Yang tebal dan berkilau, mematri janji setia yang seharusnya ia lindungi, bukan ia injak-injak semalam.
Cincin kawin.
Dunia berputar, bukan lagi akibat alkohol, melainkan oleh vertigo moral yang tiba-tiba melanda. Kenapa ia begitu bodoh? Kenapa ia begitu buta oleh amarahnya pada Raka sehingga gagal melihat simbol sejelas matahari itu?
Tidak hanya di foto itu. Alina menekan telapak tangan ke pelipisnya. Ia memejamkan mata dan memaksa dirinya mengingat kembali detail mengerikan yang semalam ia anggap tidak relevan.
Ketika Gibran menciumnya di lobi, tangan pria itu memegang pinggulnya, dan jari manis itu terasa dingin, padat, berlogam. Ketika Gibran membantunya melepaskan gaun, cincin itu memantulkan cahaya lampu remang-remang hotel.
Itu ada di sana. Sepanjang malam. Simbol pernikahan yang ia hancurkan, simbol komitmen yang ia remukkan di bawah kaki hasrat sesaat yang dipicu oleh kesedihan.
Rasa jijik tidak hanya tertuju pada Gibran, yang seharusnya lebih tahu, melainkan pada dirinya sendiri. Alina Prameswari. Wanita yang selalu menganggap integritas sebagai mantra. Auditor yang teliti dan selalu memegang kode etik setinggi langit. Dan kini, ia adalah wanita yang berzina dengan suami orang. Suami dari wanita lain. Cinta pertama yang dulu menolaknya karena memiliki ‘rencana hidup’, kini menjadikannya ‘kesalahan’ dalam rencana yang sudah ia bangun dengan susah payah.
Kenapa aku melakukan ini? Demi apa? Apakah rasa sakit karena dikhianati membuatku berpikir bahwa membalasnya dengan penghancuran diri sendiri adalah solusi?
Perlahan, guncangan itu mereda, digantikan oleh kesadaran yang dingin dan brutal. Ia harus pergi. Segera. Sebelum Gibran bangun, sebelum mereka bertukar kata-kata yang penuh penyesalan, atau lebih buruk, bertukar rencana konyol untuk melupakan. Melupakan tidak mungkin. Tetapi menjauh adalah satu-satunya pilihan untuk mencegah jurang ini menjadi semakin dalam.
Waktu bergerak lambat sekaligus tergesa-gesa. Pukul 04.45 pagi.
Alina kembali mengenakan gaun semalam yang kini terasa menyakitkan dan najis di kulitnya. Ia tidak peduli gaun itu lecek dan terlihat seperti baru saja keluar dari mesin cuci; ia hanya ingin menutupinya. Rasa dingin hotel menyeruak ke tulang, seolah kedinginan itu adalah penyesalan yang membeku.
Ia mengumpulkan tas kecilnya, memeriksa ponsel. Ia harus pergi seperti hantu. Tidak meninggalkan jejak. Tidak ada kata. Tidak ada surat. Tidak ada panggilan.
Alina melirik ranjang. Gibran tertidur lelap, terbaring telungkup di antara seprai putih yang berantakan. Wajahnya, tanpa kacamata, tampak polos dan kelelahan, bukan seperti dokter sukses yang terkendali, melainkan hanya seorang pria yang sama putus asanya dengan dirinya sendiri semalam.
Untuk sepersekian detik, sebuah dorongan liar muncul. Haruskah aku membangunkannya? Berteriak padanya? Memintanya menjelaskan cincin itu, menjelaskan kebohongan, menjelaskan kenapa dia merusak diriku, dirinya, dan pernikahan yang ia ikat?
Tidak. Itu akan membuatnya bertahan. Itu akan menciptakan ikatan, seburuk apa pun itu. Ia tidak butuh ikatan dengan kehancuran.
Mereka harus bertindak seolah malam itu tidak pernah ada.
Itu mudah baginya, dia punya Soraya, dia punya ‘rencana’, batin Alina pedih. Dia akan kembali ke sarangnya. Tapi aku? Aku tidak punya apa-apa untuk kembali, kecuali sisa-sisa amarah dan kehampaan.
Mengabaikan rasa sakit yang menghantam ulu hatinya, Alina menyelinap keluar. Ia bergerak pelan, menghindari bunyi gesekan sepatu di lantai karpet. Ia menarik napas dalam-dalam saat tangannya mencapai gagang pintu, berjanji pada dirinya sendiri bahwa setelah pintu ini tertutup, Gibran Mahesa akan kembali menjadi sekadar kenangan masa lalu dan tetangga canggung di ujung koridor apartemen.
Pintu tertutup tanpa suara, mengunci malam terlarang itu di belakangnya. Di lorong yang remang-remang, Alina berjalan cepat menuju lift, menekan tombol turun tanpa berpikir. Kepalanya penuh dengan perhitungan, seolah ia adalah seorang auditor yang tengah menghadapi skandal terbesar di klienny, kali ini, skandalnya adalah dirinya sendiri.
Apartemen. Mandi lagi. Buang semua baju ini. Mulai kerja. Aku akan mengurusnya. Aku harus.
Namun, di dalam kotak lift berlapis cermin perunggu itu, saat ia melihat pantulan dirinya, ia melihat lebih dari sekadar wanita yang lelah dan berantakan. Ia melihat seorang wanita yang wajahnya diselimuti noda dosa yang tidak kasat mata.
Tiba di lobi, ia langsung memesan taksi online, memastikan tujuan pertamanya adalah apartemen, bukan tempat lain yang mungkin bisa menjadi titik lemah.
Beberapa menit kemudian, ia berada di kursi belakang taksi, meninggalkan distrik bisnis Senopati yang sunyi menjelang fajar. Gedung-gedung pencakar langit Jakarta terasa seperti tembok beton dingin yang mengejeknya, tempat ia mencari kehangatan, tetapi hanya menemukan kedinginan.
“Kembali ke neraka-mu, Alina,” bisiknya sendiri, suara serak. Ia telah merangkak keluar dari satu neraka yang diciptakan oleh Raka, hanya untuk tersandung masuk ke dalam lingkaran neraka yang jauh lebih pribadi dan menghancurkan, diciptakan oleh dirinya sendiri dan pria yang ternyata membawa beban tanggung jawab pernikahan.
Selama perjalanan singkat ke apartemennya di Jakarta Selatan, Alina terus menghirup napas pendek dan dangkal. Ia berusaha mengendalikan dirinya, mengingatkan dirinya bahwa emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya strategi. Hanya kepatuhan pada rencananya untuk menghilang.
Ketika taksi tiba, matahari sudah terbit, sinarnya berwarna emas pucat, melunakkan beton brutal di sekelilingnya. Ia membayar dan bergegas masuk ke lobi. Pria keamanan yang ramah kembali menyambutnya, tetapi Alina membalasnya dengan senyum paksa, mengabaikan fakta bahwa Gibran si penghuni baru di koridor sebelah juga akan segera kembali.
Pintu unit apartemennya terasa sangat berat. Setelah memasukinya, ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, mata terpejam, dan mendengarkan keheningan yang menyesakkan.
Ia selamat. Ia sudah jauh dari Gibran.
Tapi ia tidak selamat. Jauh dari kata selamat.
Pandangannya menyapu ruang tengahnya. Pecahan vas keramik di sudut. Bekas goresan sepatu Raka di lantai marmer saat ia terburu-buru pergi. Bau asam alkohol yang menguap dari udara. Dan kini, ada bau penyesalan yang jauh lebih kuat yang ia bawa dari luar.
Alina menyentuh perutnya yang rata, seolah mencari rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit moralnya. Kehidupan sempurnanya hancur. Karakternya tercemar. Ia telah jatuh ke titik terendah, dan Gibran adalah penyebabnya, tetapi ia juga yang bersalah penuh.
Bagaimana jika ia mencariku? pikirnya ngeri. Mereka tinggal bersebelahan. Ini akan menjadi siksaan harian. Bertemu di lift. Bertemu di lobi. Harus bertukar anggukan basa-basi dengan seorang pria yang baru saja menjadi mitra kejahatan terbesarnya.
Ia harus pindah. Cepat. Ia tidak bisa menghadapi wajah itu. Wajah yang dulunya membuatnya patah hati dan kini membuatnya menjadi penjahat.
Ponselnya berdering tiba-tiba. Layar menampilkan nama Raka Sanjaya. Raka telah mengirim lebih dari dua puluh pesan. Ia tidak membacanya. Pesan itu terasa kecil, remeh, dibandingkan kehancuran besar yang baru saja ia alami.
Lalu, sebuah pesan baru masuk, bukan dari Raka. Sebuah notifikasi media sosial, sebuah notifikasi tagging. Citra Kirana, si sahabat pengkhianat, mengunggah foto konyol dirinya dan Raka saat pesta kemarin malam. Citra berusaha keras menampilkan wajah yang riang gembira.
Alina tertawa getir. Tawa yang kejam, kering, tanpa sukacita. Mereka senang dalam perselingkuhan mereka. Dan ia? Ia melakukan perselingkuhan lain, satu tingkat lebih keji, dengan pria yang