Ziyad mengusap-usap rambut Aira. Pandangan matanya lembut dan teduh. Berbeda dengan pandangan Aira yang masih penuh dengan kecurigaan. “Atau…” pria itu menarik napas panjang, “kamu tidak ingin menikah denganku? Kami boleh berkata jujur padaku, kalau kamu memang tidak menyukaiku, aku ikhlas, aku akan menceraikanmu hari ini juga.” Mendengar itu justru wajah ibunya Aira yang memucat. “Jangan!” Seru Aira tiba-tiba. “Aku, aku .. aku !”, kata gadis itu terbata-bata, tapi tidak melanjutkan perkataannya. ‘aku mencintaimu… tapi aku malu dan aku tidak siap’. Aira hanya bisa menyebutkannya dalam hati.. “Kenapa tidak dilanjutkan?” tanya Ziyad. Aira memonyongkan bibirnya, “Kenapa harus diam-diam di belakangku, ini seperti prank...” “Jadi kamu mau menerimaku?” “Tentu.. Do i have a choice?” j

