Hidup Yang Baru

1108 Words
Di dalam mobil menuju Jakarta, suasana begitu tegang. Di depan, supir dan seorang pengawal duduk kaku. Di belakang, Aidan menggenggam tangan Karenina erat-erat, seolah takut ia akan mencoba melarikan diri. "Kenapa kamu laporin Bintang ke polisi?" tanya Karenina, suaranya tercekat. Entah mengapa ia harus menanyakannya, padahal sudah tahu jawabannya. "Dia menculikmu..." jawab Aidan tenang. "Kamu jahat… kamu tahu itu bukan penculikan," suara Karenina bergetar menahan emosi. "Kalau aku jahat, aku akan suruh polisi menangkap dia. Naira memintaku mencabut tuntutan. Aku melindunginya, Nin. Seperti aku melindungimu." Air mata Karenina jatuh, harapannya hancur berkeping. --- Aidan menatap Karenina yang masih terpaku sejak mereka tiba di apartemen sore tadi. "Akhir pekan besok kita ke Bali, ya? Liburan. Sekalian ketemu Mama dan Kakakmu." Karenina menggeleng cepat. "Dari kemarin mereka nanyain kamu. Udah lama enggak ketemu. Mamamu kangen," Bujuk Aidan, jemarinya lembut membelai rambut Karenina. Karenina kembali menggeleng. Ia tak percaya lagi pada Aidan. Mama adalah kelemahannya. Aidan pasti sudah menceritakan semuanya. Dia sengaja mengatur itu, agar Mama dan Kak Martin bisa menghakiminya. Menyalahkannya." "Izinkan aku bekerja lagi, Aidan," pinta Karenina, suaranya tercekat. "Kamu sudah melaporkan Bintang ke polisi. Dia tidak akan berani menemuiku lagi." "Untuk apa, Nin? Sudah ada Danisa yang mengurus. Kamu enggak perlu repot kerja." "Tapi aku bosan. Please, Aidan… Aku enggak akan ke mana-mana lagi. Aku akan menunggu pernikahan kita. Aku akan melakukan apa saja yang kamu minta, asal izinkan aku kembali ke perusahaan." Ia berusaha menyentuh sisi lembut Aidan, entah masih ada atau tidak. Aidan menatapnya sungguh-sungguh, seolah menimbang untung rugi. "Kamu akan menuruti apa pun keinginanku?" Karenina mengangguk hampir tak terlihat. "Please, Aidan…" Ia menyentuh wajahnya, mencoba meluluhkan hatinya. "Oke… dengan syarat…" Karenina menatap cemas. Persyaratan Aidan selalu seperti jebakan tersembunyi. "Aku tetap nomor satu. Pekerjaanmu nomor dua. Kamu tidak boleh menolak kapan pun aku meminta waktumu." Karenina terdiam, memikirkan konsekuensinya. Ia tahu persyaratan itu akan membuat Aidan semakin semena-mena, semakin menguasai setiap detik hidupnya. Tapi itu tetap lebih baik daripada hanya terkurung dalam apartemen tanpa daya. Akhirnya, ia mengangguk. "Dan satu lagi… Tolong kembalikan ponselku. Aku membutuhkannya." "Sudah rusak. Aku akan belikan lagi nanti." Mata Karenina menyala menahan geram. Ia lalu pergi ke kamar mandi. Mengambil ponsel dari Bintang yang ia sembunyikan di sana. Ia akan mengabarinya, memintanya untuk tidak mengkhawatirkannya lagi. Tidak perlu menghubunginya lagi. Saat menyalakan ponsel, pesan dari Bintang masuk: "Maaf, aku tak bisa menjagamu. Aidan meminta Naira memanggilku. Tolong katakan apakah kamu baik-baik saja." Air mata Karenina menetes. Ia membalas pesan itu, lalu mematikan ponsel saat terdengar pintu kamar mandi terbuka. "Aku mau mandi bareng kamu." Tiba-tiba Aidan memeluknya dari belakang. Karenina hanya bisa menahan air mata, menahan rasa lelah yang menghimpit. Aidan bahkan tak memberinya waktu sejenak untuk beristirahat. Kini ia menyadari—Aidan tidak mencintainya, dia hanya terobsesi. Bukankah cinta tidak memaksa? Di bawah siraman air, Karenina membiarkan tubuhnya dalam kuasa Aidan. Matanya terpejam, membayangkan Bintang. --- Di rumahnya, Bintang menatap Naira dengan hati berdebar. "Aku memutuskan untuk mempertahankan pernikahan kita," ucap Naira tegas, matanya menatap lurus ke Bintang. Bintang menghela napas, dadanya mendadak sesak. "Orang tuamu sudah tahu?" tanyanya, suaranya pelan, penuh kebimbangan. Naira menggeleng. "Ini keputusanku sendiri. Untuk kali ini aku memaafkanmu. Aku percaya kamu tak akan mengulanginya lagi. Demi pernikahan kita, berjanjilah kamu tidak akan menemuinya lagi. Lupakan dia. Kita mulai lembaran baru." Bintang menelan ludah, janji itu terasa berat—mungkin akan menghancurkan sepotong hatinya sendiri. Namun, ia juga sadar, Naira adalah bagian dari hidupnya yang tak bisa ia abaikan. --- Danisa tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Karenina datang bersama Aidan. "Mulai hari ini Nina akan kembali bekerja." Aidan menatap Danisa dengan tajam. "Kalau sekali lagi aku tahu kamu membantu Bintang membawa kabur Nina, kamu juga akan ku laporkan ke polisi!" Danisa membeku, tak mampu berkata apa-apa. "Aidan…" Karenina mencoba menenangkannya. Aidan menatap Karenina, senyum tipis terukir di bibirnya. "Sampai makan siang." Ia melangkah pergi, meninggalkan ketegangan yang menggantung di udara. Karenina duduk di ruangannya yang terasa lebih dingin. Matanya menatap kursi panjang di depan. Ingatannya kembali pada Bintang, saat memeluknya di sana. Ia bangkit, duduk bersandar di kursi, mendekap dadanya seolah ingin memeluk kembali kenangan itu. Tanpa Karenina sadari di ruang kerjanya, Aidan menatapinya dari layar cctv yang tersambung ke ponselnya. Aidan tahu Bintang pernah memeluk Karenina di sana. Dan sekarang Karenina sedang mengenangnya. Rahang Aidan mengeras. Sekejap kemudian, ponsel itu melayang ke dinding, pecah. --- Setengah hari berlalu, waktu terasa lambat bagi Karenina. Ia tidak bisa fokus pada pekerjaan. Pernikahannya tinggal tiga minggu lagi. Masa depan yang dulu ia nantikan, tapi kini terasa mengancam. Masa depan itu tak lagi indah seperti bayanganya dulu. Tapi kelam, menakutkan. Apakah ia akan mampu bertahan? Danisa masuk, menunjukkan pesan dari Aidan: "Dia menunggu makan siang di tempat biasa." Dengan langkah berat, Karenina pergi. Aidan sudah menunggunya. "Aku sudah pesankan makananmu." Karenina hanya mengangguk pelan. Selera makannya bahkan sudah hilang. "Aku belikan ponsel baru." Aidan memberikan sebuah kantong. "Aku sudah aku isi nomornya. Aku juga sudah clone aplikasi pesanmu. Kamu tak bisa menghubungi siapa pun tanpa sepengetahuanku." Karenina menggeleng-gelengkan kepala. "Posesifmu sudah tak masuk akal." "Kamu yang bikin aku hilang akal," balas Aidan tajam, seolah mengunci ruang Karenina untuk melawan. Karenina terdiam. "Habis ini kita pulang," ucap Aidan, nadanya memerintah. Karenina mengernyit, bingung. "Ini kan masih siang? Aku masih kerja." "Aku ngantuk. Semalam kurang tidur." "Kenapa harus ditemani?" Kebingungan Karenina memuncak. "Ingat, Nin, kamu sudah janji. Aku nomor satu." Aidan menekankan setiap kata. Karenina mengembuskan napas kesal, menyadari ini akal-akalan Aidan. Dia tak pernah bersungguh-sungguh mengizinkannya kembali bekerja. "Oh ya, Danisa sudah bicara soal persiapan pernikahan kita?" Karenina mengangguk malas. "Lalu?" "Aku enggak mau membicarakannya di sini." "Di mana lagi? Tinggal tiga minggu lagi, Nin!" Suara Aidan meninggi. "Kamu yang membuatnya jadi tiga minggu," balas Karenina. "Dan aku akan membuatnya satu minggu kalau kamu terus begini!!" Suara Aidan menggema, membuat orang-orang di restoran menoleh. Aidan menarik napas, mencoba menenangkan diri. "Lupakan Bintang. Kalian tak akan pernah bertemu lagi. Lupakan cinta monyetmu. Kamu tak bisa menghindari pernikahan ini." "Kenapa kamu ingin sekali pernikahan ini terjadi, Aidan..." suara Karenina bergetar. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi." Air matanya menggenang. "Menikahimu adalah mimpiku. Dan itu akan terjadi. Aku akan membahagiakannmu. Lupakan Bintang. Dia sudah milik orang lain. Sadarlah, Nin! Bangun dari tidurmu!" Aidan menekankan, seolah membangunkan Karenina dari mimpi panjangnya. Bahagia? Apa dia tahu artinya bahagia? Karenina menatap mata Aidan, mencoba mencari sesuatu yang bisa ia pahami. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan yang dingin, seolah menahan sesuatu yang tak bisa dijangkau. Mata itu tak pernah memancarkan kehangatan, hanya intensitas yang menuntut kepatuhan. Mata yang membuat semua keberaniannya menguap begitu saja, tertelan oleh aura gelap pria di depannya. Ia menyadari, di hadapan Aidan, dirinya tak lagi memiliki ruang untuk lepas atau menolak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD