Pikiran Abyan mulai berkelana ke mana-mana, membayangkan skenario terburuk yang jauh dari kenyataan. Ia membayangkan Reyna masih berduaan dengan Abimanyu, membicarakan pariwisata hingga larut malam. Nggak terlintas di benaknya bahwa Reyna hanya terlalu lelah dan sedang tidur nyenyak seperti bayi. “Bos, positif thinking! Mbak Reyna pasti capek banget, kan seharian di curug. Mungkin dia tidur pulas,” bujuk Hanif, berusaha seobjektif mungkin, meskipun ia tahu Abyan sedang nggak bisa diajak logika. “Tidur? Nggak mungkin! Reyna nggak pernah tidur se-pulas itu! Pasti dia sengaja nggak ngangkat teleponku karena nggak mau ketahuan sedang bersama Kades!” Abyan kini menuduh tanpa dasar, dipicu oleh kecemburuan yang mendidih. Nilam, yang bosan mendengar suaminya dan Bos-nya ribut, menimpali dari b

