deh, Luna, Clarissa, aku sama Rayhan nggak ngobrol apa-apa di mobil, cuma suara radio aja yang bunyi," jelas Ana yang kini dibalas tatapan prihatin oleh kedua sahabatnya, Luna dan Clarissa. "Apa sih kalian berdua ini, kenapa ekspresinya pada kayak gitu? Kasihan sama aku? Biasa aja kali mukanya. Nggak usah so prihatin kayak gitu, aku biasa aja kok, udah diantar pulang dan bisa satu mobil berdua aja sama Rayhan, aku udah bersyukur banget. Alhamdulillah tau, kayak mimpi rasanya," ucap Ana kepada Luna dan Clarissa. Ia tidak terima ya, kedua sahabatnya itu memandangnya dengan tatapan prihatin. Dirinya tidak semengenaskan itu hingga harus mendapatkan tatapan prihatin. "Syukur deh, kalo kamu memang senang. Aku juga ikut senang, Na. He he," ucap Luna dengan senyum tulus yang tercetak jelas di wajah cantiknya. "Oh ya, kalian berdua tau nggak? sekarang aku rencananya mau nebeng Rayhan lagi lho, he he. hari ini aku sengaja nggak bawa mobil ke kampus," ucap Ana antusias sambil memandang kedua sahabatnya. "Terus kamu mau ngasih alasan apalagi, Na? Kalau Rayhan malah curiga gimana?" tanya Clarissa yang sebenarnya tidak rela kalau Ana akan pulang bersama Rayhan lagi. "Ya elah, Sa. Itu mah urusan gampang. Tinggal bilang mobilnya masih di bengkel kan beres. Iya nggak, Na?" tebak Luna menjawab pertanyaan Clarissa. "Kamu emang jagonya ya, Lun, kalo udah soal beginian," puji Ana sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada Luna. "Yaudah yuk kita ke kampus sekarang, sudah jam segini tau. Kayaknya bentar lagi kelas bakal dimulai deh, girls," ajak Clarissa setelah melirik jam tangannya, yang kemudian diangguki oleh Ana dan Luna, dan mereka bertiga pun berlalu meninggalkan cafe, dengan Ana yang menumpang di mobil Luna. ********** Setelah jam kuliahnya selesai, Ana dan kedua sahabatnya melangkahkan kakinya, bergegas menuju parkiran kampus. Dari info yang Ana dapat dari Leo, sahabat dekat sekaligus teman sekelasnya Rayhan. Jam kuliah mereka sekitar lima belas menitan lagi akan segera selesai. Ketika mereka bertiga sedang asyik menunggu kedatangan Rayhan di bangku dekat parkiran, tiba-tiba Luna melihat seseorang yang tak asing baginya, sambil memicingkan mata ia mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia lihat ini benar adanya. Dan benar saja apa yang dia lihat itu ternyata Rayhan, dia sedang berjalan menuju parkiran, menuju mobilnya, tapi tunggu. Itu, gadis itu, kenapa dari tadi gadis itu, gadis cantik dengan gaya hijabnya yang syari tapi tetap stylist tentunya, terus berjalan mengikuti Rayhan di belakangnya, siapa gadis itu? Mau apa dia sampai berjalan di belakang Rayhan seperti itu? Lho, bukannya gadis berhijab itu gadis yang waktu itu ya? Si gadis berhijab merah. Ada hubungan apa di antara mereka bertiga? Jangan-jangan dugaan Ana selama ini benar, kalau Rayhan dan gadis berhijab itu memiliki hubungan spesial. "Eh, Na, Ana.. Itu Rayhan kan? tapi siapa sih gadis berhijab itu? Dari kemarin-kemarin kok suka bareng Rayhan terus ya?" Fix sudah, rencana Ana untuk kembali pulang bersama Rayhan kali ini gagal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD