60

1812 Words

Jemari lentik itu terpaut bersama jemari si kecil, manic hitam pekatnya menatap dalam sosok kecil yang tertawa riang didepannya dengan sebelah tangan bertopang dagu. “ Kenapa ayahmu keras sekali Aurora? Ibu tidak tahu lagi apa yang harus ibu lakukan untuk menakhlukkannya?” suara itu beralun disertai desahan panjang. “ Bisakah kamu memberitahu ibu sesuatu?” Tentu saja tak ada jawaban yang keluar dari bibir mungil si kecil, yang ada hanyalah tawa riangnya disertai tendangan diudara. “ Nyonya, apakah anda sudah lebih baik?” Bahar pria itu mendekat, berdiri dibelakang Mutiara dengan raut wajah khawatir pasalnya dia baru mengetahui apa yang terjadi tengah malam tadi dari kepala pelayan. “ Terima kasih Pak Bahar atas perhatianmu, jangan khawatir!” senyum itu tersungging secara miris pasalnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD