…yang telah menikah. Perselingkuhan satu malam, sebuah kejahatan. Penyesalannya hanya satu ia menukarkan penderitaan lama dengan penyesalan yang seribu kali lipat lebih mematikan.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi ketika Gibran terbangun. Matahari sudah sepenuhnya mengambil alih Jakarta, memancarkan cahaya keras menembus celah gorden tebal kamar hotel mewah yang asing itu.
Kepalanya berdenyut hebat. Bau parfum mahal dan alkohol keras masih tertinggal, bercampur dengan aroma penyesalan yang pekat. Gibran mendudukkan diri, seprai sutra di bawah tubuhnya terasa terlalu licin, terlalu mewah untuk kebobrokan yang terjadi di atasnya semalam.
Lalu, kesadaran menghantamnya secepat kilat. Ia sendirian.
Ia menoleh ke samping. Sisi tempat tidur yang tadi malam dipenuhi rambut panjang berwarna karamel dan tawa serak, kini rapi dan kosong, seolah tak pernah ditempati. Gibran tahu bahwa dalam ketidaksempurnaan malam itu, wanita yang ia temui memiliki kendali yang luar biasa. Ia mengenali kemarahan di mata Alina, wanita yang ia cintai dalam diam selama masa remaja, wanita yang dengan dingin ia tolak di depan publik demi mempertahankan skenario rencana yang telah diatur oleh keluarganya.
Alina.
Bukan lagi memori samar, bukan lagi hantu yang terkubur, tetapi kenyataan yang menyakitkan. Mereka tidak hanya berpapasan di koridor apartemen, mereka berbagi seprai. Dan ia melakukan semua itu dengan cincin platinum melingkar erat di jari manisnya.
Jari manis yang dimaksud, tiba-tiba terasa seperti besi panas yang mencengkeram. Ia menatap simbol janji itu, sebuah benda yang dibelinya dengan kartu kredit ayahnya, hadiah pernikahan yang dingin untuk wanita yang juga dibelinya oleh uang ayahnya. Soraya.
Gibran bergegas bangkit, mengenakan celana jins yang tergeletak di lantai marmer, lalu mencari jaket kulitnya. Ponselnya ada di dalam. Ia mengambilnya, jantungnya berdebar kencang, takut akan rentetan panggilan atau pesan yang menuntut penjelasan dari rumah. Anehnya, layar ponsel sunyi. Tidak ada pesan dari Soraya. Hanya beberapa notifikasi email kantor yang ia abaikan.
Ini aneh. Soraya, meskipun tidak mencintainya, adalah seorang penjaga protokol yang sangat ketat. Ketidakhadirannya harusnya sudah memicu pertanyaan. Tapi ini justru lebih menakutkan: keheningan yang berarti bahwa masalahnya belum sampai di permukaan.
Ia harus segera pulang. Membersihkan dirinya. Mengenakan perisai dr. Gibran Mahesa yang sukses dan sempurna, dan menghadapi Tembok Mahesa yang terbuat dari kebekuan dan ekspektasi tinggi.
Setelah terburu-buru mengenakan baju, Gibran meninggalkan hotel, kembali ke distrik yang sudah sangat ia kenal, ke apartemennya yang terletak hanya dua koridor dari unit Alina.
Tiba di pintu unitnya, ia menghela napas panjang. Begitu pintu terbuka, bau bersih dan tajam dari disinfektan dan pengharum ruangan yang mahal langsung menusuk indranya, mengusir sisa bau alkohol hotel. Ini adalah bau rumah. Bau dari sang istri, Soraya Adnan, yang menjamin kebersihan dan ketertiban. Semuanya sempurna di sini. Bahkan hubungan kami, setidaknya di permukaan.
Soraya sedang duduk di sofa ruang tengah, membaca majalah bisnis impor, kaki bersilang, penampilannya tanpa cela bahkan di pagi hari menjelang siang. Gaun sutra rumah berwarna perunggu memeluk siluetnya, rambut hitamnya digelung rapi. Dia adalah patung Yunani yang hidup, dingin, mahal, dan sangat indah.
“Oh, surprise, surprise,” Soraya berkomentar, suaranya halus seperti es yang pecah. Ia tidak mengangkat mata dari halaman majalahnya.
Gibran menutup pintu, keheningan di belakangnya menelan kebisingan lift dan lobi.
“Aku tahu. Maafkan aku, Sayang. Ada kasus darurat mendadak semalam, dan telepon rumah sakit mati—”
Soraya akhirnya menutup majalahnya dengan suara lembut dan presisi yang mematikan, meletakkannya di atas meja kopi berlapis kaca. Ia menatap Gibran, dan dalam tatapannya tidak ada kehangatan, hanya sebuah analisis profesional, seolah Gibran adalah kliennya yang gagal mematuhi kontrak.
“Kasus darurat yang melibatkan cologne dan bau Bourbon, Gibran?” Soraya menyipitkan mata, bibirnya yang tipis membentuk garis sempurna. “Setahuku, kau adalah spesialis ortopedi. Bukan UGD. Kecuali jika sekarang kau juga menjabat sebagai relawan di yayasan mabuk gratis di Senopati.”
Gibran merasa panas menjalar ke lehernya. Dia meremas gagang tas kerjanya.
“Jangan mengada-ada, Soraya. Itu hanyalah sisa bau ruangan rumah sakit lama yang kupakai. Kau tahu aku membenci alkohol.”
“Tentu, aku tahu,” katanya, nada suaranya mengancam. “Aku tahu semua tentangmu, suamiku. Dan yang aku tahu, dr. Gibran Mahesa yang terkenal, anak emas dari Laras Mahesa, tidak akan pernah berlama-lama di luar tanpa memberitahu istrinya, apalagi saat kita memiliki jadwal makan malam penting dengan keluarga Gubernur besok malam.”
Gibran melonggarkan dasinya, yang bahkan ia sendiri tidak ingat kapan ia kenakan lagi. Mungkin ia meninggalkannya di mobil. Dia lelah menghadapi semua sandiwara ini.
“Ini bukan soal makan malam, Soraya. Ini tentang kau mengawasiku seolah aku adalah narapidana. Aku bukan anak kecil lagi. Aku punya pekerjaan yang harus kuurus. Kadang pekerjaan itu menuntutku untuk menginap, meskipun itu tidak sering.”
Soraya tersenyum—senyum tanpa kehangatan yang ia berikan pada fotografer sosialita dan bukan pada suaminya. “Mengawasi? Itu adalah kata yang kasar. Aku hanya memegang kendali atas janji yang kau buat, Gibran. Kita menikah untuk sebuah kesepakatan. Kesepakatan yang dibuat di hadapan Ibundamu, Tante Laras, dan tentu saja, semua mitra bisnis keluarga Adnan dan Mahesa.”
Ia mencondongkan tubuh ke depan. “Aku mempertahankan statusmu. Kau mempertahankan statusku. Apakah kau lupa inti dari pernikahan kita, Dokter?”
Kata-katanya menelanjangi semua sisa romansa. Pernikahan mereka adalah perusahaan patungan, bukan rumah tangga. Di mata mereka berdua, cincin di jarinya adalah logo merek, bukan ikatan suci.
“Aku tidak lupa, Soraya,” desis Gibran, berusaha menjaga suaranya tetap rendah. “Hanya saja, menjadi dokter di rumah sakit terkemuka itu cukup membuatku stres. Bisakah aku tidak mendapatkan interogasi pagi setiap kali aku pulang terlambat?”
“Tentu saja,” Soraya mendesah, meraih segelas air es dari meja. “Tetapi tekanan di rumah sakit hanyalah tekanan karir. Tekanan sebenarnya adalah harapan yang kau pikul, Gibran.”
Gibran merasakan alarm berbunyi di benaknya. Ia tahu apa yang akan datang. Satu topik yang selalu membebani pernikahan tanpa gairah ini.
“Kita sudah membicarakannya. Kami sedang berupaya,” katanya cepat.
Soraya mendengus sinis. “Berupaya? Sudah hampir dua tahun, Gibran. Dua tahun dengan laporan kesehatan yang menyatakan kita berdua subur. Sementara Tante Laras sudah mulai menanyakan kepada ibu-ibu sosialita lain di mana tempat praktik ginekolog terbaik.”
Ia meneguk airnya perlahan, tatapannya tak lepas dari wajah Gibran yang mulai tegang.
“Tante Laras mulai tidak sabar. Dia melihat anak laki-laki dari keluarga Hartono baru saja mendapatkan anak ketiga. Kau tahu reputasi yang harus kita jaga.” Soraya menjeda, suaranya kembali sedingin jarum suntik. “Jadi, mari kita hentikan kebohongan dan sandiwara yang tak perlu ini. Jika kau stres karena pekerjaan, kita bisa berlibur. Aku akan atur penerbangan. Bali, akhir pekan ini.”
Gibran menggeleng. Liburan berarti harus berpura-pura, berpura-pura tidur sekamar, berpura-pura bahagia, dan berpura-pura melakukan tanggung jawab yang sebenarnya membuat perutnya mual.
“Tidak perlu, Soraya. Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu tidur. Tolong, aku minta waktu sendiri.”
Soraya bangkit dari sofa, bergerak dengan anggun hingga berdiri tepat di depannya. Tingginya, ditopang oleh sikap angkuh, terasa menjulang di atas Gibran. Ia merapikan kerah baju Gibran, tindakan itu lebih merupakan pemosisian ulang daripada sentuhan kasih sayang.
“Aku juga butuh tidur, Gibran. Aku menghabiskan waktu semalam menanggapi semua pertanyaan kolega Ayah tentang ketidakhadiranmu di acara amal, membuat alibi profesional untukmu.” Ia menatap mata Gibran dengan intensitas yang mengerikan, menuntut kejujuran tanpa membiarkan Gibran memiliki privasi sedikit pun.
“Kau sudah berjanji pada ibuku dan ibumu, bahwa kehidupan di balik pintu apartemen ini akan selalu sejalan dengan apa yang kalian tunjukkan pada publik. Ketertiban, stabilitas, dan kebahagiaan. Jika ada hal yang merusak itu, bahkan sedikit—” Soraya menjauhkan tangannya dari Gibran, kembali ke mejanya, dan mengambil ponselnya.
“—itu akan menjadi masalah besar bagi kita berdua. Jadi,” Soraya memutar ponsel di jarinya, “Kau sudah cukup tidur. Segera mandi, karena malam ini ada resepsi penting di Kebayoran, dan kita harus datang. Ingat, Gibran, perfection adalah aset utama Mahesa. Jangan biarkan sebuah kesalahan kecil merusak citra yang sudah kita bangun dengan susah payah.
Gibran merasakan seluruh beban pernikahan ini, beban harapan keluarga, dan beban moral dari malam kemarin, menindih bahunya. Ia melihat cincin di jarinya lagi, simbol kebohongan yang ia jalani.
Aku melakukan kesalahan besar. Bukan hanya semalam di hotel, tapi kesalahan selama tiga puluh tahun terakhir ini, hidup di bawah bayangan ‘perfection’ ibuku.
“Apakah aku jelas?” tanya Soraya, nadanya sudah bukan lagi pertanyaan, melainkan sebuah ultimatum.
Gibran hanya mengangguk pelan.
“Bagus. Dan Gibran…” Soraya menahan napasnya, pandangannya mengeras sedikit, seolah ia baru saja memutuskan untuk mengeluarkan satu kata yang akan ia gunakan sebagai ancaman masa depan. “Jika ada sesuatu yang terjadi yang akan mengancam stabilitas ini, pastikan kau memberitahuku sebelum Tante Laras tahu. Aku akan lebih pengertian daripada dia.”
Gibran merasa dingin. Dia tahu Soraya tidak sedang berbicara tentang kasus UGD palsu. Soraya, entah bagaimana, sudah mencium adanya aroma lain, aroma kebebasan dan pengkhianatan yang jauh lebih baru.
“Aku hanya stres. Aku hanya butuh istirahat,” Gibran mengulanginya, meyakinkan dirinya sendiri lebih dari istrinya.
Soraya mencondongkan kepalanya sedikit. “Mungkin kau perlu merencanakan lagi jadwal pertemuanmu dengan dokter kandungan,” ujarnya, lalu senyumnya menghilang total, digantikan oleh tatapan tajam dan menguji.
“Laras menanyakan mengapa kau masih sering