4 unit mobil melaju dengan begitu kencang. Sorakan dari penonton terdengar riuh. Sedangkan Mike, Maura dan Sandra terheran dengan hal ini.
Sebab, Sandra hanya menyediakan 3 unit mobil untuk sekali putaran.
“Bukannya hanya boleh 3 unit saja?” heran Maura.
“Jangan ditanya siapa yang terakhir tadi, Ra,” timpal Mike.
“Hansel?” Maura menebak dan mendapatkan jawaban dari anggukan kepala oleh Mike.
“Aku tahu niat baik Hansel, Ra,” ucap Mike.
Maura pun mengangguk paham.
...
Sementara itu, Jessica sesekali melirik ke kaca spionnya. Ia tahu bahwa Hansel ada di belakangnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu meninggikan laju mobilnya sampai ia bisa menyalip satu orang di depannya.
“Lihat aja, aku akan membuktikan kalau aku bisa,” Jessica berucap sembari menyeringai tajam.
Jessica benar-benar berpegangan pada omongannya sendiri. Gadis itu berhasil sampai di garis start sebagai mobil pertama.
Raut wajahnya nampak begitu senang. Bukan hanya karena ia berhasil memenangkan taruhannya dengan Sandra, melainkan juga karena ia senang sudah bisa memenangkan balapan pertamanya.
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir, Jessica pun berjalan menghampiri Mike, Maura dan Sandra.
“Jadi, mobilnya buat aku, ‘kan?” tanya Jessica yang tidak bisa memudarkan senyumannya.
“Iya, Jes. Sesuai janji aku,” sahut Sandra.
“Enak banget jadi Jessica ya. Modal bisa balapan doang dapat mobil sport loh,” ucap Hansel yang baru saja bergabung dengan mereka.
“Dari mana saja, Om? Baru ngumpul sama Mama dan Papa aku?” tanya Jessica sembari menaikkan alis sebelah kanannya.
“Kamu enggak tahu kalau Hansel ikut balapan tadi?” tanya Sandra.
“Jadi peserta gelap dia,” timpal Maura.
Jessica tentu saja ia hanya terkekeh. Gadis itu tahu apa jawabannya. Namun, ia berusaha untuk menutupinya dan mengikuti apa skenario yang dibuat oleh Hansel.
“Mau sampai kapan begini terus?” Jessica membatin.
...
“Ingat, jangan sampai kalian salah sasaran dan malah melukai anak saya,” lelaki itu berbicara dengan tegasnya sembari menatap 3 orang pria berbadan tegap di hadapannya.
“Tapi, Boss. Sepertinya misi kita kali ini akan sedikit sulit dan akan memakan banyak waktu. Tuan muda Hansel selalu berada dekat dengan target kita,” sahut salah satunya.
“Selambat-lambatnya asalkan misi kita kali ini selesai,” tegas lelaki itu lagi.
...
Tepat pada pukul 12 malam, Jessica keluar dari kamarnya. Gadis itu berjalan menuju balkon kamarnya dan duduk di ubin yang dingin karena sudah terlalu sering terkena angin yang berembus dari luar.
Gadis itu tidak merasa kedinginan padahal ia mengenakan piyama pendek. Kakinya ia naikkan agar sejajar dengan tubuhnya – ia memeluk kaki panjangnya itu. Matanya ia fokuskan ke laut yang ada di hadapannya.
Pemandangan laut yang hanya terlihat dengan cahaya bulan itu dinikmati Jessica bersama dengan lamunannya.
Namun, lamunanya itu mendadak buyar saat terdengar bunyi tembakan yang begitu kencang. Untungnya, peluru panas itu hanya mengenai tembok dan tidak mengenai gadis ini sama sekali.
Jessica juga dikejutkan dengan kedatangan beberapa anak buah Mike yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya. Setelah beberapa saat, Mike, Maura dan juga Hansel masuk ke kamar Jessica.
“Ada apa, Jes?” tanya Maura yang nampak khawatir dengan anaknya itu.
“Tadi aku cuman berdiri di sini dan tiba-tiba saja ada menembak,” jawab Jessica.
“CCTV yang ada di sini sudah dimanipulasi, Boss. Tapi, dari CCTV depan nampak jelas bahwa ada beberapa orang yang terlihat mencurigakan,” ucap salah seorang anak buah Mike.
“Ayok kita periksa siapa dia,” ucap Mike kemudian ia berjalan memasuki kamar Jessica. Karena saat ini mereka semua masih berdiri di balkon yang terhubung dengan kamar tidur Jessica.
Tidak salah lagi, pelakunya adalah salah satu dari anak buah Papanya Hansel. Hansel yang tahu pun ia segera pergi membawa ponselnya.
“Om Hansel mau ke mana?” tanya Jessica.
Namun, pertanyaan Jessica itu diabaikan oleh Hansel.
“Biarkan saja, Jes. Lebih baik kamu ke kamar sekarang. Ini sudah larut malam. Enggak baik kalau begadang,” ucap Mike.
“Om Hansel mau telfon papanya atau mau hampiri papanya?” tanya Jessica dengan lantang.
Seketika itu juga, Mike dan Maura langsung menatap ke arah Jessica. Sepasang suami-istri itu nampak heran dengan pertanyaan yang Jessica lontarkan kepada mereka.
Jessica yang tadinya menatap lantai, kini tatapannya beralih ke Mike dan Maura yang juga menatapnya. “Kenapa diam?” tanyanya. “Aku tahu siapa Papanya Om Hansel,” ungkapnya.
“Kamu tahu dari mana, Jes?” tanya Maura dengan suaranya yang terdengar pelan.
“Saat Om Hansel sakit dan saat kita ke rumahnya. Tiba-tiba saja aku dapat chat yang berisi foto Om Hansel selagi masih SMA bersama dengan seorang pria dewasa di sampingnya,” ungkap Jessica.
“Kamu tahu siapa papanya Hansel?” kali ini, Mike lah yang melontarkan pertanyaan kepada Jessica.
Mata Jessica nampak memerah, kedua tangannya mengepal dengan kuat. Kemudian ia berkata “Dia lah yang membuat aku harus kehilangan orang yang aku sayang.”
Setelah itu, Jessica langsung pergi memasuki kamarnya kembali. Gadis itu mengunci pintu kamarnya. Tangis yang sejak tadi ia tahan, kini tumpah sudah. Amarah benar-benar meliputi hatinya.
...
Hansel memasuki mobilnya namun ia tidak melajukan mobilnya itu. Melainkan, lelaki itu hanya butuh ruang sendiri untuk berbicara dengan papanya walau hanya melalui sambungan telfon saja.
[In Call]
“Hallo.”
“Kenapa, Sel? Tumben kamu telfon Papa.”
“Jangan kira aku enggak tahu apa yang sudah Papa lakukan terhadap Jessica.”
“Itu hanya sedikit peringatan, Sel. Lagian, banyak gadis cantik di muka bumi ini. Kamu juga cukup tampan dan pastinya enggak akan kesusahan untuk mendapatkan seorang gadis cantik. Lalu, kenapa kamu malah memilih dia?”
“Anda tahu bagaimana mencintai seseorang, tanpa memandang fisiknya?”
Hening, tidak ada jawaban lagi dari sebrang sana. Hingga membuat Hansel muak dan ia mematikan sambungan telfonnya.
Hansel tidak langsung keluar dari dalam mobilnya. Ia memilih untuk berdiam di sana sampai merasa sedikit tenang.
Namun, rupanya ketenangan itu membutuhkan waktu yang lama baginya. Bahkan sampai terik matahari mulai terlihat, ia masih duduk diam di dalam mobilnya. Matanya sudah nampak begitu lelah dan meminta untuk istirahat. Tapi empunya masih memaksa untuk bertahan.
TOK! TOK! TOK!
Jendela kaca mobil Hansel diketuk dengan kencang oleh Mike. “Keluar,” ucapnya.
Dengan berat hati, Hansel pun membuka pintu mobil dan keluar.
“Ada apa?” tanya Hansel.
“B*D*H!” kesal Mike.
“Apa sih?” tanya Hansel lagi.
“Lo tahu kalau semuanya bukan salah elo, Sel. Tapi, kenapa sekarang elo malah menghukum diri elo sendiri? Hah?!”
To Be Continued...