Setelah berbincang beberapa menit. Akhirnya Mike berhasil membawa Hansel masuk ke villa.
Mike membawa Hansel langsung ke meja makan, di mana di sana sudah ada Jessica dan Maura yang sedang sarapan bersama.
“Aku harap, semalam Om Hansel enggak berantem,” ucap Jessica sembari menatap wajah Hansel.
“Hansel hanya merasa bersalah, Jes. Dia merasa kalau dia enggak bisa menjaga kamu dengan baik,” timpal Mike.
“Om Hansel dengerin aku, ya,” ucap Jessica. “Om Hansel itu bukan pengawal ataupun pegasuh aku. Jadi, enggak perlu merasa bersalah dengan kejadian semalam. Oke?” sambungnya.
“Gua janji akan jaga elo, Jes,” ucap Hansel dengan nada suaranya yang terdengar melemah.
“Sudah, Om. Sarapan dulu, setelah itu istirahat. Kasian matanya capek tuh,” ucap Jessica sembari tersenyum.
Hansel tersenyum dengan kecut, kemudian ia duduk di samping Jessica.
...
Setelah sarapan, Hansel pun berjalan menuju kamarnya, ia meninggalkan Jessica yang masih duduk di sana.
“Hansel sudah masuk kamar?” tanya Maura yang baru saja kembali dari kamar kecil.
Jessica menjawab pertanyaan Maura itu hanya dengan anggukkan kepalanya.
“Ingat ya kata Mama semalam. Enggak mungkin Hansel mau mengajari kamu segalanya kalau dia juga ingin membuat kamu terluka. Juga, Mama dan Papa kenal betul bagaimana Hansel dan Papanya yang enggak pernah dekat semenjak Mamanya meninggal dunia,” pungkas Maura.
“Dari perkataan Mama, semuanya nampak nyata. Aku tidak menemukan kebohongan dari setiap kata yang dia ucapkan. Aku harap, ucapan Mama memang benar adanya. Om Hansel ada untuk melindungi aku dari Papanya yang kejam itu,” Jessica membatin.
...
Hansel baru saja keluar dari kamarnya saat sore menjelang. Lelaki itu langsung berjalan menuju kamar Jessica. Ia mengetuk pintu kamar Jessica beberapa kali. Namun, tidak ada jawaban dari dalam sana.
“Cari Jessica?” tanya Maura yang tiba-tiba saja berada di belakang Hansel.
Hansel langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadap Maura. “Ke mana dia?” tanya Hansel.
“Pantai,” jawab Maura apa adanya.
“Sama siapa?” tanya Hansel lagi.
“Sendirian,” jawab Maura.
“Maura!” bentak Hansel.
“Gue sudah suruh orang untuk memantau Jessica dari jauh. Gue tahu dan gue paham perasaan dia sekarang. Mungkin, ini juga jawaban jelasnya – kenapa dia sedari kemarin terus menghindar dari elo,” tutur Maura panjang lebar.
“Lalu, apa reaksinya?” tanya Hansel yang tiba-tiba merubah nada bicaranya. Yang tadinya ia berbicara dengan begitu lantang, kini ia berbicara dengan begitu lemah.
“Gue katakan semuanya, bahwa elo sendiri pun enggak suka dengan sikap Papa elo. Dia kelihatannya percaya sama gue dan gue harap dia memang percaya dengan kenyataan ini,” sahut Maura.
“Bahkan, kalau Papa gua mau nyawa gua, akan gua berikan, Ra. Asalkan, dia enggak usik kehidupan Jessica lagi,” ucap Hansel kemudian ia pergi dari hadapan Maura.
Hansel pergi bukan tanpa tujuan, melainkan ia pergi mencari di mana Jessica berada.
Hanya dengan berjalan kaki selama kurang-lebih 15 menit, Hansel sampai di sebuah pantai. Ia dengan mudahnya mendapati Jessica yang duduk di atas pasir. Gadis itu nampak termenung sendirian.
Diam-diam, Hansel duduk di samping Jessica. Jessica yang tahu bahwa Hansel sudah berada di sampingnya, ia pun menyenderkan kepalanya di bahu Hansel. Isakan tangisnya mulai terdengar begitu memilukan.
“Gua juga enggak menyangka kalau bokap gua sejahat ini, Jes. Tapi, satu hal yang harus elo ingat – bahwa gua akan terus menjadi pelindung elo,” ucap Hansel.
Jessica tidak menjawab ucapan Hansel meski ia mendengarnya dengan sangat jelas. Rasa sesak did*danya semakin terasa ketika ia mengingat kembali saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kejamnya ayah Hansel ketika menghabisi kedua orangtuanya.
“Enggak apa-apa. Lepaskan aja semuanya,” ucap Hansel dengan suaranya yang terdengar pelan.
...
Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di Bali, malam ini mereka berempat kembali ke Jakarta. Bukan hanya karena Jessica harus masuk kuliah lagi, melainkan juga karena pekerjaan Mike dan Hansel yang sudah menunggu.
“Mobil aku jadinya dikirim lewat ekspedisi, ‘kan?” tanya Jessica sembari menatap Mike.
“Iya, Jes. Kayaknya dari perjalanan kita ke sini sampai hari ini kamu tanyakan itu terus,” sahut Mike.
“Aku sudah enggak sabar mau ke kampus pakai mobil yang itu, Pa,” ucap Jessica lagi.
“Bukannya merk-nya sama, ya?” tanya Maura.
“Merk-nya sama, cuman...” Jessica dengan sengaja memotong ucapannya.
“Cuman apa?” tanya Mike dan Maura secara berbarengan.
“Ada sedikit perbedaan,” jawab Jessica kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
“Eh, jangan pergi dulu,” cegat Maura. “Perbedaannya di mana?” tanyanya.
“Mobil pemberian Kak Sandra sepertinya sudah sedikit dimodifikasi. Biasanya aku bawa 60 meter perjam enggak sekencang itu lajunya,” jelas Jessica. “Aku berangkat,” pamitnya yang kemudian menyalami Mike dan Maura secara bergantian sebelum ia pergi ke kampus.
Baru saja Jessica melajukan mobilnya meninggalkan area komplek, ia sudah mendapati sebuah mobil yang terlihat sedang mengikutinya. Jessica sendiri pun merasa asing dengan mobil yang ada di belakangnya itu.
Namun, gadis ini malah berprasangka baik. Bahwa mungkin hanya perasaannya saja bahwa mobil itu mengikutinya.
“Coba aja aku enggak kuliah, aku ajak balapan kamu,” gumam Jessica sembari sesekali menoleh ke arah kaca spionnya.
Bahkan, saat Jessica memarkirkan mobilnya di area parkir kampus, mobil itu juga ikut parkir tepat di samping mobil miliknya dan saat Jessica keluar dari mobilnya, pengemudi mobil yang sedari tadi mengikutinya itu juga ikut keluar dari dalam mobil miliknya.
Jessica terperanjat kaget ketika ia mendapati bahwa ternyata pengemudinya adalah Hansel.
“Kenapa ekspresinya begitu?” heran Hansel sembari melepas kacamata hitamnya.
“Aku pikir tadi siapa. Ngikutin aku dari depan komplek,” sahut Jessica. “Mobil siapa, Om? Baru nih,” ucap Jessica sembari menaik-turunkan alisnya.
“Mobil lama, hanya jarang gua pakai,” sahut Hansel. “Dan ingat, ini area kampus. Jangan panggil saya dengan sebutan itu,” ucapnya lagi kemudian ia pergi dari hadapan Jessica.
“Ternyata kamu benar-benar menepati ucapan kamu. Bahwa kamu akan menjagaku,” Jessica membatin sembari tersenyum menatap punggung Hansel yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Harapan Jessica hanya satu, yakni ia hanya ingin orang-orang yang baik padanya tidak akan pernah melukainya secara diam-diam.
To Be Continued...