Pamit

1615 Words

Pamit "Terbesit rindu sekecil debu yang kian membesar sebesar keindahan purnama. Terbesit sesal dan benci sekecil debu yang aku takutkan mengalahkan rindu yang menempati relung hatiku. Ya Rabb, bisakah aku membenci sosoknya meski aku tidak menginginkannya? Karena aku teramat lelah." -Syauqillah Syadzahra- *** “Kenapa belum tidur, Nak?” Suara Umi Khadijah—ibu susuan Syadza—membuyarkan lamunan gadis bermata cokelat terang itu. Wanita berusia paruh baya itu duduk di atas kasur, di samping putrinya. “Sya belum ngantuk, Umi.” Syadza melirik Umi Khadijah yang sedang menatapnya dengan sendu. Umi Khadijah merapatkan tubuhnya, menatap wajah sang putri dengan lekat, seolah menemukan sesuatu yang janggal pada wajah Syadza. Syadza menggeser posisi duduknya agar sang umi tidak menyadari adanya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD