Dua Garis Tipis

2022 Words
Jangan pernah menghubungiku lagi. Selamat menikmati pilihanmu, tapi tinggalkan aku sendiri. Citra menjatuhkan ponselnya ke sofa seolah benda itu membakar kulitnya. Pesan itu lebih dari sekadar memutuskan kontak itu adalah proklamasi, bahwa Alina tahu dan Alina menutup semua pintu tanpa penyesalan, tanpa perdebatan. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan hanya sebuah kepastian yang menakutkan. Raka menoleh, melihat keterkejutan Citra yang total. "Ada apa? Apa katanya? Apa dia setuju bertemu?" tanyanya, suaranya sedikit gemetar karena harapan yang tidak realistis. Citra tidak menjawab, ia hanya menatap Raka, kemudian melihat ke kejauhan. Keheningan yang tiba-tiba melanda ruangan itu terasa lebih mencekik daripada teriakan atau pertengkaran mana pun. Dunia lama mereka sudah berakhir. Alina telah menutup pintu dengan ketegasan yang mutlak. Dua hari berlalu. Bagi Alina, dua hari terakhir terasa seperti melayang dalam ruang hampa antara penyesalan dan keinginan membara untuk menghapus segalanya. Bukan hanya malam itu tetapi seluruh bulan terakhir, yang dia mulai dengan kebahagiaan sempurna dan diakhiri dengan dua pengkhianatan monumental: satu dari kekasihnya dan sahabatnya, dan satu lagi dari dirinya sendiri, yang menyerahkan martabatnya pada cinta pertama yang kini terikat janji. Di bawah sorot lampu neon apartemennya yang kini terasa terlalu sunyi dan dingin, Alina berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Wajahnya, biasanya dipoles rapi dan profesional, kini terlihat letih, dengan lingkaran hitam samar di bawah mata. Dia benci melihat refleksi dirinya. Refleksi seorang wanita yang hancur, impulsif, dan bodoh. Terutama bodoh, karena pria yang tidur dengannya kini tinggal dua pintu darinya. dr. Gibran Mahesa. Kehadiran Gibran di gedung apartemen yang sama telah mengubah kehidupan sehari-harinya menjadi sebuah operasi militer rahasia yang rumit. Tugas utama Alina sekarang bukan lagi bekerja sebagai auditor ulung, tetapi menjadi ahli dalam menghindar. Ia harus mengubur Gibran wajah tampannya, bahu kokohnya, dan yang paling penting, rasa hangat dan putus asa dari ciuman terlarang mereka jauh di lubuk hatinya. Jangan temui dia. Jangan pandangi dia. Lupakan semuanya. Rutinitas barunya sungguh melelahkan. Ia selalu mengecek waktu keluar Gibran, yang untungnya cenderung teratur sebagai dokter di rumah sakit besar. Jam tujuh pagi ia berangkat, dan jam delapan malam ia pulang, terkadang larut malam jika ada jadwal bedah mendadak. Alina mengubah jam tidurnya. Dia sekarang sengaja menunda keberangkatan kantor hingga jam sembilan, memastikan koridor dan lobi aman dari bayangan Gibran. Hari ini, Senin, seharusnya berjalan mulus. Alina sudah mengenakan blazer abu-abu kekuasaannya, mencoba kembali ke citra ‘Alina Prameswari yang sempurna’ yang dulu ia kenakan sebagai perisai. Kunci mobil di tangannya terasa dingin, tetapi ketakutannya lebih dingin lagi. Pukul 08:58. Sangat aman. Pagi hari ini harusnya lancar. Dia sudah mengonfirmasi lewat seorang satpam baru bahwa Gibran sudah pergi sejam yang lalu. Dia mengambil napas dalam-dalam dan membuka pintu, melangkah ke koridor apartemen yang berkarpet tebal. Jantungnya berdebar keras di tulang rusuknya, namun ini adalah adrenalin, bukan rasa bersalah—sebuah keharusan untuk tetap waspada. Dia berjalan cepat menuju lift, jari-jarinya terentang untuk menekan tombol ‘Turun’ saat lift baru saja terbuka. Di dalam, sudah ada dua orang seorang ibu-ibu yang asyik dengan ponselnya, dan seorang pria berpunggung lebar, memegang sebuah map besar dengan logo rumah sakit swasta terkenal di Jakarta Pusat. Alina melangkah masuk. Lift itu sepi. Pria itu tidak berbalik, dan Alina berterima kasih kepada dewa-dewa lift karena telah memberinya rute yang aman. Tiga lantai lagi menuju lobi. Aku bisa melewati ini. Lift melambat, dan kemudian terhenti. Alina menekan tombol ‘Tutup Pintu’ secara refleks, berharap lift segera turun sebelum ada orang lain yang naik. Sayangnya, di lantai enam, pintu lift itu terbuka, dan cahaya terang dari lorong yang didominasi jendela kaca tiba-tiba masuk. Di sana, di ambang pintu, berdiri seorang pria. Rambutnya hitam, dipotong rapi. Setelan dokternya tampak begitu profesional, dan matanya, meski lelah, memancarkan intensitas yang akrab dan berbahaya. Alina merasakan udara di paru-parunya membeku. Matanya membulat saat ia melihat dr. Gibran Mahesa berdiri di sana. Dia tidak mengenakan setelan dokter khasnya, melainkan kemeja kasual yang baru dicuci, seolah-olah ia baru saja pulang atau sedang dalam perjalanan pergi sebentar. Namun, yang terpenting, dia melihat Alina. Wajah Gibran, yang biasanya tertutup rapat oleh formalitas seorang dokter, menunjukkan sedikit keterkejutan, yang langsung digantikan oleh sebuah resolusi yang dingin dan fokus. Pria di dalam lift yang berdiri membelakangi Alina akhirnya berbalik karena keheningan mendadak itu. Pria itu adalah rekan kerja Gibran. Dia tersenyum, menyambut Gibran. “Gibran! Kukira kau sudah berangkat dari pagi. Pintu ruang operasi akan terbuka, kau tahu itu?” tanya kolega Gibran dengan nada bercanda. Gibran tidak membalas sapaan itu. Pandangannya terpaku pada Alina. Alina, dengan wajah pucat dan detak jantung yang berisik di telinganya, menyadari bahwa ia baru saja gagal total dalam operasi penyamaran yang paling penting dalam hidupnya. Lari. Lari sekarang. Jari Gibran bergerak. Ia menahan pintu lift agar tetap terbuka. Langkahnya yang pelan dan terukur terasa seperti gema gemuruh yang mengisi koridor sunyi itu. Ia tidak masuk ke lift, ia hanya berdiri di ambang, menahan pandangan Alina seolah mengunci target. Alina mundur selangkah tanpa sadar, membentur dinding lift. "Alina," suara Gibran adalah gumaman pelan, rendah, nyaris tidak terdengar, namun berhasil menembus perisai baja Alina. Ia memanggil namanya, dan seluruh dunia seolah hanya ada mereka berdua, terlepas dari keberadaan kolega Gibran dan ibu-ibu di belakangnya. "Hai, dr. Gibran," sahut Alina, suaranya dipaksa keluar agar terdengar profesional dan dingin, seperti seseorang yang baru saja berpapasan dengan tetangganya. "Aku harus bicara denganmu," Gibran menegaskan, pandangannya tidak berkedip. Matanya menyelidik, mencoba menemukan lubang dalam pertahanan yang Alina bangun mati-matian. "Tidak ada yang perlu dibicarakan," Alina memotong cepat, lalu berbalik kepada rekannya Gibran, "Permisi, Bapak. Bisakah Anda menekan tombol turun?" Rekan Gibran tampak bingung oleh ketegangan di antara mereka, namun ia tetap menekan tombol. Pintu lift mulai menutup perlahan. Alina menghela napas lega. Ia berhasil menghindar— Tiba-tiba, Gibran melangkah cepat, menyisipkan tangan dan bahunya tepat di celah kecil saat pintu hampir tertutup. Pintu lift itu otomatis terbuka kembali, berbunyi dengungan protes. Alina tersentak. Dia melihat urat leher Gibran menegang. Ini bukan permintaan, ini perintah. "Kau tidak bisa terus menghindariku seperti ini, Alina," kata Gibran, langkahnya kini sepenuhnya masuk ke dalam lift, mengisi ruang kecil itu dengan aura kekuasaan dan desakan yang tak terbantahkan. Kolega Gibran bergeser canggung. "Ini apartemenku. Aku berhak berjalan sesukaku," balas Alina, mencoba bersikap angkuh, tetapi matanya mengkhianati dirinya. Rasa malu itu menjalar dari kulitnya. Ya Tuhan, kenapa kau harus memakai kemeja seputih itu? Itu mengingatkanku pada seprai hotel yang… Dia menghentikan pikirannya, mencela dirinya sendiri. Fokus. Pintu harus tertutup. Gibran harus pergi. "Tinggalkan kami sebentar, Adi," kata Gibran kepada koleganya tanpa mengalihkan pandangan dari Alina. "Tapi jadwal operasinya—" protes Adi. "Lima menit," tegas Gibran. "Kau bisa menungguku di lobi." Adi, yang mengenali nada suara Gibran sebagai akhir dari diskusi, mengangguk canggung dan keluar dari lift, membawa serta ibu-ibu yang kini tertarik oleh drama itu. Pintu lift tertutup di belakang mereka, menyisakan Alina dan Gibran berdua di ruang logam yang kedap suara itu. Lift masih belum bergerak. Ia menanti, seperti kanvas kosong yang siap dicoreti. Alina bersandar pada dinding lift, merasakan napas Gibran yang hangat begitu dekat, begitu familiar, begitu salah. "Kau menghapus semua nomorku. Kau menghindari lobi selama dua hari. Kau ingin bertingkah seolah malam itu tidak pernah terjadi," tuduh Gibran, suaranya merendah menjadi bisikan. "Kau meninggalkanku surat yang mengerikan." "Aku meninggalkannya? Kau meninggalkanku! Kau adalah pria beristri, Gibran!" sentak Alina. Kata-kata itu tersembur keluar seperti bara panas, penuh dengan kepedihan yang baru ia sadari masih sangat mentah. Mendengar nada sakit itu, pertahanan Gibran melunak sedikit. "Aku tahu. Itu adalah kesalahan yang monumental, tetapi kau tahu persis betapa menyesalnya aku." "Penyesalan tidak akan mengubah fakta. Aku malu," Alina berbisik, matanya menatap pantulan dirinya dan Gibran yang berdekatan di permukaan metal lift. "Aku memohon padamu. Lupakan. Anggap aku mabuk dan tidak waras. Aku ingin melanjutkan hidupku." Gibran memajukan bahunya sedikit, memaksa Alina untuk mengangkat kepalanya. Pandangannya, meski tidak mengancam, penuh dengan otoritas profesionalnya dokter yang menuntut kebenaran dari pasien yang berbohong. "Lupakan? Alina, ini aku," desisnya. "Aku adalah orang yang menolakmu bertahun-tahun lalu karena pengecut, dan kemudian kau datang lagi, tepat ketika hidupku berada di titik terendah. Kau pikir aku bisa melupakan wajahmu saat bangun tidur, setelah malam yang paling—" Gibran terdiam, mencari kata-kata yang tepat. "Malam itu nyata, Alina. Dan kau kabur seolah aku monster." "Kau adalah suami orang! Itu lebih buruk dari monster!" Air mata mulai menggenang di mata Alina. Dia benci betapa mudahnya pria ini mengungkit masa lalu dan menghancurkan benteng pertahanannya hanya dengan satu tatapan. Gibran meraih tangan Alina, jemarinya yang hangat, jemari seorang dokter bedah yang lembut, melingkari pergelangan tangannya. Cincin kawin di jari manisnya menyala samar di bawah cahaya lampu lift. Pemandangan itu bagaikan tamparan yang menyadarkan Alina. Alina segera menarik tangannya, menjauhi cincin emas yang menjadi bukti pengkhianatan terburuknya itu. "Tolong, dr. Gibran. Kita tetangga. Kita punya sejarah buruk. Sekarang kita punya sejarah yang memalukan. Mari kita pertahankan ini di level nol," mohon Alina, nadanya kini melunak, kembali ke keputusasaan yang pertama kali membawanya ke bar Senopati malam itu. Gibran menatapnya dalam diam, mengukur setiap keretakan dalam bentengnya. "Tidak bisa, Alina," kata Gibran, menggeleng pelan. "Aku harus memastikan kau baik-baik saja." "Aku baik-baik saja," bohong Alina. "Aku akan terus berjalan." "Bisakah kau melihat mataku dan mengatakan itu, Alina?" Gibran menantangnya. "Apakah kau yakin kau tidak meninggalkan hal penting yang—" Tiba-tiba, tubuh Alina terasa kebas, kakinya terasa berat, dan napasnya tertahan. Dia menyadari ada sesuatu yang lebih dari sekadar rasa malu dan penyesalan. Dia telah menekan kenyataan lain selama berhari-hari—realita bahwa menstruasinya sudah terlambat tiga hari. Sensasi mual yang pernah dia alami saat mabuk tiba-tiba kembali, kali ini terasa dingin dan mencekam. Tubuhnya gemetar hebat. Gibran melihat perubahan fisik yang mendadak itu. Wajah Alina memucat drastis, bibirnya menipis. Gibran, dengan naluri dokternya yang tajam, menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Itu bukan hanya kepanikan emosional. Itu adalah reaksi fisik. "Alina? Ada apa? Kau terlihat—" Gibran mengulurkan tangan. Alina menepisnya, suaranya parau dan tercekik, tidak ingin Gibran melihat kelemahan terbesarnya, tidak ingin Gibran menanyakan pertanyaan yang dia sendiri tak berani hadapi. "Aku… aku harus pergi. Sekarang," katanya. Dia menekan tombol 'Turun' berkali-kali. "Keluar dari lift ini, Gibran. Aku mohon." "Aku tidak akan keluar sampai kau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kau sakit, Alina? Kau butuh dokter—" "Aku tidak butuh siapa-siapa! Aku hanya butuh kau lenyap!" jerit Alina, suaranya nyaris pecah, air mata yang selama ini ia tahan tumpah di pipinya. "Pergi! Biarkan aku sendiri!" Melihat histeria itu, Gibran akhirnya melangkah mundur, mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, meskipun matanya dipenuhi kecemasan. "Baiklah. Baik. Aku pergi," Gibran berkata. Ia menekan tombol 'Buka Pintu'. Pintu lift terbuka di lobi yang sibuk, tepat di mana rekan Gibran menunggu. "Tapi kau harus ingat ini, Alina. Aku tidak akan—" "Tolong! Tinggalkan aku sendiri!" potong Alina lagi, menutup matanya erat-erat. Gibran menghela napas, keluar dari lift. Ia sempat meliriknya sekali lagi—tatapan terakhir yang penuh keraguan dan perhatian tulus. Lalu, pintu lift tertutup, dan Alina merasa terbebas, tetapi hatinya teriris oleh rasa bersalah dan ketakutan yang tak terhingga. Saat lift itu melaju ke lantai dasar, menjauh dari Gibran, Alina akhirnya membiarkan dirinya menanggapi sinyal bahaya yang dikirimkan tubuhnya selama dua hari terakhir. Dia menggenggam perutnya, bagian tubuh yang menjadi titik sentral dari semua bencana itu. Terlambat tiga hari. Tidak mungkin. Ini pasti karena stres. Tapi firasatnya terasa dingin dan menusuk. Malam itu, di mana segala keputusasaan dan alkohol membuatnya kehilangan akal, ia juga melupakan segalanya. Bahkan untuk berhati-hati. Begitu pintu lift terbuka, Alina berlari cepat melewati lobi tanpa peduli pada pandangan orang. Dia harus mencari apotek terdekat. Dia harus membelinya. Sekarang. Demi kepastian. Lima belas menit kemudian, dia terkunci di toilet kantornya yang mewah dan steril. Di depannya, di wastafel pualam putih, tergeletak benda kecil berbahan plastik itu, bersama dua buah instruksi dalam kotak yang berantakan. Jantungnya berdebar, napasnya memburu. Alina mengangkat alat tes itu dengan tangan gemetar. Ia takut untuk melihat. Ia takut untuk tahu. Dua menit berlalu dengan lambat, dipenuhi deru napas Alina yang panik. Akhirnya, dengan ketegasan yang didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengetahui kenyataan pahit itu, Alina membalik alat itu. Dia menatap garis-garis penanda dengan mata terbuka lebar. Di sana, bukan hanya satu garis penanda, tetapi dua. Dua garis yang tipis, berwarna biru, tegas, dan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD