Bab 69

1638 Words
Washington, D.C (US) Proses yang harus dilewati untuk mematikan seluruh sistem matahari buatan membutuhkan waktu sekitar satu jam. Austin dan Hugo terlihat sangat fokus untuk menangani sistem komputer yang sudah diprogram untuk melakukan pekerjaan secara otomatis. Alfred tidak pernah menyangka jika dia akan menyaksikan sendiri bagaimana rekan timnya berusaha untuk menghentikan sistem matahari buatan yang mereka bangun dengan susah payah. Ada rasa tidak rela setiap kali mengingat jika setelah ini mereka semua akan menghadapi sebuah masalah yang besar karena Alfred kembali melanggar keputusan pemerintah. “Kau yakin kita akan menghentikan sistem kerja matahari buatan? Berdasarkan laporan yang kuterima, beberapa negara mengalami penurunan suhu udara setelah mereka mematikan sistem kerja matahari buatan” Alfred menolehkan kepalanya dan menatap seorang rekan kerjanya yang juga sedang menyaksikan Austin dan Hugo yang fokus menatap layar komputer mereka. Bagi Alfred, tidak ada keputusan yang tidak memiliki risiko. Seumur hidupnya, Alfred telah mengalami banyak kegagalan, tidak sedikit caci maki yang ia dengar dari orang-orang terdekatnya. Kali ini Alfred kembali mengambil sebuah keputusan yang begitu beresiko. Mungkin bukan hanya orang terdekatnya saja yang akan memaki Alfred, tapi hampir semua orang di benua Amerika akan menentang keputusan Alfred. Mematikan sistem kerja matahari buatan berarti menghentikan pancaran cahaya dan suhu panas yang dihasilkan oleh matahari buatan. Sampai saat ini masih ada lapisan karbon yang menutupi atmosfer sehingga panas matahari memantul keluar dari bumi. Suhu udara akan semakin menurun karena sampai saat ini matahari buatan adalah satu-satunya sumber energi panas yang bisa menormalkan suhu udara. Ada banyak orang yang memiliki trauma dengan penurunan suhu yang begitu drastis, Alfred sendiri menyadari jika keputusannya berpotensi untuk menimbulkan keributan karena merasa panik dan ketakutan. Tidak ada satupun orang yang siap untuk mengulangi bencana gelombang udara dingin yang terjadi beberapa bulan lalu. Namun saat ini Alfred tidak memiliki pilihan lain. Benua Asia memerlukan waktu untuk memperbaiki sistem regulasi mereka, sebelum mereka berhasil melakukan perbaikan, menyalakan sistem kerja matahari buatan hanya akan memperburuk keadaan. “Jika sistem matahari buatan tidak dimatikan maka bisa saja kita mengalami bencana yang lebih mengerikan dari gelombang udara dingin..” Alfred menjawab dengan tenang. Keputusan Alfred untuk mematikan sistem kerja matahari buatan masih dirahasiakan oleh seluruh anggota timnya. Meskipun begitu, Alfred mengerti jika cepat atau lambat pemerintah pasti akan segera menyadari perbuatan Alfred. “Bukankah bencana itu hanya perkiraanmu saja? Kita masih belum tahu apakah bencana itu akan benar-benar terjadi. Bagaimana jika Benua Asia berhasil memperbaiki sistem regulasi matahari buatan mereka dan ternyata apa yang kita lakukan sama sekali tidak berpengaruh pada kinerja mereka?” Alfred sadar jika tidak semua anggota tim mendukung keputusannya. Ada banyak orang yang merasa keberatan dengan keputusan yang Alfred buat karena mereka merasa khawatir dengan kelanjutan karir dan masa kerja mereka. Wajar jika seseorang mengkhawatirkan masa depan mereka, namun Alfred tetap tidak bisa mengubah keputusannya. Sekalipun tidak ada yang tahu, tapi Alfred terus memikirkan keselamatan masyarakat. Ada banyak orang yang kehilangan keluarga mereka ketika bencana gelombang udara dingin terjadi beberapa bulan lalu. Alfred tidak ingin hal yang sama kembali terjadi. Trauma dan luka batin masyarakat masih belum benar-benar sembuh, namun mereka harus kembali berhadapan dengan bencana baru yang mengancam kehidupan seluruh manusia. “Semua orang yang bekerja untuk proyek matahari buatan tahu persis bagaimana hubungan proyek di benua kita dengan proyek di benua yang lainnya. Sekalipun tidak melalui persetujuan pemerintah, sebenarnya seluruh proyek matahari buatan saling berhubungan satu sama lain. Apakah kau sungguh tidak memahami konsep kerja matahari buatan?” Alfred menatap seorang pria yang sejak tadi terus mengajukan pertanyaan kepadanya. “Keputusan ini sangat beresiko. Kami semua hanya berusaha untuk mengkonfirmasi mengenai keputusan yang kau buat..” Alfred menganggukkan kepalanya dengan tenang. Saat ini semua anggota timnya sedang merasa gelisah karena memikirkan kelanjutan dari keputusan yang Alfred buat. Proyek matahari buatan dikerjakan oleh ratusan ilmuan hebat yang sekarang tergabung di dalam tim kerja Alfred. Ada banyak anggota baru yang memutuskan untuk bergabung bersama dengan Alfred. Wajar jika mereka merasa asing dengan keputusan beresiko yang Alfred buat. “Pada dasarnya, kita semua menghadapi banyak resiko setiap kali mencoba untuk mengambil keputusan. Kalaupun kita memilih untuk mengikuti keputusan pemerintah, pada akhirnya bisa saja kita akan dituntut oleh masyarakat karena memilih untuk menjalankan keputusan yang salah..” Alfred kembali berbicara sambil terus fokus untuk memperhatikan Austin dan Hugo. Selama ini Alfred tidak pernah meragukan kemampuan Austin yang begitu menakjubkan ketika sedang berhadapan dengan komputer, tapi jujur saja Alfred sedikit terkejut ketika melihat Hugo yang begitu lihai dalam mengendalikan simbol-simbol yang menjadi kode khusus dalam proyek matahari buatan. “Hanya dengan menambahkan satu kode lagi, maka matahari buatan akan berhenti beroperasi. Cahayanya akan tetap bersinar, namun kita tidak akan bisa merasakan kehangatan suhu matahari buatan. Dalam satu atau dua hari ke depan, semua orang pasti akan menyadari jika suhu udara semakin turun..” Hugo menyelesaikan pekerjaannya dan kembali memberikan laporan kepada Alfred. Alfred memajukan langkahnya dan mendekati layar komputer berukuran besar yang menampilkan berbagai kode khusus. Alfred bisa membaca seluruh kode perintah yang ditampilkan oleh layar komputer tersebut, namun ia tidak sepandai Austin dan Hugo. “Matikan seluruh sistem kerja matahari buatan. Aku akan mengirimkan kabar ini kepada pemerintah Asia..” Alfred tersenyum dengan tenang lalu membalikkan tubuhnya untuk mendekati telepon seluler yang terpasang di atas meja kerja. Kali ini Alfred sungguh berharap ia kehilangan rasa kemanusiaan di dalam hatinya. Keputusan yang ia ambil berdasarkan rasa peduli yang terus membebani pikirannya, dan Alfred sungguh menyesali kepedulian yang ia rasakan. Sebentar lagi Alfred akan mendapatkan hujatan dari seluruh masyarakat yang tinggal di benua Amerika, mereka pasti akan menentang keputusan Alfred dan berusaha untuk menjatuhkan Alfred. Kekuatan masyarakat begitu kuat sehingga Alfred tidak akan bisa melawan mereka, jika masyarakat berusaha untuk menjatuhkannya, maka Alfred tidak akan memiliki kesempatan untuk menyatakan pembelaannya. Namun.. atas dasar kemanusiaan yang masih mempengaruhi pikirannya, Alfred akan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Bahkan Alfred akan terus berusaha untuk menyelamatkan masyarakat sekalipun mereka akan berbalik dan menyerang Alfred. *** “Aku tidak mengerti kenapa kau mengambil keputusan segila itu..” Felix mengulurkan segelas kopi napas sambil duduk di samping Alfred yang sedang menatap langit dari jendela kantornya. “Kau setuju pada keputusanku..” Jawab Alfred dengan santai. “Aku memang selalu mengikuti keputusan yang kau buat. Apakah kau lupa? Kita bekerja sama selama lebih dari lima tahun. Aku sangat mempercayai setiap keputusan yang kau buat, tapi kali ini aku terus bertanya-tanya mengapa kau memilih untuk mendapatkan masalah dengan menolak keputusan yang dibuat oleh pemerintah?” Alfred menyesap kopi yang baru saja diberikan oleh Felix. Rasa pahit langsung memenuhi bibirnya dan mengalir untuk menyebar ke seluruh organ tubuhnya. Alfred bukan tipe orang yang suka meminum kopi pahit, tapi kali ini ia memilih untuk menahan protes yang sudah berada di ujung bibirnya untuk menghargai pemberian Felix. “Kupikir kau sudah mengerti apa alasanku..” Kata Alfred dengan tenang. Dibandingkan merasa gelisah karena surat gugatan yang dilayangkan oleh wakil presiden, lebih baik Alfred berusaha untuk menenangkan dirinya demi bisa menghadapi setiap masalah dengan baik. Setelah hari ini, Alfred tahu jika hidupnya tidak akan pernah tenang. Pemerintah memiliki wewenang untuk mengajukan tuntutan kepada Alfred, dan Alfred tidak memiliki kesempatan untuk memberikan pembelaan atas tuntutan tersebut. “Kau terlalu sulit untuk dimengerti, bahkan mungkin Charlotte juga merasakan hal yang sama. Sejak tadi wanita terlihat menatapmu dengan pandangan tidak percaya.. Aku jadi merasa prihatin kepadanya..” Ketika mendengar nama Charlotte disebut, Alfred langsung mengingat jika sejak beberapa jam yang lalu ia sama sekali tidak bertemu dengan wanita itu padahal tadi Charlotte ikut datang ke kantor bersama dengannya. Astaga, apakah Alfred terlalu sibuk sehingga ia lupa memperhatikan orang-orang di sekitarnya? Dia sampai melupakan keberadaan Charlotte karena larut pada permasalahan yang sedang ia hadapi. “Aku harus menemuinya, terima kasih atas kopi pahit yang kau berikan..” Alfred mengembalikan gelas kopi kepada Felix yang sedang menatapnya dengan kebingungan. Tanpa mengatakan apapun Alfred segera meninggalkan ruang kerjanya untuk mencari Charlotte. Jari tangan Alfred bergerak dengan lincah di atas layar ponselnya untuk menghubungi Charlotte. Menemukan seseorang di dalam kantor yang begitu luas adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Namun, begitu Alfred menempelkan layar ponsel ke telinganya, ia justru melihat Charlotte yang sedang berdiri di ujung lorong. Wanita itu menatapnya dengan tatapan sendu, tangannya bergerak dengan cepat untuk menerima panggilan dari Alfred sehingga hanya dalam hitungan detik, mereka berdua tersambung dalam panggilan suara. Menatap Charlotte membuat Alfred kembali sadar jika ia tengah berada di dalam sebuah masalah yang begitu besar. Di hadapan semua orang, Alfred tampak seperti seorang pria dewasa yang siap menghadapi masalah seorang diri, namun begitu menemukan Charlotte.. Alfred merasa sangat rapuh. Ia ingin segera berlari mendekati wanita itu lalu memeluk dan meletakkan bebannya sejenak untuk bersandar di bahu Charlotte yang begitu ringkih. “Aku akan segera datang..” Suara Charlotte terdengar menggema di sambungan telepon. Tanpa memberikan jawaban apapun, Alfred segera melanjutkan langkah kakinya untuk semakin mendekat kepada Charlotte. Begitu jarak mereka semakin dekat, Alfred segera menarik tubuh Charlotte untuk masuk ke dalam pelukannya. Dunia yang baru saja berpihak kepadanya kini beralih untuk melawan seluruh mimpi dan harapan yang ia miliki. Sudah sekian kali Alfred menegaskan jika ia telah terbiasa dengan sebuah kegagalan. Selama ini Alfred juga sanggup menghadapi kegagalannya seorang diri, namun setelah menemukan Charlotte Alfred merasa jika ia kembali menemukan tempat bersandar yang mampu menjadi rumah peristirahatan di kala ia merasakan sebuah kehancuran. Charlotte, wanita itu akan selalu menerima Alfred sekalipun kehancuran Alfred berpotensi untuk menariknya ke dalam kehancuran yang sama. Sekalipun terasa sulit, Charlotte selalu berusaha untuk tetap bertahan di sisinya, menjadi pendukung utama yang akan berdiri di baris terdepan untuk menyambut Alfred yang sedang menghadapi kegagalannya. Wanita itu akan terus berada di tempat yang sama untuk menyambut keberhasilannya dan memberikan pelukan terbaik ketika Alfred pulang sebagai seorang pecundang. “Semuanya akan baik-baik saja..” Charlotte berbisik dengan suara yang pelan. Alfred sudah sering mendengar kalimat yang sama dari orang-orang yang ada di sekitarnya, namun selama ini hanya Charlotte yang mampu menenangkan kegelisahannya dengan sebuah kalimat sederhana yang begitu singkat. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD