Terlambat pulang dan mengapa kau masih menunda memberi kami seorang cucu,” pungkas Soraya, senyumnya dingin, penuh ancaman yang didasarkan pada kekuasaan Ibunda mereka berdua, Laras Mahesa.
Gibran hanya bisa berdiri terpaku. Bau Bourbon, aroma Alina, dan beban dari malam terlarang itu seolah merangkak keluar dari kulitnya. Ia terperangkap, dan kesalahan kecilnya semalam baru saja memberinya tumpukan ancaman baru yang akan membuatnya tersiksa.
Ia menundukkan kepalanya, mengumpulkan sisa martabat yang ia miliki, dan berjalan menuju kamarnya. Ia tahu ia tidak bisa melawan Soraya dan ibunya hari ini. Ia perlu waktu, perlu tidur, perlu melupakan. Sayangnya, ingatan tentang sentuhan Alina jauh lebih kuat dan jauh lebih berbahaya daripada seluruh tuntutan sosialita Jakarta.
Jauh di apartemen kelas menengah di kawasan Cawang, suasana terasa pengap dan suram. Tidak ada aroma pengharum mahal, hanya bau nasi goreng yang basi dan rokok yang dihisap sembarangan.
Raka Sanjaya mondar-mandir di ruang tamu yang sempit. Lantai marmer dingin yang ia kenal di apartemen Alina digantikan oleh parket kayu usang yang mulai terkelupas di beberapa sudut. Ponselnya panas, sudah dipegangnya selama dua jam penuh. Ia mencoba mengirim pesan dan melakukan panggilan telepon pada Alina tanpa hasil.
Di sudut sofa, Citra Kirana membenamkan wajah di antara lututnya. Gaun malam sutra yang seharusnya indah kini terlihat kusut, seperti kondisi hatinya yang sudah robek dan dipenuhi rasa bersalah.
“Cukup, Raka,” kata Citra serak, tanpa mengangkat kepala. “Dia tidak akan menjawab.”
Raka menghentikan langkahnya yang gelisah, rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi kemarahan yang bukan ditujukan pada dirinya sendiri, melainkan pada ketidakmampuan Alina untuk memaafkan. Rasa bersalahnya sangat dangkal, hanya berupa kepanikan atas hilangnya stabilitas yang diwakili oleh Alina.
“Kenapa tidak? Aku sudah bilang maaf! Aku sudah jelaskan bahwa itu semua karena stres pekerjaan. Bahwa dia satu-satunya wanita yang kucintai,” Raka berargumen, suaranya naik dua oktaf.
Citra akhirnya mengangkat kepala, matanya merah. “Alina tidak sebodoh itu. Dan kau? Kau tidak mencintai siapapun, Raka, selain dirimu sendiri. Kau hanya mencintai apa yang ia berikan padamu reputasi, keteraturan, dan uang tunai untuk membeli mainan mahalku.”
“Itu tidak adil!” bentak Raka, tangannya mengencang di ponsel. “Aku tulus menyesal telah menyakitinya.”
“Tulus? Apa yang kau sesali, Raka? Kau menyesal kehilangan akses ke relasi kerjanya yang bernilai jutaan? Atau kau menyesal bahwa kau harus pindah ke tempat kotor dan sempit ini karena dia sudah ganti kunci apartemenmu?” tanya Citra, setiap kata adalah cambukan tajam dari realita.
Pertanyaan itu mengenai sasaran. Raka tidak bisa memungkiri, sejak Alina pergi, dunia keuangannya goyah. Dia selalu bergantung pada kemampuan Alina yang sangat terorganisir, pada gaji besar Alina yang memastikan gaya hidup mewah mereka tetap terjaga.
“Dia adalah pasanganku! Kita punya masa depan yang terencana. Kita seharusnya bertunangan bulan depan!” seru Raka, nadanya terdengar lebih seperti manajer yang kehilangan klien penting, bukan kekasih yang berduka.
Citra tertawa pahit. “Tunangan yang kau belikan cincinnya saat kita sedang berlibur ke Bali, di malam yang sama kau mengatakan bahwa kau akan menikahinya demi jaminan karier. Aku ingat persis ucapanmu, Raka.”
Raka memalingkan wajah, mengabaikan tuduhan itu. “Diam, Citra. Aku harus membuatnya mendengarkan. Dia pasti sudah mulai merindukanku.”
Ia kembali fokus pada layar ponselnya, jarinya mengetik serangkaian pesan yang sudah ia hapus lebih dari sepuluh kali. Setiap kata harus terkesan menyentuh tetapi tidak terlalu putus asa. Sebuah perhitungan dingin yang jauh dari luapan emosi sesungguhnya.
Kepada, Alina Prameswari
Alina, Sayang,
Aku tahu ini tidak akan mudah, dan aku tidak berhak meminta maafmu. Aku menghancurkan kepercayaanmu. Tapi kumohon, beri aku kesempatan. Kita sudah membangun segalanya bersama, kita sudah melewati begitu banyak hal. Ini hanyalah kesalahan, kebodohan yang dipicu oleh stres. Aku mohon, tatap aku, biarkan aku menjelaskan.
Aku tahu kau tidak ingin melihatku. Aku akan menunggumu. Di mana pun. Kapan pun. Jangan biarkan Citra menghancurkan kita. Aku hanya ingin kita kembali. Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa bekerja. Semua terasa salah tanpamu.
Raka membaca ulang pesan itu, mengangguk pada dirinya sendiri. Kata-kata "stres", "kebodohan", "menunggu" itu cukup untuk menunjukkan pengorbanan dan kepedihan, tetapi tanpa detail yang terlalu menyalahkan Citra.
Citra, yang melihat layar ponsel Raka dari kejauhan, hanya menggeleng, senyum jijik menyebar di bibirnya.
“Dia akan menghapus pesanmu bahkan sebelum membacanya sampai selesai. Kau benar-benar berpikir dia akan kembali ke neraka kecil yang kita ciptakan, hanya karena kau bilang tidak bisa tidur?”
“Dia harus kembali,” desis Raka, wajahnya mengeras. “Aku membutuhkannya. Jika aku kehilangannya sekarang, dengan semua ini—karierku di ambang kehancuran. Alina adalah aset. Dia adalah wajah yang bisa kubanggakan.”
“Kau menyebutnya aset?” Citra bangkit, melangkah perlahan ke arah Raka. Ia tidak marah; ia lelah dan putus asa. “Kau tahu kenapa aku melakukan ini, Raka? Karena aku ingin merobek selimut kemunafikan yang ia selimuti. Kau dan Alina—kalian berdua hidup di bawah bayangan kesempurnaan palsu. Aku ingin kau jujur, bahkan jika kejujuran itu menghancurkan kita berdua.”
Raka menghela napas panjang, melunakkan tatapannya. Dia tahu cara meredakan amarah Citra, cara menipunya dengan rayuan murah.
“Baiklah, kau benar,” katanya, meletakkan tangannya di pinggang Citra. “Mungkin aku terlalu fokus pada Alina karena ia terlalu… dingin. Aku mencari kehangatan yang kurasakan bersamamu. Kau yang asli, Citra. Kau yang membumi.”
Sentuhan itu tidak berhasil kali ini. Citra mundur, menjauhkan diri darinya. “Simpan kebohongan itu untuk investor barumu. Aku sudah selesai mendengarnya.”
Raka kembali menatap ponsel. Kehabisan ide, ia memutuskan untuk menggunakan strategi terakhir: memohon pada sisi lembut Alina yang ia tahu sulit menolak permintaan tulus. Tulus atau pura-pura tulus, sama saja baginya.
Ia menghapus kalimat terakhir dan menggantinya:
Aku berlutut, Alina. Aku salah. Aku hanya butuh bicara sekali lagi.
Dia menekan tombol KIRIM, menutup matanya seolah tindakan itu membutuhkan energi yang besar. Pesan itu terkirim. Dalam keheningan ruang tamu, setiap detik terasa seperti jarum yang menembus jantungnya.
Ia menunggu, menatap tanda centang ganda biru. Terbaca. Tapi tidak ada balasan.
Raka melempar ponsel ke sofa. "Dia membacanya! Kenapa dia tidak membalas? Apakah dia sudah..." Raka mencengkeram kepalanya.
Citra mendekat, raut wajahnya berubah dari jijik menjadi keprihatinan yang aneh. Ia melihat Raka yang runtuh, yang sangat rapuh tanpa kehadiran Alina, dan tiba-tiba menyadari betapa buruk keputusan mereka berdua.
“Kau harus melepaskannya, Raka. Biarkan dia pulih. Biarkan dia menemukan—”
“Tidak! Dia tidak akan meninggalkanku,” Raka memotongnya dengan nada gila. Dia meraih ponselnya lagi, mencari aplikasi bank di ponselnya. “Jika dia tidak mau bicara, aku akan mengirimnya uang. Uang untuk membeli bunga, untuk perbaikan apartemen, untuk apa pun yang bisa menenangkannya.”
Raka membuka akun transfer, mengetik nominal yang fantastis, sebuah angka yang setidaknya akan menunjukkan betapa berartinya Alina bagi kehidupan finansial dan sosialnya.
Citra menyentuh lengan Raka. “Kau gila. Jangan lakukan itu. Itu hanya akan membuatnya merasa kau mencoba membeli—"
Raka mengabaikannya. Dia menekan tombol 'transfer', wajahnya memohon pada semesta agar Alina menerima kompensasi itu, menerima bahwa rasa bersalah bisa dibeli. Namun, sebelum layar berhasil memproses transaksinya, sebuah pesan singkat dari Alina muncul di bagian atas layar ponsel Raka. Bukan balasan untuk permintaan maafnya, tetapi hanya sebuah teks singkat dan formal.
Melihat nama Alina muncul di layarnya, jantung Raka melompat ke tenggorokannya. Akhirnya. Akhirnya dia merespons.
Dia dengan panik membuka pesan itu. Pesan itu hanya terdiri dari tiga kata yang dingin, tanpa salam, tanpa emosi, dan terasa seperti tamparan yang telak bagi semua upaya tulus palsunya:
“Aku memblokir nomormu.”
Seketika, notifikasi status centang biru Raka kembali menjadi centang tunggal abu-abu. Ponsel itu terasa seperti sepotong batu yang sangat berat di tangan Raka. Wajahnya pucat, mata melebar karena terkejut. Diblokir. Penolakannya total, definitif, dan mutlak. Dunia Raka dunia yang selama ini ia bangun dengan kemunafikan dan kemewahan benar-benar hancur.
Ia mengangkat pandangannya dari layar yang gelap itu, menatap Citra, mulutnya terbuka sedikit, tanpa bisa mengeluarkan suara. Kemudian, terdengar bunyi dering dari ponsel Citra, memecah keheningan maut itu.
Citra meraih ponselnya, melihat nama Alina terpampang di layar. Bukan panggilan, melainkan pesan singkat. Ia ragu-ragu sejenak, lalu membukanya. Saat membaca isinya, mata Citra melebar, kepucatan yang sama menular dari Raka ke dirinya. Matanya terpaku pada pesan itu, tangannya mulai gemetar. Ini bukan pesan marah. Ini adalah pesan yang