"Kamu mau pulang bareng aku lagi kan, Yang?" tanya Pandu saat Larissa masih sibuk mengunyah makanan yang menjadi santapan makan siangnya.
"Ya emang aku mau pulang sama siapa lagi?" jawab Larissa dengan cuek.
"Nah gitu dong! Dari tadi kamu cuekin aku terus sih pas aku baru cerita," ucap Pandu dengan menghela napasnya dan tersenyum.
"Aku dengerin setiap kata-kata kamu kok dari tadi," ucap Larissa dengan menatap pria dihadapannya.
"Maaf banget buat yang kemaren ya, Yang. Aku tahu aku salah banget karena nggak ngasih kabar ke kamu. Jadinya bikin kamu bingung di Butik karena aku nggak datang-datang," ucap Pandu dengan menggenggam tangan Larissa yang menganggur di atas meja serta ditambah dengan tatapan memohon.
"He'em. Besok lagi jangan hilang tanpa kabar gitu. Untung aja kemaren baru mau cari gaun dan tuxedo. Jadinya ya nggak masalah buat aku. Kan kamu juga ada kerjaan mendadak. Aku bisa maklumin," jawab Larissa dengan menyunggingkan senyum tipisnya.
"Oke siap, Sayangku!" ucap Pandu dengan keras dan tersenyum sumringah.
"Ihh! Apaan sih kamu? Malu tahu! Jadi diliatin sama yang lainnya kan," ucap Larissa dengan mencubit lengan Pandu yang berada di atas meja.
"Hahaha... Lucu banget sih kamu kalau lagi ngomel-ngomel gini, Yang!" ucap Pandu dengan terkekeh dan menatap lekat ke arah Larissa.
Larissa dan Pandu sudah kembali ke kantor lagi setelah jam istirahat makan siang mereka selesai. Mereka berdua akhirnya kembali akur seperti biasanya. Para karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua hanya selama di lift hanya memberikan sapaan serta anggukan kepala kepada keduanya.
"Lu udah baikan sama Pandu, Sa?" tanya Dandi saat Larissa baru saja duduk pada meja kerjanya.
"Kepo banget ya Lu, Dan!" ucap Larissa dengan menatap malas ke arah Dandi.
"Ya gue mau mastiin lagi aja sih. Kan tadi pagi lu dateng dalam keadaan suram dan muram. Ditambah pula malah pakai PMS tiba-tiba di motor gue. Kalau lu sama Pandu udah akur kan ntar gue kagak usah ngasih tebengan lu buat nganter pulang ke kosan," ucap Dandi dengan datar.
"Lu kalau masih senewen karena motor Lu kotor gegara gue nggak usah sok-sokan baik mau ngasih tumpangan deh. Lagian kalau Lu kagak mau ngasih tumpangan ke gue atau gue masih marahan sama Pandu, masih ada abang ojek online yang siap sedia gue pesan kapan aja," ucap Larissa dengan menatap Dandi tajam serta meremehkan rekan kerja sekaligus sahabatnya tersebut.
"Wow! Cewek independent sekali ya Anda! Baguslah, kalau Lu kagak ketergantungan sama gue ataupun Pandu," ucap Dandi dengan mencibir.
"Mbak Larissa! Dipanggil Bu Indira untuk ke ruangannya," ucap Febi yang baru saja kembali dari ruangan kepala divisinya.
"Oke, Feb! Thank you buat infonya!" ucap Larissa sembari tersenyum ramah.
Setelah merapikan sebentar berkas-berkas yang berada di meja kerjanya, Larissa langsung segera menuju ruangan Bu Indira, yang tak lain adalah kepala divisi keuangan.
Larissa mengetuk pintu ruangan yang berada dihadapannya. Tak lama kemudian ia mendengar suara Bu Indira yang mempersilahkan dirinya untuk masuk.
"Selamat siang Bu Indira!" ucap Larissa menyapa wanita yang usianya sudah berada pada pertengahan tiga puluh tahun tersebut.
"Siang, Sa! Tunggu sebentar ya. Saya selesaikan dulu pengecekan berkas ini sebentar," ucap Indira dengan menunjuk berkas yang sedang ia koreksi dihadapannya.
"Baik, Bu!" ucap Larissa dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian ia duduk pada sofa yang berada di ruangan tersebut.
Sembari menunggu Bu Indira selesai mengoreksi berkas yang berada ditangannya, Larissa mengedarkan pandangannya pada ruangan kepala divisinya yang tertata rapi tersebut. Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari luar ruangan Bu Indira.
"Tolong kamu bukakan pintunya ya, Sa!" ucap Indira memberikan perintah kepada Larissa.
Langsung saja Larissa melakukan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Saat ia membuka pintu tersebut, tanpa terduga orang yang berada dibalik pintu ruangan itu adalah Sosok pria paruh baya yang tak lain salah satu petinggi perusahaan tempatnya bekerja dan juga paman dari pacarnya.
"Silahkan, Pak! Bu Indira sedang mengoreksi berkas dan meminta saya untuk membukakan pintunya tadi," ucap Larissa dengan tersenyum tipis dan memberi jalan kepada pria paruh baya tersebut.
"Oke, Terimakasih Larissa!" ucap Hilman dengan menatap Larissa.
Suasana diantara keduanya terlihat sangat canggung saat menunggu Indira yang selesai dengan berkasnya. Larissa kebingungan untuk mencairkan suasana diantara keduanya karena selama ini ia jarang bertemu dengan Hilman.
"Bagaimana kabar kamu, Larissa?" tanya Hilman membuka pembicaraan diantara keduanya yang sudah sekitar sepuluh menit terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Kabar saya baik, Pak. Bagaimana kabar Bapak?" ucap Larissa dengan menyunggingkan senyuman tipisnya. Larissa sebenarnya merasa grogi bertemu dengan tidak terduga seperti ini dengan Hilman dan di kantor pula.
"Baguslah kalau kamu baik-baik saja. Ya seperti yang kamu lihat saat ini. Panggil om saja Larissa," ucap Hilman dengan lebih santai karena mengetahui wanita muda yang berada dihadapannya tersebut gugup dan sungkan kepadanya.
"Baik, Om!" ucap Larissa dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalian berdua sudah mulai merencanakan pernikahan?" tanya Hilman dengan menatap Larissa.
"Sudah, Om. Kemaren kami sudah mulai akan mencari baju yang akan digunakan untuk hari pernikahan kami," ucap Larissa dengan ragu.
"Lho bukannya kemaren Pandu ke Bogor dan baru balik ke Jakarta tadi pagi," jawab Hilman dengan mengerutkan keningnya.
Larissa yang mendengar jawaban tak terduga dari Hilman sontak saja terkaget. "Hah? Baru pulang tadi pagi?" batin Larissa dengan bertanya-tanya.
"Oh iya, Om. Kemaren rencananya kami mau mencari baju pernikahan di Butik Almira bersama. Tapi tiba-tiba kemaren Pandu mendapat tugas kantor untuk ke Bogor. Jadi saya yang melihat-lihat dulu di Butik Almira, Om" ucap Larissa memberikan penjelasan kepada Hilman.
"Oalah. Kamu sudah mendapatkan pilihan bajunya? Rencana pernikahannya akan diselenggarakan kapan?" tanya Hilman dengan menatap Larissa menelisik.
"Belum, Om. Rencananya nanti setelah pulang kerja kami akan mampir ke Butik Almira kembali untuk melihat-lihat dan mencari baju pernikahan yang pas untuk kami. Rencana pernikahannya empat bulan dari sekarang, Om" jawab Aura dengan lugas.
"Kamu sudah yakin untuk menikah dengan Pandu?" ucap Hilman dengan menatap dalam wanita yang tak lain adalah pacar keponakannya tersebut.
"Yakin, Om!" ucap Larissa dengan lugas dan mantap.
"Kamu sudah yakin akan menerima hal-hal yang nantinya akan bertolak belakang dengan kamu? ataupun sifat-sifat Pandu yang lainnya?" ucap Hilman dengan lembut.
"Saya siap menerima baik dan buruknya dari Pandu, Om" ucap Larissa dengan mantap dan menyunggingkan senyumannya.
"Baiklah kalau kamu yakin dan mantap akan ke jenjang yang lebih serius lagi dengan Pandu. Tapi satu pesan dari saya sebagai salah satu keluarga Pandu, Kamu masih punya waktu empat bulan lagi dan berpikir ulang untuk yang terbaik bagi kalian berdua, Nak," ucap Hilman dengan lembut dan tersenyum penuh arti.