7. Kegilaan para pangeran

1030 Words
sialan kenapa aku tidak bisa menahan diri! Ini seperti bukan diriku sendiri. Kau sangat m***m tirta. Kau selama ini bisa mengendalikan diri tetapi kenapa saat kau bersama gadis itu kau langsung goyah." Pangeran Tirta segera meninggalkan kamar Dila, karena ia takut melakukan lebih karena pesona dari gadis yang baru saja ia temui ini benar-benar menakutkan. Saat pangeran Tirta keluar dari kamar Dila ia terkejut saat melihat adiknya menatapnya dengan aneh. "Sedang apa kanda? Kenapa kanda baru saja keluar dari kamar gadis itu?" Tanya pangeran Satya dengan menyelidik. Apalagi raut wajah pangeran delta begitu mencurigakan. Ehmm Pangeran Tirta berusaha terlihat biasa saja dengan raut wajah yang datar tetapi jujur saja ia sedikit gugup. "Sialan kenapa saat ini aku merasa gugup! Selama aku hidup tidak pernah aku merasakan hal lelucon seperti ini. Bahkan di saat di medan perang pun aku tidak merasa takut ataupun gugup. Tetapi kenapa saat ini rasanya aku seperti ingin segera menghilang." "Tidak ada! Kanda hanya memastikan jika keadaan gadis itu baik-baik saja." Ucapnya langsung menghilang meninggalkan pangeran Satya dengan berteloportasi. "Sangat mencurigakan! Kenapa kanda seolah-olah menutupi sesuatu. Aku harus memastikannya sendiri!" Pangeran Satya langsung membuka kamar gadis itu dengan penuh hati-hati. Langkahnya langsung terhenti saat melihat gadis itu yang sudah tertidur dengan sangat puas. "Cantik!" Ucapnya dengan lirik dan bahkan matanya terus-menerus menatap wajah cantik itu. "Kenapa setiap aku melihat wajahnya, jantungku langsung berdetak dengan sangat kencang? Sebenarnya apa yang terjadi padaku." Pangeran Satya langsung menyentuh dadanya yang mana berdebar begitu kencang dan bahkan wajahnya terasa panas. "Apakah bisa seorang wanita membantu kerajaanku ini kembali berjaya! Tetapi tidak mungkin guru berbohong. Apalagi ini menyangkut kerajaan! Jujur saja aku sedikit ragu tetapi semakin aku memperhatikan mu aku malah semakin tertarik." Ia mengusap rambut gadis itu dengan lembut yang mana kembali ia dibuat terpukau dengan kehalusan rambut wanita itu. Bahkan aroma tubuh gadis itu begitu lembut yang mana ia kembali dibuat terpesona. "Wangi tubuh mu sungguh candu! Rasanya aku semakin dibuat gila. Kenapa selama ini aku tidak pernah mencium aroma wangi seperti ini. Kenapa semua yang keluar dari mu membuatku terpikat." "bodoh Apa yang kamu lakukan! Jangan melewati batas. Ingatkah di sini harusnya kau harus melindungi nya bukan kau lecehkan. Ayahanda dan ibunda pasti akan kecewa jika mengetahui kelakuan b***t anaknya. Bodoh sekali kau satya." Satya segera keluar dari kamar dengan raut wajah yang terlihat gelisah. Iya terus menyalahkan dirinya sendiri yang mana ia hampir saja melecehkan gadis yang harus ia lindungi. Rasanya iya begitu takut melihat wajah kedua orang tuanya jika mereka sampai mengetahui perbuatannya. "Selama ini saya tidak pernah merasa ketertarikan pada seorang wanita sebesar ini. Tetapi kenapa, pada gadis ini saya tidak bisa mengendalikan diri. Apa yang sebenarnya terjadi?" "Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya pangeran Surya sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Iya baru saja selesai membersihkan tubuhnya Karena ia merasa tubuhnya begitu lengket. Tapi saat dia keluar, ia melihat wajah adiknya yang terlihat begitu gelisah hingga membuat dia begitu penasaran. "Tidak apa kanda! Sepertinya saya butuh istirahat untuk menjernihkan pikiran. Tidak ada yang perlu dicemaskan." Satya langsung meninggalkan pangeran Surya menuju kamar. "Kenapa tingkah adik begitu aneh? Bahkan pangeran kedua juga seperti itu! Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka berdua. Mengapa tingkah laku mereka begitu mencurigakan. Apa yang Sebenarnya yang disembunyikan oleh mereka." Pangeran Surya menatap langit yang gelap dengan tersenyum tipis. Ia membayangkan bagaimana wajah kedua orang Tuhannya saat tahu mereka sudah menemukan wanita yang ada di dalam ramalan itu. Iya yakin ayahnya pasti akan merasa lega karena akhirnya kerajaan itu bisa bangkit kembali. "Tapi apakah benarkah di situ benar-benar bisa menyelesaikan masalah yang begitu rumit di kerajaan ini? Apa lagi kalau di situ terlihat begitu polos bahkan tubuhnya begitu kecil dan saya saja takut mengeluarkan ilmu kanuragan sata akan menyakitinya." Tetapi saat ia membayangkan wajah kedua orang tuanya tiba-tiba wajah gadis itu langsung muncul di kepala nya. "Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa malah wajah gadis itu yang muncul di pikiran! Kenapa wajah gadis itu tidak bisa hilang dari bayangan di kepala. Apa jangan - jangan saya jatuh hati dengan gadis itu." "Gadis itu terlihat begitu berbeda dari wanita yang sudah saya temui di luaran sana. Senyum polosnya benar-benar membuat saya bergetar." "Gila." _______--------*******----------________ "Yang mulia raja ada sesuatu yang ingin saya sampaikan?" Ucap datuk batara dengan sopan. "Apa yang hendak kau bicarakan datuk? Sepertinya begitu penting sampai-sampai wajahmu begitu serius?" "Benar yang mulia raja! Ini sangat penting menyangkut masa depan para pangeran." "Kenapa tidak dibicarakan di ruangan ini saja Datuk?" Tanya datuk gandi dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran. jika berurusan dengan para pengeran bagaimana pun caranya ia harus mengetahuinya. dari hal kecil maupun besar sekali pun. Ia selaku ayah ratih tidak dapat menahan ucapannya apa lagi itu menyangkut para pangeran yang disukai putrinya. "Maaf datuk ini sangat privasi dan hanya bisa diketahui oleh yang mulia raja." Ucap Datuk Batara lagi dengan raut wajah yang kesal karena ucapannya sudah dipotong oleh Datuk gandi. "Baiklah! Langsung ke ruangan saya saja Datuk!" Ucap yang mulia raja dengan tegas. Iya tahu Datuk Gandi pasti begitu penasaran apa lagi menyangkut pangeran yang disukai Putri nya. Bahkan Datuk Gandhi sudah banyak kali mengajukan lamaran kepada putranya tapi sampai saat ini belum juga iya setuju. Bahkan putranya terlihat sama sekali tidak tertarik oleh putri dari datuk gandi itu. Datuk Gandhi merasa kecewa saat mendengar keputusan dari yang mulia raja. Entah kenapa yang mulia raja seolah-olah memberikan tembok yang begitu kokoh yang mana membuat datuk gandi sulit menembusnya. Iya takut jika yang mulia raja selalu seperti ini akan membuat putrinya semakin bersedih. "Datuk gandi lakukan tugasmu dengan baik! Karena rakyat lebih membutuhkan kita saat ini dari pada aja perjodohan yang kau ajukan. Apalagi kita harus segera menemukan orang dalam ramalan itu secepatnya dan sampingkan dulu urusan yang tidak terlalu penting itu. Jadilah sosok yang bijaksana dalam mengambil keputusan. Saya tahu kau begitu menyayangi putrimu tetapi saat ini kondisinya tidak memungkinkan untuk membahas hal itu. Karena kerajaan sekarang sedang dalam keadaan krisis. Saya harap kau bisa mengambil langkah yang jauh lebih baik." Ucap pedas yang mulia raja hingga membuat Datuk Gandi kesal dan ini mengepalkan tangan dengan begitu kuat hingga membuat otot lengannya menonjol. Ia merasa kesal permintaannya seolah-olah begitu disepelekan oleh yang mulia raja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD