"Iya. Bukan di rumah sakit Shivalaya. Waktu itu wajah Om Gio juga kelihatan pucat banget. Bahkan wajah Tante Fanny kelihatan sangat tegang." Darren tertegun. Bekas suntikan di tangan ayahnya tadi pagi seolah terproyeksi kembali di depan matanya. Rasa pening di kepalanya yang belum hilang kini kian dahsyat, akibat alkohol semalam dan beban pikiran yang menghimpit d**a. "Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" gumam Darren lebih kepada dirinya sendiri. "Masa tanya aku?" tanya Morgan dengan nada mengejek. Morgan lalu berdiri, meletakkan kunci mobil Darren di atas meja dengan bunyi klunting yang nyaring. "Mobilmu sudah ada di parkiran. Jangan sampai kena begal lagi." Setelah Morgan keluar, ruangan itu kembali sunyi. Darren mencoba kembali fokus pada laporan di depannya. Namun pikirannya

