8. Jangan Khawatir

1413 Words
Pentagon menoleh ke arah Shalom dengan mata terbelalak. Jantungnya berdegup kencang memikirkan tentang Cesya jika benar-benar terluka. Bahkan, air di gelas yang terus dituang pun sampai tumpah ke mana-mana. "Astaga!" Pentagon bergegas meletakkan gelas dan botol minum di meja. Lalu, ia mengambil kain pel untuk mengelap air yang tumpah membasahi lantai. "Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Penta? Kau bahkan tidak tahu air di gelas sudah penuh," tanya shalom melihat keanehan dalam diri pengawal pribadinya itu. "Saya tidak memikirkan apa-apa, Nona. Oh, iya. Memangnya Pergelangan tangan Nona Cesya kenapa, Nona?" tanya Pentagon berpura-pura tidak tahu. "Kau tidak tahu kalau pergelangan Cesya terluka ketika bermain petak umpet denganmu?" tanya Shalom terbelalak. "Petak umpet? Kami tidak bermain petak umpet. Tapi, memangnya apa yang Nona Cesya katakan pada Nona Shalom?" Setiap pertanyaan belum terjawab dan sekarang Pentagon justru bertanya lagi. "Cesya bilang pergelangan tangannya terluka ketika sedang bermain petak umpet denganmu. Karena itu, Cesya meninggalkan mobilnya di sini dan pergi ke rumah sakit. Mungkin karena tidak menyetir sendiri dan memilih memesan taksi.Dan mungkin, beberapa hari ini dia tidak akan datang ke sini. Aku tahu Paman Adhiyaksa tidak akan membiarkan putri semata wayangnya yang sangat dicintai itu terluka," jelas Shalom panjang lebar. "Aku pikir Nona Cesya tidak benar-benar terluka," gumam Pentagon merasa sangat bersalah. "Jadi, kau tahu?" tanya Shalom. "Ah, tidak, Nona," elak Pentagon. Melihat bagaimana ekspresi wajah Pentagon yang berubah drastis membuat Shalom curiga. "Mungkin Cesya tidak ingin kau khawatir makanya tidak mengatakannya padamu. Dia itu tipe gadis yang selalu menyembunyikan rasa sakitnya. Terlebih di depan orang yang dia sayangi. Hal itu dia lakukan karena tidak ingin mereka mengkhawatirkannya," ujar Shalom. "Iya, Nona," balas Pentagon. "Lain kali, bersikaplah lebih lembut sedikit pada Cesya. Dia itu sahabat terbaikku selagi aku susah maupun senang. Aku yakin kau tidak akan menyesal jika memilih gadis seperti Cesya untuk menyembuhkan luka di hatimu karena aku." Shalom tidak ingin Cesya terluka dan tidak ingin Pentagon semakin berlama-lama meratapi luka hati karena mencintainya, "Kalau begitu, aku pergi dulu," imbuh Shalom beranjak pergi. Sepeninggalnya Shalom di dapur, Pentagon termangu. Mengusap-usap gelas dengan pikiran yang entah ke mana. Mungkin membayangkan bagaimana ekspresi Cesya ketika memekik kesakitan karena ulahnya beberapa jam yang lalu. "Kenapa harus meminta obat seperti itu dariku? Kenapa tidak minta dibawa ke rumah sakit saja?" tanya Pentagon pada dirinya sendiri. Jika saja Cesya memintanya untuk membawanya ke rumah sakit alih-alih memintanya meniup dan mengecup pergelangan tangannya sebagai obat. Mungkin ia tidak akan marah dan salah paham kalau Cesya hanya berpura-pura sakit. Pria itu menghela nafas panjang. "Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku telepon saja Cesya dan meminta maaf?" batin Pentagon berkecamuk. "Tapi, bagaimana caraku menghubunginya sedangkan aku tidak memiliki nomor teleponnya," tambahnya lagi. Daripada pusing memikirkan Cesya, Pentagon lebih memilih untuk menghubungi anak buahnya. Ia ingin tahu kabar mengenai perkembangan pencarian dalang siapa di balik pembunuhan keluarganya. "Apa ada kemajuan?" "Sejauh ini belum ada, Bos. Tapi, kami sedang berusaha semaksimal mungkin agar cepat menemukannya." "Baiklah. Lanjutkan pencarian dan usahakan agar tidak ada yang curiga dari pihak musuh." Pentagon takut pergerakannya terbaca oleh musuh. Ia tidak ingin mereka mengetahui pencariannya sebelum ia tahu siapa sebenarnya mereka. "Baik, Bos." Setelah selesai, Pentagon pergi menghampiri Kanagara. Saat ini, pria itu sedang berada di ruang kerjanya dan ia bebas mengatakan sesuatu. "Bagaimana? Apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Kanagara. Ia tahu betul apa yang akan pengawalnya bicarakan. Sebelum Pentagon bertanya pada anak buahnya. Mereka semua sudah melaporkan perkembangannya pada Kanagara terlebih dahulu. Karena mereka ditugaskan langsung oleh Kanagara untuk mencari informasi itu demi membantu sahabat sekaligus pengawalnya. "Belum ada informasi apapun," jawab Pentagon lesu. "Kau tenang saja, Penta. Aku yakin, pencarian kita bertahun-tahun ini akan segera membuahkan hasil. Jadi, tidak perlu dipikirkan dan jalani saja kehidupanmu seperti sebelumnya," ujar Kanagara yakin. Tentu saja karena ia percaya bahwa usaha keras mereka akan membuahkan hasil suatu hari nanti. "Iya, Tuan. Terima kasih banyak atas bantuan Tuan selama ini," jawab Pentagon. "Oh, iya. Untuk masalah Cesya, aku harap kau tidak terlalu kasar dengannya. Dia memang agak menyebalkan. Tapi, sebenarnya dia itu gadis yang baik dan pengertian," ujar Kanagara mengetahui apa yang terjadi pada Cesya. "I-iya, Tuan. Saya hanya belum terbiasa saja dekat dengan wanita lain selain Nona Shalom. Jadi, saya akan berusaha lebih baik lagi agar tidak menyakiti Nona Cesya," jawab Pentagon tertunduk lesu. "Jadi, apa kau tidak ingin meminta maaf dengan Cesya?" tanya Kanagara melihat Pentagon begitu lesu. "Saya ingin meminta maaf, tapi saya tidak memiliki nomor teleponnya," sahut Pentagon melirik sekilas ke arah Kanagara dan lekas kembali menunduk. "Kau bisa meminta nomor Cesya pada Shalom. Tidak baik terus memendam rasa bersalah," tukas Kanagara menyarankan. "Baiklah. Saya keluar dulu untuk meminta nomor Nona Cesya pada Nona Shalom," balas Pentagon berbalik hendak melangkah keluar. "Tunggu!" cegah Kanagara. "Iya, Tuan. Apa Tuan butuh sesuatu?" tanya Pentagon berbalik. "Biar aku saja yang meminta nomor Cesya," sahut Kanagara lekas beranjak. Meskipun masalah perasaan Pentagon terhadap Shalom sudah selesai. Namun, tetap saja ada rasa cemburu yang tidak bisa musnah di hatinya. Ia tahu melupakan adalah hal yang paling sulit. Jadi, agar proses Pentagon melupakan Shalom cepat berakhir. Ia harus membuat Pentagon dan Cesya segera bersatu. Itulah alasan mengapa ia menarik kembali perintahnya agar Pentagon tetap berada di sisi Shalom. Padahal ada niat terselubung di belakangnya dan rencana itu tidak lepas dari Shalom. "Baiklah." Pentagon berjalan mengikuti Kanagara. Lalu, setelah sampai di ruang tamu, ia menunggu di sana. Sementara Kanagara, langsung menuju lorong menuju kamar Shalom. "Kirimkan nomor Cesya ke nomor Penta," ujar Kanagara. "Ketuk pintu dulu sebelum masuk, Shark. Hampir saja jantungku melompat keluar karena terkejut," protes Shalom. "Memangnya apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kanagara berjalan mendekat dengan tatapan jahil. "Aku tidak melakukan apapun. Jadi, jangan berpikiran kotor dan tersenyum menyebalkan seperti itu." Shalom menyambar ponselnya dan lekas mengirim nomor kontak Cesya ke nomor Pentagon, "Sudah aku kirim. Lebih baik kau keluar karena aku ingin istirahat," usir Shalom. "Ayo, kita menikah." Tidak ada angin tidak ada hujan. Tiba-tiba Kanagara mengajak Shalom menikah. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya. Hanya saja, tidak ada pembicaraan yang menjurus ke arah itu. "Nanti, Shark. Aku harus melanjutkan kuliahku yang sudah sempat terhenti," tolak Shalom secara halus. "Meskipun kita sudah menikah. Kau tetap bisa melanjutkan pendidikanmu. Aku hanya ingin mengikatmu dengan tali suci pernikahan. Aku ingin selalu bersama denganmu dan aku ingin Penta cepat melupakanmu," ujar Kanagara berusaha membujuk. "Aku akan pikirkan itu. Bukankah kau ada pekerjaan yang harus diurus? Jadi, pergilah dan kembali setelah selesai," balas Shalom sambil mendorong kekasihnya keluar dari kamarnya. "Baiklah," ujar Kanagara tertunduk lesu. Ia pergi dengan ekspresi murung. "Sudah jangan bingung-bingung. Telepon Cesya sekarang dan minta maaf padanya," tukas Kanagara. "Tapi, apa yang harus saya katakan?" tanya Pentagon. "Kenapa kau jadi bodoh seperti ini, Penta? Dulu ketika aku dan Shalom menghadapi masalah. Kau satu-satunya orang yang mampu menyelesaikan segalanya. Dan sekarang, hal kecil seperti itu saja kau tidak bisa. Astaga, Penta, Penta!" Kanagara berlalu pergi menuju ruang kerjanya tanpa mempedulikan bagaimana kegelisahan pengawalnya. Pentagon menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia bahkan melakukannya berkali-kali agar tidak melakukan kesalahan ketika berbicara dengan Cesya nanti. Setelah itu, ia mulai menyimpan nomor kontak gadis itu di ponselnya. Lalu, memencet tombol hijau dan langsung terdengar suara bip. "Kenapa langsung nyambung begitu saja? Kenapa bukan operator yang menjawab?" keluh Pentagon dengan jantung yang berpacu cepat. "Halo, Penta. Apa ini benar-benar kau?" Terdengar suara ceria Cesya dari arah panggilan. "I-iya, ini aku. Bagaimana pergelangan tanganmu? Kenapa kau tidak bilang kalau kau benar-benar terluka?" "Ah, itu. Aku hanya tidak ingin kau khawatir saja. Lagi pula, ini hanya terkilir dan sekarang aku sudah baik-baik saja." "Tetap saja kau harus bilang padaku. Kau terluka karena aku dan sudah seharusnya aku bertanggung jawab. Tapi, aku malah menuduhmu berpura-pura sakit." "Tidak apa-apa. Kau melakukannya bukan karena disengaja. Justru di sini aku yang salah karena telah mengagetkanmu." "Tidak. Pokoknya aku yang salah dan aku minta maaf padamu. Aku juga benar-benar khawatir padamu." "Kau tidak perlu meminta maaf. Aku baik-baik saja dan kau tidak perlu khawatir." "Kau tidak sedang berbohong lagi 'kan, Sya?" "Jangan khawatir, Penta. Aku benar-benar baik-baik saja. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang sebenarnya memang baik-baik saja." "Baiklah kalau begitu." "Cesya Putri Adhiyaksa!" teriak Adhiyaksa. "Papa mengizinkanmu pergi bukan untuk membuatmu terluka," tambah pria paruh baya itu sambil berkacak pinggang. Cesya terkejut mendengar teriakan ayahnya yang begitu nyaring. Ketika ia menoleh, ternyata sang ayah sudah ada di belakangnya. "Maaf, Pa. Maaf karena Cesya tidak bisa jaga diri." Gadis itu merasakan firasat buruk. Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. "Mulai sekarang, akan ada bodyguard yang selalu mendampingimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD