Wanita berperut buncit duduk dengan kaku disamping sosok dingin berbadan besar itu. Jemarinya saling memilin dengan wajah menunduk takut, terutama membayangkan reaksi Kakak tertuanya nanti. Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat di lobby bandara, dengan acuh Xavier keluar dari balik mobil, berjalan seorang diri seolah tak sadar telah membawa sosok lain bersamanya. “ Mari Nona!” pintu samping Mutiara terbuka dan sosok Baharlah pelakunya, wajah tuanya itu tersenyum sedih kearah wanita muda itu, seolah dialah penyebab semua hal ini terjadi. ‘ Semua itu bukan salahmu Pak, ini salah pria itu!’ “ Terima kasih, Pak Bahar!” Mutiara membalasnya dengan senyum tipis. Dengan setia, Bahar berjalan dibelakang Mutiara, memastikan dia tidak terpeleset saat naik kedalam pesawat. “ Silah

