Aku Hanya Ingin Melihatnya Bahagia

1219 Words
Dengan keheranan, Aidan menatap hidangan makan malam lengkap yang tersaji di atas meja. Aroma gurih masakan menyeruak, menggoda indranya. “Siapa yang masak?” gumamnya, menyapu pandang ke seluruh ruangan yang hening. Langkahnya membawanya ke ruang tamu. Senyumnya merekah saat melihat Karenina tertidur di atas sofa. Ia memandangi wajah damai itu, menahan diri untuk tak menyentuhnya, takut akan membangunkannya. Di balik raut tenang itu, Karenina tampak lelah. Rasa bersalah sekaligus iba menyusup di dadanya—di tengah kesibukannya, di antara kekecewaannya, dia masih datang dan memasak untuknya. Seolah merasakan tatapan Aidan, kelopak mata Karenina perlahan terbuka. “Hei…” sapa Aidan lembut. Karenina memicingkan mata, kesadarannya perlahan kembali. “Kamu udah bangun?” tanyanya, suaranya sedikit serak. “Aku enggak tahu kamu datang.” “Kamu pulas banget tidurnya. Aku enggak mau ganggu,” jawab Karenina seraya bangkit duduk. Sorot matanya menelusuri wajah Aidan. “Kamu sakit lagi?” Aidan mengangguk lesu. “Kecapeakan. Kemarin lembur sampai malam.” “Kamu pasti telat makan lagi?” tebak Karenina. Nadanya terdengar seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. “Kamu kan udah enggak pernah ngingetin aku lagi?” Suara Aidan terdengar seperti rajukan yang terselip rindu. “Alesan…” Karenina tersenyum. Senyum tulus yang sudah jarang ia perlihatkan akhir-akhir ini. “Aku udah masakin kamu makan malam. Makan sekarang, ya?” Ia beranjak ke meja makan, diikuti Aidan. “Makasih, ya,” ucap Aidan tulus. “Makanya biarin Ratih tinggal di sini, supaya ada yang masakin kamu tiap hari,” saran Karenina sambil menarik kursi. Aidan menggeleng, lalu tertawa kecil. “Kalau Ratih di sini, nanti kamu jadi jarang mampir, dong?” sahutnya, menatap penuh harap. Karenina menghela napas. “Aku kan enggak bisa tiap hari ke sini, Aidan. Rumahku sekarang jauh.” “Kenapa kita enggak bisa kayak dulu lagi, Nin?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Aidan, sarat kerinduan. “Aidan, please… jangan mulai lagi.” Karenina menggeleng pelan. “Aku bukannya mau maksa kamu balikan." Aidan buru-buru meralat. “Aku cuma pengin kita kayak dulu lagi. Sarapan bareng, makan bareng tiap hari. Itu aja.” Karenina kembali menghela napas. Sebenarnya ia tidak keberatan kalau hanya menemani Aidan makan. Tapi ia tahu, Aidan tidak akan berhenti sampai di situ. Aidan selalu punya alasan. “Please, Nin…” Aidan menatapnya penuh harap. Karenina akhirnya menyerah. Ia tak tega menolak tatapan memelas itu. “Aku akan usahain temani kamu setiap hari. Tapi kalau aku sibuk, kamu harus ngerti,” putusnya. Aidan mengangguk. Wajahnya tampak bahagia. “Kamu lapar banget, ya?” Karenina tersenyum geli melihat Aidan makan begitu lahap, seperti tak makan berhari-hari. Aidan mengangguk dengan mulut penuh. Ia memang sangat merindukan masakan Karenina. “Habis ini aku langsung pulang. Udah jam sembilan,” ujar Karenina sambil melirik jam tangannya. “Kenapa enggak nginap di sini aja?” tanya Aidan enteng. “Aidan?” Karenina melotot. Tatapan tajamnya jelas memberi peringatan. “Mm… maksudku, di sini kan banyak kamar kosong,” ralat Aidan cepat, salah tingkah. Karenina menggeleng pelan. Benar saja dugaannya. Aidan memang banyak maunya. … Dengan hati berdebar, Karenina menekan klakson mobilnya di depan sebuah rumah berpagar tinggi menjulang. Tak lama kemudian, seorang satpam keluar dari pos kecil dan menyambutnya ramah. “Mbak Karenina, ya?” sapa pria itu. “Iya, Pak. Mau ketemu Bu Miranda,” sahut Karenina, berusaha terdengar tenang. “Oh, silakan, Mbak. Ibu sudah menunggu.” Pria itu segera membuka lebar pintu pagar. Karenina mematikan mesin mobil, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia menatap wajahnya di cermin kecil di atas kepala, merapikan pakaian yang dikenakan. Sejak menerima pesan dari wanita itu tadi malam, hatinya sudah tak karuan. Rasa takut, segan, dan malu bercampur jadi satu. Ia membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang akan dihadapinya. Setelah sedikit menenangkan diri, Karenina melangkah turun. Seorang pelayan menyambutnya di depan pintu dan mengantarkannya ke halaman yang sangat asri. Di sana, di samping kolam renang yang luas, Miranda duduk di atas kursi sambil menikmati secangkir teh. Aura elegan memancar kuat dari dirinya. “Selamat pagi, Tante,” sapa Karenina. Suaranya sedikit bergetar. “Selamat pagi, Nina.” Wanita itu bangkit dari duduknya, menyambut uluran tangan Karenina. “Gimana kabarmu? Baik-baik saja?” Karenina mengangguk. “Baik, Tan.” “Tante dengar kamu sudah kembali ke perusahaan?” Wanita itu menatapnya lekat. “Iya, Tan,” jawab Karenina singkat. “Syukurlah. Ratih bilang dia ketemu kamu di apartemen Aidan. Apa kalian sudah kembali bersama?” Wanita itu langsung ke inti. Ah, dia memang mirip sekali dengan Aidan, gumam Karenina dalam hati. “Hubungan kami memang sudah membaik, Tan. Tapi untuk saat ini hanya sebatas urusan perusahaan,” sahutnya, mencoba tenang meski hatinya bergemuruh. Wanita itu tersenyum, penuh makna. “Aidan yang memintamu?” Karenina mengangguk lagi. “Tapi kamu tidak yakin?” Pertanyaan itu menohok. Karenina terdiam. Ia memang tidak yakin. Tapi ia takut jawabannya justru mengecewakan wanita itu. “Tante mengerti…” Suara Miranda melunak. “Kamu masih takut Aidan akan menyakitimu lagi, kan?” “Iya, Tan…” Karenina menunduk. Ia belum siap membicarakannya. Wanita itu menghela napas dalam, lalu menuangkan teh ke dalam cangkir dan mengulurkannya. “Minum dulu.” “Terima kasih, Tan.” Karenina menyesap tehnya. Hangatnya sedikit menenangkan, meski pikirannya tetap dipenuhi tanda tanya. “Tante percaya Aidan akan berubah. Dia sedang menjalani terapi penyembuhan. Dan Tante juga percaya kalian akan kembali menikah seperti rencana semula.” Karenina terkejut. “Maksud Tante…?” “Dulu kalian berencana menikah bulan September. Tapi Aidan memaksa mempercepat pernikahan, dan akhirnya gagal. Sesuatu yang dipaksakan memang tidak pernah baik,” ujar wanita itu tenang, penuh keyakinan. “Hm… tapi untuk saat ini saya tidak memikirkan pernikahan, Tan,” Karenina mencoba menghindar. “Kenapa?” Alis wanita itu terangkat. “Kamu tidak yakin Aidan akan sembuh?” Karenina menggeleng. “Bukan itu. Saya cuma butuh waktu.” “Untuk apa?” “Tante enggak bisa maksa saya,” ucap Karenina akhirnya. Wanita itu tiba-tiba mendekat, menatapnya tajam. “Kamu sudah pernah mengecewakannya. Melukai hatinya, dan membuatnya hampir kehilangan harapan. Kamu tidak bisa mempermainkannya lagi. Dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi.” Jantung Karenina berdebar kencang. Apa dia sedang diancam? Namun wanita itu segera bersandar kembali. Tatapannya melunak, seolah kemarahan tadi hanya bayangan. “Saya hanya seorang ibu yang ingin melihat anaknya bahagia. Dan hanya kamu yang bisa membuatnya bahagia. Tidak ada perempuan lain yang lebih dia cintai selain kamu.” Suaranya lirih, matanya berkaca-kaca. “Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkannya lagi.” Karenina menunduk. Tenggorokannya terasa tercekat. “Tante tahu, di dalam hatimu kamu masih mencintainya. Dan kamu masih berharap suatu hari bisa mengenakan kalung itu kembali di hari pernikahan. Karena kamu sudah terlanjur sayang untuk mengembalikannya.” Wanita itu tersenyum penuh arti. “Kalung?” Karenina mengangkat wajahnya, bingung. “Kalung berlian hadiah pernikahan dari Tante. Kamu masih menyimpannya, kan?” Karenina tertegun. “Tapi… saya sudah titip Mama untuk mengembalikannya. Apa Mama belum mengembalikan?” Suaranya tercekat. Wanita itu menggeleng pelan. Tubuh Karenina mendadak lemas. Padahal ia sudah berulang kali mengingatkan Mama. Firasat buruk merayapi benaknya. Ya Tuhan… bagaimana kalau kalung itu… “Tidak apa-apa. Mungkin Mamamu belum sempat,” ujar wanita itu ringan. Karenina mencoba tersenyum, meski dadanya terasa mengencang. Mungkin Mama memang belum sempat, pikirnya, memaksa dirinya percaya. Namun entah kenapa, ada rasa tak nyaman yang menetap, seperti firasat yang belum berani ia beri nama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD