Aku benar-benar sudah kehabisan tenaga. Pukulan demi pukulan sudah aku layangkan berkali-kali, namun sama sekali tidak bisa menggerakkan posisi tidak senonoh Dimas dari tubuhku barang satu senti saja. Kakiku sudah seperti jelly, jika saja aku tidak terpojok di dinding, sudah pasti aku ada terjatuh ke lantai. “Tolong ….” ucapku lirih sambil menutup mata, tak ingin melihat wajah Dimas yang sudah seperti harimau kelaparan, terus berusaha merobek bajuku meski beberapa kali ku gagalkan. Meski mataku sudah tertutup rapat, telingaku masih bisa mendengar dengan baik. Desahan-desahan menjijikkan yang keluar dari mulut Dimas semakin membuatku terisak. Sumpah, lebih baik dia membunuhku saja daripada menjamah setiap inci tubuhku dengan bibirnya begini. Krek … krek … krek …. Aku bisa mendengar baga

