"Kemarin, Papa ngomong apa?" Suara Dristi membuat Nata yang baru saja masuk ke lingkungan sekolah berhenti melangkah dan menolehkan kepalanya ke arah gadis itu. Kedua tangan Dristi disilangkan di depan d**a, menunggu jawaban Nata yang tak kunjung keluar dari bibirnya. Perlahan, gadis itu berjalan mendekatinya. "Gue butuh jawaban lo, Nata ...," Dristi gemas. "Bukannya mau liatin lo yang mendadak ganti profesi jadi patung selamat datang gitu." Nata mengerjap sekali. "Oh," kemudian mengedikkan bahu. "Bukan apa-apa, kok." Melihat reaksi Nata yang acuh tak acuh membuat Dristi menghela napas. Apalagi ketika pemuda itu berjalan menjauhinya, memasuki gedung sekolah dengan santai seperti tidak meninggalkan seorang gadis yang sudah berlari mengejarnya karena rasa penasaran yang menyelimutinya.

