24. Semakin Merasa Aneh

1160 Words
"Nomor siapa ini? Angkat apa nggak, ya?" gumam Darren sembari menatap heran layar ponselnya. Karena terlalu lama berpikir, membuat deringan itu terhenti. Darren kembali meletakkan ponselnya di ranjang dan meneguk habis kaleng bir ketiga. Rasa panas mulai menjalar ke seluruh tubuh, dan dia memutuskan untuk mandi sebelum tidur. Ponselnya kembali berdering ketika Darren selesai berpakaian. Dia duduk di tepi ranjang, dahinya kembali berkerut saat melihat nomor yang tak dia kenal itu kembali menghubunginya. Dengan satu gerakan cepat, Darren menerima panggilan itu. "Selamat malam bisa bicara dengan orang tuanya Adelia ..." Darren hanya dapat menampilkan raut wajah bingung karena sang penelepon berbicara hal yang tak dia mengerti. "Maaf. Anda salah sambung," ucap Darren yang langsung memutuskan sambungan telepon itu. Dia melempar kasar ponselnya ke ranjang, merasa kesal dengan telepon spam itu. Tak lama Darren merebahkan tubuh dan terlelap sampai pagi. *** Sekujur tubuh Darren terasa pegal begitu dia membuka mata, rasa pusing efek bir yang dia minum masih terasa. Namun pria itu memaksa tubuhnya untuk bangkit dari tempat tidur. Setelah berusaha beberapa saat, akhirnya Darren berhasil lepas dari ranjang yang seakan terbuat dari magnet itu. Tak lama kemudian, Fanny masuk dan segera membuka gorden dan pintu balkon, membiarkan udara segar pagi hari memasuki kamar sang putra. "Cepat mandi kalau udah merasa segar," ucap Fanny yang kini menghadap Darren. "Bunda tumben masuk ke kamarku," sahut Darren yang sedang meregangkan tubuhnya. "Bunda tiap hari juga masuk ke kamar kamu, cuma biasanya agak siangan, tunggu kamu pergi," jawab Fanny yang mulai menyalakan vaccum portabel-nya. Darren mengangguk paham dan segera menuju ke kamar mandi, saat mengingat tentang pekerjaan yang menumpuk membuat Darren seketika teringat akan Cecilia. Dia sama sekali belum menjenguk Cecilia sejak awal gadis itu dirawat, dan hari ini Darren harus meluangkan waktu untuk menjenguk Cecilia. Fanny sudah keluar dari kamarnya ketika Darren menyelesaikan mandinya, hembusan napas lega keluar dari bibir pria berusia 26 tahun itu. Saat ini dia hanya memakai kimono handuk, dan merasa canggung jika harus berganti pakaian di depan sang ibu. Darren membuka lemari pakaian, dan memilih kemeja berwarna navy, kali ini tanpa memakai vest seperti yang biasa dia kenakan. Beberapa menit kemudian, Darren sudah bergabung di meja makan dengan Giovanni dan Fanny. Saat melihat raut wajah sang ayah yang tenang, membuat Darren paham jika Fanny tidak memberitahu Giovanni jika dia hampir dibegal kemarin malam. "Pagi, Yah, Bun," sapa Darren begitu duduk. "Pagi. Kamu kelihatannya pucat, apa kamu kurang tidur?" tanya Giovanni saat melihat wajah sang putra. "Aku bertengkar dengan pacarku dan pekerjaanku numpuk karena Cecilia sakit." Giovanni mengangguk pelan, dia menyisipkan sepotong roti ke mulutnya tanpa banyak bertanya lagi. Dia tahu putranya sudah dewasa, punya beban yang tidak selalu bisa dibagikan di meja makan pagi-pagi begini. "Jangan terlalu dipaksakan. Pekerjaan bisa dikejar, tapi kalau badanmu tumbang, Cecilia malah makin repot nanti begitu dia keluar dari rumah sakit." Darren hanya mengangguk saat Giovanni memberi nasihat. Terdorong rasa penasaran membuatnya memperhatikan sang ayah dengan tidak kentara. 'Tidak ada yang aneh,' batin Darren setelah selesai mengamati Giovanni. Akan tetapi, saat Darren akan mengambil selai kacang di depan Giovanni, dia baru menyadari jika terdapat beberapa bekas suntikan di punggung tangan sang ayah. Pikiran Darren langsung tertuju pada ucapan Morgan jika bertemu dengan kedua orang tuanya di rumah sakit, di mana wajah Giovanni terlihat sangat pucat. Rasa bersalah seketika mencubit relung hatinya. Bagaimana jika seandainya penyakit Giovanni jauh lebih parah daripada kelihatannya? Mungkin nanti dia harus bertanya kepada Morgan di rumah sakit mana, sang sepupu melihat kedua orang tuanya. Akhirnya Darren buru-buru menyelesaikan sarapannya, karena tak ingin rasa tak nyaman pada hatinya semakin membesar. "Ayah, Bunda. Aku pergi ke kantor, ya." Setelah berpamitan, Darren langsung meninggalkan ruang makan tanpa memedulikan Giovanni yang menatapnya aneh. Darren segera memesan taksi online, untuk menuju kantor sebab Morgan belum mengantarkan mobilnya. Sebenarnya Darren masih memiliki dua mobil lainnya, tapi dia terlalu malas mengemudi, efek kejar-kejaran dengan pembegal tadi malam. Sopir yang ditugaskan mengendarai mobilnya pun kebetulan sedang pulang kampung karena istrinya akan melahirkan dalam minggu-minggu ini. Saat menunggu mobil lagi-lagi ingatan Darren terlempar pada pertemuan pertama dirinya dan Cecilia. Di mana pertemuan mereka dimulai oleh pertengkaran karena motor gadis itu tertabrak oleh taksi yang ditumpanginya. "Semoga aja nggak ada Cecilia Cecilia lainnya," gumam Darren yang kini keluar dari kediaman Giovanni karena mobil yang di pesannya sudah tiba Perjalanan pagi itu memakan waktu 40 menit, sepuluh menit lebih lama karena padatnya lalu lintas di mana-mana. Peluh bercucuran dari sela pori-pori tubuh Darren karena udara pagi ini sangat bertolak belakang pada malam hari yang dingin. Dia bersyukur karena tidak memakai pakaian dua lapis yang pastinya memperparah rasa panas yang dirasakan. Begitu memasuki ruangan, Darren tak langsung menyalakan laptopnya, tapi malah menatap ponsel yang sejak tadi dia pegang. Entah mengapa Darren ingin segera menemui Cecilia, bukannya Khatleen yang jelas-jelas adalah kekasihnya. Lagipula gadis yang berstatus sebagai kekasihnya masih merajuk padanya. "Ayo selesaikan pekerjaan ini sebelum makan siang lalu menjenguk Cecilia terus ke tempat Khatleen." Monolog Darren menyemangati diri sendiri. Saat sedang fokus pada pekerjaannya, terdengar suara ketukan pintu dan Deren mempersilahkan orang yang ada di baliknya untuk masuk. "Permisi, Pak. Di luar ada Pak Morgan, katanya katanya mau mengembalikan mobil." Setelah mengatakan itu, orang yang memandu Morgan segera meninggalkan sepasang sepupu itu. Jelas tak mau terjebak dalam perdebatan yang tak penting. "Bagaimana keadaanmu, Bro?" tanya Morgan yang segera menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Darren. Wajah Morgan kembali dipenuhi oleh ejekan dan aura persaingan, membuat Darren mengembuskan napas panjang. "Seperti yang kamu lihat," jawab Darren dengan ketus. "Kamu itu bipolar, ya? Kemarin membutuhkanku, sekarang malah sinis sama aku," ejek Morgan yang semakin membuat penat kepala Darren. "Justru kamu yang bipolar. Apa-apaan sikapmu yang berubah 180 derajat dari kemarin malam?" tanya Darren yang kini menatap serius Morgan. "Soal kemarin anggap saja aku membantu adik kecilku yang sedang dalam kesusahan. Lagipula aku nggak mau ada orang lain yang mengganggumu selain aku." Tak ayal jawaban Morgan membuat Darren semakin kesal. Keheningan pun meliputi ruangan itu karena Darren tak berniat membalas ucapan sang sepupu, sampai Morgan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan menyadari jika Cecilia tak berada di ruangan itu. "Cecilia masih sakit, ya?" tanya Morgan basa-basi. "Iya dan aku mau jenguk dia setelah makan siang," jawab Darren yang kini fokus pada laptopnya. Morgan menaikkan sebelah alisnya, senyum miring terukir di wajahnya. "Oh, jadi bos teladan ini akhirnya mau meluangkan waktu untuk sekretarisnya? Kupikir kamu terlalu sibuk mengurusi pacarmu yang manja itu." Darren tidak menyahut. Jemarinya masih menari di atas keyboard, meski sebenarnya fokusnya sudah pecah. Ucapan Morgan tentang Giovanni di rumah sakit terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. "Morgan," panggil Darren tiba-tiba, suaranya merendah "Waktu itu di rumah sakit mana kamu lihat orang tuaku?" Seketika, raut wajah Morgan yang penuh ejekan berubah sedikit lebih serius. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di d**a. "Kenapa? Apa kamu baru memikirkan ucapanku sekarang kalau ada sesuatu yang nggak beres sama Om Giovanni." "Jawab saja." "Rumah Sakit Medika Utama," jawab Morgan lugas. "Bukan di rumah sakit Shivalaya tempat Ayah kemarin diopname?" tanya Darren dengan raut wajah heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD