Saat Curiga Datang

1245 Words
Setengah berlari, Danisa masuk ke ruangan Karenina dan menutup pintunya rapat. Napasnya sedikit terengah. “Ok,” katanya cepat, menatap Karenina lurus-lurus. “Tell me now.” Karenina masih berdiri di dekat jendela. Tangannya bersedekap, pandangannya kosong ke luar. “Yang mana?” “Insiden itu,” Danisa mendekat. “Kamu ketahuan Aidan?” Karenina berbalik lalu mengangguk pelan. “Aku enggak sengaja sebut namanya waktu kita lagi…” Ia berhenti, menarik napas panjang. “…lagi berhubungan.” Danisa membulatkan mata, refleks menutup mulutnya sendiri. “Aku enggak tahu harus bilang apa, Nin,” suaranya menurun. “Tapi itu fatal.” Karenina menunduk. Menatap lantai karpet di bawahnya. “Kamu yakin dia bakal percaya kalau Bintang itu perempuan?” Karenina mengangkat wajahnya, mengangkat bahu dengan gerakan lemah. “Mungkin cepat atau lambat dia bakal tahu.” “Tapi semalam dia enggak sampai marah, kan?” tanya Danisa hati-hati. Karenina tersenyum tipis. Bukan senyum. Lebih seperti refleks. "Dia mengintimidasiku, Sa. Dia tanya sambil menindihku kuat-kuat, sampai aku susah napas. Sampai aku mohon supaya berhenti.” “Ya Tuhan…" Danisa menutup mulutnya yang terbuka. "Tapi... kamu enggak apa-apa?” tanyanya, cemas. Karenina menggeleng. “Aku takut banget, Sa. Dia belum pernah kayak gitu sebelumnya.” “Kamu harus berhenti sekarang juga, Nin. Jangan ketemu Bintang lagi.” Mata Danisa dipenuhi kecemasan. “Aku jadi ragu sama pernikahan ini,” sahut Karenina lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Jangan gegabah, Nin,” Danisa menelan ludah. “Aidan bisa—” Karenina tersenyum getir. “Aku harus gimana, Sa?” “Berhenti dulu ketemu Bintang. Perbaiki hubunganmu sama Aidan. Mungkin dia ngerasa kamu berubah. Dia orang yang detail, Nin.” “Tapi aku sama Bintang enggak ngapa-ngapain,” suara Karenina meninggi sedikit. “Cuma pelukan sebentar.” “Hah?!" Danisa menutup mulutnya dengan tangan. "Kamu kan, janji enggak akan nyentuh dia?" Suara Danisa naik satu oktaf. “Aku malah makin jatuh cinta,” bisik Karenina. Danisa mengusap wajahnya, frustrasi. “Kamu harus mikirin Aidan. Kalau sampai dia tahu… aku resign, Nin. Aku enggak mau ikut kebawa.” Karenina tertawa getir. Ketakutan itu mulai menggerogotinya. Dua hari terakhir di apartemen Aidan, ia bahkan tak berani membuka ponsel. Tatapan Aidan selalu membayanginya—tajam, mengawasi, seperti tahu ke mana pikirannya melayang. Karenina menghela napasnya. Kini ia semakin merindukan Bintang. Merindukan pelukannya yang tidak menuntut. Kehangatan yang tidak membuatnya takut. Ponselnya bergetar. Bintang. Ia membalas cepat. Pesan kedua masuk. Jantungnya berdetak lebih cepat. Sedetik kemudian ia bangkit, meraih tasnya. Melangkah keluar. “Mau ke mana, Nin?” Danisa menatapnya kaget. “Lebih baik kamu enggak tahu.” Karenina menjawab tanpa menoleh. “Aku harus bilang apa kalau Aidan nyari?” “Bilang aja enggak tahu.” “Nina—” Karenina sudah menghilang di balik pintu. *** Bintang sudah menunggu Karenina di lobi sebuah apartemen. Karenina lalu menariknya masuk ke elevator menuju lantai atas. “Ini apartemen yang aku beli buat disewakan,” ucap Karenina begitu pintu unit tertutup. “Lagi kosong.” “Kita mau bicara tentang apa, Nin?” tanya Bintang, bingung. Karenina menjatuhkan diri ke atas ranjang. Dadanya naik turun. Ia menatap ragu, takut jika cerita itu justru membuat Bintang menjauh. “Nin…” Bintang duduk di sampingnya. “Ini soal Aidan?” Karenina mengangguk. “Dia sudah tahu?” Karenina tak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak. “Peluk aku, Bin,” pintanya lirih. Bintang tak bertanya lagi. Ia menarik Karenina ke dalam pelukannya. Dan di sana, tangis Karenina akhirnya pecah. Seolah semua ketakutan yang ia simpan akhirnya menemukan tempat aman untuk runtuh. *** Karenina kembali ke kantor saat siang sudah di penghujung. Rasa aman dalam dekapan Bintang tadi memang terlalu melenakan, hingga ia tak sadar telah membiarkan waktu mencuri kewaspadaannya. Saat kakinya melangkah masuk, suasana kantor terasa sangat hening. Dari mejanya Danisa memberi isyarat. Karenina tahu. Aidan menunggunya. Tujuh pesan dan dua belas panggilan tak terjawab sudah cukup untuk melabelinya sebagai tersangka. Karenina menghela napas sesak, lalu menyeret langkahnya masuk ke ruangannya sendiri. Di sana, Aidan duduk di kursinya. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. “Maaf,” ucap Karenina, berusaha terdengar biasa. "Tadi ketiduran di apartemen.” “Jangan bohong.” Aidan bangkit dari kursi, berjalan mendekat. Tatapannya dingin. “Aku ke sana tadi.” “Maksudku apartemen baruku,” sahut Karenina cepat. Tatapan Aidan menyapu tubuhnya perlahan, seolah mencari sesuatu yang tak kasat mata. “Ngapain?” “Cuma ngecek aja, mau ada yang sewa. Terus ketiduran.” “Aku tahu kamu bohong,” ucap Aidan datar. “Kamu nyembunyiin sesuatu dariku.” Karenina mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. “Aku enggak—” “Kamu enggak bisa mainin aku, Nin,” potong Aidan. “Cepat atau lambat aku akan tahu.” Hening. Karenina menunduk. “Kalau sekali lagi kamu begini,” lanjut Aidan pelan, “aku percepat pernikahan kita. Dan kalau aku tahu kamu selingkuh…” Ia berhenti. Menunggu Karenina menatapnya. “Aku bakal bikin kamu dan dia menyesal seumur hidup.” Begitu Aidan keluar, pertahanan Karenina runtuh. Tubuhnya merosot perlahan di dinding, hingga ia terduduk lemas di atas lantai berkarpet. Ia menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, berusaha meredam getaran hebat yang menyerang seluruh badannya. Danisa berlari masuk, memeluknya. “Aku enggak mau nikah sama dia, Sa…” isaknya. “Kamu tenang dulu, Nin." “Aku takut…” “Dia sengaja menakutimu." “Aku mau pergi,” bisik Karenina. “Aku mau ninggalin dia.” “Nin—pikir baik-baik dulu." “Sekarang aku baru lihat watak aslinya.” “Kamu harus berhenti ketemu Bintang,” kata Danisa pelan. “Aidan begitu karena takut kehilangan kamu.” Karenina menggeleng. “Aku benci dia, Sa…” *** Di dalam mobil, sore merambat pelan menuju malam. Aidan menyetir dengan rahang mengeras, pikirannya masih kusut oleh amarah yang belum reda. Tangannya mencengkeram setir, sorot matanya tajam menatap jalanan, seolah segala hal di sekelilingnya patut dicurigai. Karenina duduk diam di sampingnya. Tubuh dan batinnya terasa lelah. Pertengkaran mereka siang tadi menguras seluruh tenaganya. Ia memilih memalingkan wajah ke jendela, menatap lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala. Bukan karena tidak ingin bicara—tapi, karena diam adalah satu-satunya cara paling aman untuk meredam emosi Aidan yang seperti bom waktu. “Kamu makan apa tadi siang?” tanya Aidan datar. “Pecel Ayam.” Aidan mengangkat alisnya, menatap Karenina heran seolah "pecel ayam" adalah kosakata yang seharusnya tidak ada dalam kamus hidup sehat mereka. “Sama siapa?” tanyanya. “Aku enggak selingkuh.” “Aku enggak bilang kamu selingkuh.” Aidan menoleh. “Kamu makan di apartemen, kan?” “Iya.” “Aku enggak pernah lihat kamu makan itu.” “Itu kesukaanku waktu kuliah.” “Jadi kamu makan dengan teman kampus?” Pertanyaan Aidan membuat Karenina tersentak. Apakah dia tahu? Atau hanya memancing? Gumamnya panik. “Jawab, Nin!" Kejar Aidan. “Sendiri! Aku makan sendiri!!” Karenina akhirnya meledak. Kemarahan dan ketakutannya membuatnya tak bisa menahan diri. Aidan terdiam. Terkejut melihat reaksi Karenina. “Kamu jadi aneh akhir-akhir ini.” Karenina menarik napas, mencoba menenangkan diri. “Kamu terlalu posesif.” “Kamu enggak tahu rasanya cemburu. Apa kamu pernah cemburu sama aku?” tanyanya pelan, pedih. Karenina membeku. “Aku cuma minta kamu jujur,” lanjut Aidan, pelan. Matanya menatap tajam. "Aku memang mencintaimu, tapi aku benci dibohongi." Tubuh Karenina bergetar. Kini ia tahu, ia harus berhenti. Ia menyadari bahwa bermain-main dengan Bintang bukan lagi sekadar urusan memutar memori lama, melainkan sedang mengundang badai ke dalam hidupnya—dan Aidan adalah langit yang sudah berubah menjadi gelap sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD