Hati Yang Lelah

1281 Words
"Apa aku salah, Sa?" Karenina menatap wajah Danisa dengan putus asa, sorot matanya redup. Danisa menggeleng. "Sikap kamu hanyalah cerminan dari trauma yang kamu rasakan, Nin. Itu bukan kesalahanmu." "Tapi aku merasa bersalah..." suara Karenina penuh sesal. "Yang membuat kamu trauma itu Aidan, Nin. Kamu enggak bersalah!" Suara Danisa, seolah mengingatkan Karenina kembali apa yang telah dilakukan Aidan padanya. "Tapi aku penyebabnya, Sa!" Karenina masih bersikeras, kepalanya menunduk. "Jangan campur adukkan masalah hati dengan kekerasan fisik, Nin! Enggak ada hubungannya! Aidan tetap salah karena sudah melakukan kekerasan sama kamu. Kamu harus menerima itu. Jangan dimaklumi!" Danisa menatap Karenina dengan tajam, seolah ingin menancapkan kebenaran itu. Karenina menghela napasnya, berat. "Tapi dia sudah berusaha untuk berubah, Sa..." "Dia memang harus berubah demi dirinya sendiri. Dan kamu juga harus menyembuhkan traumamu. Kamu harus konsultasi ke psikolog," desak Danisa. "Aku hanya perlu waktu, Sa..." "Tapi trauma itu enggak akan sembuh hanya dengan waktu, Nin. Kamu perlu bantuan profesional." Karenina kembali menghela napasnya. "Aku bingung, Sa. Aku enggak mengira masalahnya akan serumit ini." "Sejak awal hubungan kalian memang sudah rumit. Tapi aku tahu kalian saling mencintai." "Tapi bagaimana kalau aku mencintai Aidan karena aku membutuhkannya?" "Maksudmu secara finansial?" Karenina mengangguk, malu. "Lalu apa salahnya? Toh, dia enggak merasa terpaksa? Lagi pula kamu juga sudah memberikan segalanya buat dia." Danisa mencoba memberi pengertian dengan logikanya. Karenina kini terdiam, memikirkan perkataan sahabatnya. "Jangan terlalu banyak berpikir, Nin. Dan jangan terus menyalahkan dirimu. Lupakan kesalahanmu. Kamu harus move on. Masalahmu sudah hampir selesai. Sekarang kamu tinggal membereskan hatimu. Berdamai dengan masa lalu dan menyembuhkan traumamu. Lalu kamu akan kembali pada Aidan, menikah dan hidup bahagia. Ceritamu akan berakhir dengan happy ending." Danisa mengakhiri dengan senyum meyakinkan. Akhirnya Karenina menyunggingkan senyumannya. Ada sedikit cahaya di matanya. "Weekend ini aku akan ke Bali untuk menebus kalung itu. Aku enggak mau Aidan tahu. Jadi kalau nanti Aidan tanya sama kamu, kamu bilang aja enggak tahu." "Tapi dia enggak akan percaya kalau aku enggak tahu." Danisa mengerutkan kening. "Bilang aja aku lagi pergi sama teman ke luar kota." "Nanti dia berpikiran yang enggak-enggak, Nin!" Danisa menatap sambil melotot, tak setuju. "Biarin aja! Dia juga sekarang sering menyimpan rahasia dariku!" Sungut Karenina, ada nada kesal yang jelas. "Maksudmu Trisha?" Dan saat melihat Karenina tak menyangkalnya, Danisa pun tersenyum. "Jadi ceritanya kamu mau balas dendam?" Tanyanya geli. "Aku cuma mau dia tahu kalau aku juga bisa melakukan hal yang sama. Aku mau lihat reaksinya." Danisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu sahabatnya itu sebenarnya sangat cemburu tapi dia selalu berusaha untuk menyangkalnya. Dia seperti tak ingin mengakui bahwa sebenarnya ia mencintai Aidan. Dia selalu ingin menjauh darinya tapi cinta selalu membuatnya kembali. "Sorry, Nin. Aku sama sekali enggak tahu kalau yang membeli apartemen itu adalah Trisha," sesal Trisha. "It's ok. Yang penting cepat terjual." "Tapi kamu enggak perlu cemburu. Aku percaya enggak ada hubungan spesial antara Trisha dan Aidan," Danisa mencoba meyakinkan. "Aku tahu Aidan enggak punya perasaan apa-apa sama dia. Tapi aku merasa dia berusaha untuk mendekati Aidan," Karenina menyahut, nada suaranya berubah serius. "Loh, biasanya kamu enggak peduli? Dari dulu kan, memang banyak yang menggoda Aidan?" Danisa heran. "Tapi Trisha itu lain, Sa. Dia pintar, mandiri, pendidikannya juga bagus. Dia mengenal Aidan sejak kecil. Dan keluarga mereka juga saling mengenal. Mereka berasal dari circle yang sama." Karenina menjelaskan, ada nada rendah diri dalam suaranya. Danisa kembali tersenyum, kali ini lebih maklum. "Jadi, dia bikin kamu jadi enggak percaya diri?" "Aku enggak tahu, Sa. Sekarang aku merasa Aidan memang lebih pantas sama dia..." bisik Karenina, hampir tak terdengar. "Hah?!" Danisa menatap Karenina sambil melongo. "Kenapa kamu jadi desperate begitu?" "Tapi kenyataannya memang begitu, Sa! Aku enggak ada apa-apanya dibandingin dia." Karenina menekan kata-kata itu, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi Aidan cinta mati sama kamu, Nin!" Danisa berseru, mencoba mengembalikan kepercayaan diri Karenina. "Tapi gimana dengan keluarganya, Sa? Kamu enggak tahu rasanya berhadapan dengan Ibunya Aidan. Aku merasa terintimidasi. Sekarang sikapnya jadi berbeda. Aku bisa merasakannya dari cara dia bicara dan menatapku. Dia tidak menyukaiku, Sa. Bukan hanya karena aku sudah mengecewakannya, tapi juga karena perbuatan Kak Martin. Dan aku juga merasa dia sudah tahu mengenai kalung itu. Makanya waktu itu dia memanggilku dan menanyakannya. Aku malu sekali, Sa. Dia pasti menganggapku sangat buruk. Aku merasa enggak pantas." Karenina menumpahkan semua keresahannya, suaranya bergetar. Danisa menarik napasnya dalam. Lalu ditatapnya Karenina dengan sungguh-sungguh. "Sekali-kali kamu harus pikirkan kebahagiaanmu, Nin. Jangan terus memikirkan orang lain. Belum tentu yang kamu pikirkan itu juga benar? Bagaimana kalau salah? Kalau kamu memang merasa Aidan akan membuatmu bahagia, kamu harus memperjuangkannya. Itu saja yang harus kamu pikirkan." Karenina mengusap wajahnya. Ia memang harus menerimanya. Karena saat ini ia tak punya pilihan lain selain menjalani apa yang ada di depan matanya. Ia tak bisa hidup tanpa Aidan. Sebuah kenyataan pahit yang kini mulai ia akui. Sudah tiga kali Trisha mencoba menekan bel pintu apartemen Aidan, tapi pintu itu tetap tak terbuka. Dengan wajah cemas, atau lebih tepatnya pura-pura cemas, ia lalu menekannya kembali. Dan pintu itu pun akhirnya terbuka. Aidan berdiri di hadapannya dengan wajah yang tampak baru bangun tidur, rambutnya acak-acakan. "Sorry! You're not coming to Yoga Class and you didn't answer my calls. I am worry!" Ucap Trisha menjawab tanya di wajah Aidan, suaranya dibuat sekhawatir mungkin, meskipun dalam hati ia tersenyum. Dengan enggan Aidan melebarkan pintu dan membiarkan Trisha masuk ke dalamnya. "Kamu baru bangun tidur?" Trisha bertanya, matanya menyapu seisi ruangan yang agak berantakan. Aidan mengangguk, menguap. "What's wrong? Any problem?" Tanyanya, dengan nada prihatin yang dibuat-buat. Aidan menggeleng. "Enggak apa-apa. Lagi males aja," sahutnya seraya berbaring di atas sofa dan kembali memejamkan matanya, tak menyadari seringai tipis di bibir Trisha. "Lagi ada masalah sama Nina?" Trisha melempar pancingan, tak sabar. Aidan diam tak menjawab. Trisha lalu tersenyum, penuh kemenangan. "Kalian pasti habis bertengkar?" Kejarnya, lebih berani. Kali ini Aidan menoleh dan menatap Trisha dengan kesal. "Kamu cerewet banget? Kami enggak ada masalah. Nanti sore juga dia ke sini," sahutnya. "Loh, bukannya dia lagi pergi ke luar kota?" Trisha mengangkat alisnya, seolah terkejut. Aidan mengangkat kedua alisnya. "Kata siapa?" Tanyanya, bingung. "Kata Bu Nora. Memangnya kamu enggak tahu?" Trisha semakin membuat drama. Aidan menggeleng dengan bingung. "Dia pergi ke mana?" Tanyanya lagi, nada suaranya mulai gelisah. "Bu Nora enggak bilang ke mana. Mungkin lagi healing? Ini kan, weekend?" Trisha menjawab santai, menaburkan sedikit bensin ke dalam bara api kecurigaan Aidan. Aidan menghela napasnya. Mengapa dia tak memberi tahukannya? Apakah dia masih marah? Resahnya. Ia pun lalu beranjak bangun, mengambil ponsel di dalam kamar dan menekan sebuah nomor. Namun tak ada sahutan dari nomor yang dituju. "Kamu udah makan?" Tiba-tiba saja Trisha sudah menyusul Aidan ke dalam kamar, seperti bayangan. Dan Aidan menjawab dengan gelengan kepala. "Aku masakin, ya? Kebetulan aku juga belum makan." Trisha mencoba menunjukkan perhatiannya. "Enggak usah repot. Pesan aja," sahut Aidan, masih fokus pada ponselnya. "Kelamaan kalau pesan. Aku masak spaghetti aja yang gampang, ya?" Trisha tak menyerah. Akhirnya Aidan mengangguk. "Thanks!" Ucapnya, pasrah. Dan Trisha pun meninggalkan kamar dengan bibir tersenyum puas. Ia tahu Karenina dan Aidan pasti habis bertengkar. Dan sepertinya itu karena dirinya. Ah, ternyata ini lebih mudah dari apa yang dipikirkannya. Ia tahu tugasnya hanyalah menyingkirkan Si Putri Cinderella itu, tapi apa salahnya kalau ia juga bisa membuat Sang Pangeran jatuh ke dalam pelukannya? Meski itu akan sulit, tapi ia yakin keluarga Aidan akan mendukungnya. Karena untuk saat ini ia sudah tak peduli lagi dengan cinta. Ia sudah mati rasa. Dan ia percaya bersama Aidan hidupnya akan lebih baik. Karena dia laki-laki yang setia. Dia tidak akan menyakiti hatinya, tidak seperti pria-pria lain yang pernah singgah di hidupnya. Dan dirinya tak akan lagi lelah berjuang. Ia akan menikmati hidup dengan nyaman, seperti yang dinikmati Karenina saat ini. Cinderella yang beruntung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD