7. Hubungan Terlarang

1248 Words
Pentagon melepaskan tangan Cesya dengan kasar sambil menatap gadis itu dingin. Ia kecewa karena kekhawatirannya telah dipermainkan begitu saja oleh Gadis itu. "Aww ..." pekik Cesya merasakan nyeri di bagian pergelangan tangannya. "Ada apa lagi?" "Kau tiup saja sendiri," ketus Pentagon. "Bukankah kau bilang ingin membawaku berobat. Lalu, kenapa kau berubah seperti ini? Apa aku harus ke rumah sakit agar kau kembali khawatir padaku?" tanya Cesya bingung dengan perubahan sikap Pentagon. "Aku tahu kau hanya berpura-pura demi merebut perhatianku," sergah Pentagon. "Aku memang ingin merebut perhatianmu. Tapi, tanganku benar-benar sakit, Penta. Kau bisa lihat sendiri bukan bagaimana kondisi pergelangan tanganku yang memerah?" Cesya berusaha menjelaskan bahwa ia tidak berpura-pura sakit dan memang benar-benar sakit. "Maaf, aku tidak bisa percaya padamu begitu saja," balas Pentagon. "Tidak masalah. Lagi pula, tidak ada untungnya bagimu jika mempercayaiku. Kalau begitu, pertemuan kita kali ini cukup sampai di sini saja dulu. Besok atau lusa aku akan mengunjungimu lagi," ujar Cesya memilih untuk pergi daripada tetap bertahan di sana dengan suasana hati Pentagon yang buruk. Cesya pergi sambil menekan luka di pergelangan tangannya. Rasanya akan terasa lebih nyaman jika sedikit ditekan dengan gerakan memijat. "Kakek, Bibi, Cesya pamit pulang dulu, yah? Lain kali Cesya ke sini lagi untuk makan siang bersama," pamit Cesya. "Hati-hati di jalan," balas Rinda. "Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau berubah murung seperti itu?" tanya Kakek Candramawa. "Tidak apa-apa, Kek. Cesya hanya ingin pulang saja karena Papa sudah menunggu di rumah," jawab Cesya beralasan. "Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan," ujar Kakek Candramawa. "Iya, Kek, Bi." Sampai di depan pintu masuk, Cesya tidak mendapati Shalom dan Kanagara di sana. Padahal, ia sudah ingin sekali pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan pergelangan tangannya. "Kau dan Tuan kejam ada di mana? Aku mau pulang tapi kau tidak ada di sini. Karena aku terburu-buru harus pergi ke rumah sakit. Jadi, aku mengirimkan pesan ini sebelum aku pergi." "Aku harap tulangku hanya sedikit bergeser. Tapi, ini sakit sekali," gumam Cesya. Ia bingung dengan lukanya itu. Bagaimana bisa ketika di hadapan Pentagon rasanya hanya sedikit nyeri? Namun, ketika jauh dari pria itu, rasanya sangat-sangat sakit. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini. Yang ada aku hanya akan menimbulkan kecelakaan lain selain pergelangan tanganku yang akan semakin terluka," desis Cesya. Karena tidak bisa mengendarai mobil sendiri. Cesya memutuskan untuk memesan taksi dan meninggalkan mobilnya di kediaman Candramawa. Setelah taksi datang, gadis itu lekas mengirim pesan pada sahabatnya, Shalom. "Aku meninggalkan mobilku di sini karena aku tidak bisa mengemudi." Hingga satu jam berlalu, Shalom tak kunjung membalas pesan Cesya. Entah apa yang sedang gadis itu lakukan bersama kekasihnya. "Jadi, apa pergelangan tangan saya baik-baik saja, Dok?" tanya Cesya pada dokter yang saat ini sedang memeriksa pergelangan tangannya. "Iya. Pergelangan tangan Nona hanya terkilir saja dan tidak perlu dirawat," jawab Dokter Ortopedi setelah melakukan tes pemeriksaan. "Awww ... Pelan-pelan, Dok." Cesya memekik kesakitan ketika dokter itu sedang memperbaiki pergeseran di pergelangan tangannya, "Jadi, setelah ini saya bisa langsung pulang, Dok?" tambah Cesya lagi. "Tentu saja." "Tapi ya, Dok. Sebenarnya Dokter ini tukang urut atau dokter? Kenapa alih-alih mengobati pergelangan tangan saya malah Dokter mengurutnya?" tanya Cesya setengah berbisik. Dokter tampan berusia sekitar pertengahan tiga puluh itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Cesya. "Memangnya dokter tidak boleh mengurut pasien yang terkilir? Lagi pula saya ini dokter ortopedi. Jadi, saya ini khusus menangani pasien yang bermasalah dengan tulang, sendi, tendon, otot, dan saraf," jelas Dokter Ortopedi. Ini pertama kalinya ia dibuat tertawa oleh seorang pasien. Terlebih, pasiennya masih sangat muda, cantik, dan segar. "Oh, seperti itu. Maaf, Dok. Saya ini buta masalah kedokteran. Saya hanya gadis malas yang memilih menjadi pengangguran," bisik Cesya tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya. "Kenapa Nona memilih menjadi pengangguran?" tanya Dokter Ortopedi. "Jadi, begini ... Ah, tunggu!" Cesya memeriksa name tag di snelli yang dokter itu kenakan, "Saya sedang mengejar seseorang, Dokter Reksa. Jadi, sebelum saya disibukkan dengan pekerjaan saya nanti. Saya memutuskan untuk merebut hatinya lebih dulu." Masih dengan suara berbisik, Cesya bertanya "Apa Dokter bersedia?" "Bersedia apa?" tanya Dokter Ortopedi tidak mengerti. "Ah, Dokter ini polos sekali." Cesya mendekat ke arah telinga dokter itu, "Dokter Reksa tampan sekali. Apa Dokter sudah memiliki kekasih atau sudah menikah?" bisik Cesya tersenyum menggoda. "Jangan bercanda, Nona. Dan sekarang, sudah selesai," balas Dokter Ortopedi. Entah dokter itu menanggapinya dengan serius tapi berpura-pura tidak menanggapi. Atau memang benar-benar tidak mempercayai kata-kata gombalan Cesya. "Lain kali kalau kita bertemu lagi, kita harus makan siang bersama. Ingat, namaku Putri!" bohong Cesya. Sebenarnya ia tidak benar-benar berbohong karena putri merupakan nama tengahnya. Dan apa yang baru saja ia lakukan pada dokter itu hanya sebuah keisengan belaka. Ia merasa perlu menghibur diri setelah kejadian yang menimpanya bersama Pentagon. Ponsel Cesya tiba-tiba berdering dan setelah melihat layar ponselnya, Cesya melihat nama Shalom terpampang jelas di sana. "Apa yang kalian lakukan sampai-sampai tidak membalas pesanku? Kalian itu belum menikah. Jadi, jangan coba-coba untuk melakukan hubungan terlarang." "Apa yang kau katakan, Sya? Aku tidak melakukan apa-apa. Kami hanya sedang membaca novel romantis saja di kamarku." "Jangan bohong, Shalom! Aku tahu seberapa mesumnya Tuan Kejam. Aku tahu kau terkena bujuk rayunya dan jatuh ke dalam jebakannya." "Hei, apa yang kau katakan?!" murka Kanagara. "Sorry, Tuan kejam. Aku hanya mengatakan fakta dan kau tidak perlu marah." "Sudah, sudah. Tadi itu Tuan kejam menyita ponselku dan kami sibuk membaca novel. Jadi, tidak tahu kalau kau beberapa kali mengirim pesan. Dan, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau tidak bisa mengemudikan mobilmu sendiri? Dan satu hal lagi, kenapa kau pergi ke rumah sakit?" Shalom menjelaskan dan bertanya alasan dari isi pesan yang Cesya kirimkan padanya. "Pergelangan tanganku terkilir. Jadi, aku tidak bisa mengemudi. Dan jadinya lagi, aku titip mobilku di sana. Mungkin dua atau tiga hari ke depan aku tidak akan datang ke sana. Aku ingin fokus penyembuhan." "Tapi, kenapa pergelangan tanganmu sampai terkilir?" "Tadi itu, aku dan Penta memainkan permainan petak umpet. Dan tidak sengaja, aku terjatuh." "Kalian berdua ini ada-ada saja. Ya sudah, lebih baik kau istirahat saja agar pergelangan tanganmu cepat pulih. Setelah itu, kau boleh datang ke sini lagi untuk merebut hati Penta." "Baiklah. Aku juga harus pulang sekarang." "Cesya? Apa yang kau lakukan di sini?" Terdengar suara seorang gadis memanggil Cesya. "Jennifer? Ah, ini. Tanganku terkilir dan aku baru selesai memeriksakan ke dokter. Dan kau? Sedang apa kau di sini?" Cesya balik bertanya pada temannya di universitas. Sebenarnya, Jennifer merupakan adik kelasnya. Mereka beberapa kali dipertemukan dalam ketidaksengajaan. "Oh gitu. Aku sedang menemani Reina, ibunya mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dioperasi," sahut Jennifer. "Ya Tuhan! Kasihan sekali Reina. Sekarang dia ada di mana? Aku mau bertemu dia sebentar sebelum pulang," ujar Cesya terkejut. Ia ingin menemui Reina sekedar untuk memberi semangat. Karena gadis itu merupakan adik kelasnya yang bekerja di cafe tempat di mana Cesya dan Shalom sering menghabiskan waktu bersama. "Lain kali saja. Sekarang ada Jonathan di sisinya dan kau tahu bukan kalau Jonathan sedang masa pendekatan. Aku saja sengaja menjauh memberi mereka waktu untuk berduaan. Jadi, jangan ganggu mereka dan kau bisa menemui Reina besok," jelas Jennifer tidak ingin ada yang menggangu proses pendekatan kembarannya. "Baiklah, baiklah. Kalau begitu, aku pulang saja. Aku titip saja buat Reina," pamit Cesya. Sementara di kediaman Candramawa. Shalom dan Kanagara sedang berjalan menyusuri lorong di mana kamar Shalom berada. Sampai di ruang tamu, Shalom berniat untuk membuatkan Kanagara minum. Lalu, ia tidak sengaja bertemu dengan Pentagon dan menanyakan perihal Cesya. "Apa yang kalian lakukan hingga membuat pergelangan tangan Cesya terluka?" tanya Shalom pada Pentagon yang sedang menuang air dingin ke gelas kosong miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD