Aku berbaring diam sambil menatap langit-langit kamar yang remang. Waktu terasa berjalan lambat, bukan karena jam berhenti, tetapi karena pikiranku terus bergerak. Aku sepenuhnya sadar akan kehadiran Tian—jarak kami yang semakin dekat, napasnya yang berubah, dan tatapannya yang kini jelas tertuju padaku. Ada momen singkat ketika aku bertanya pada diri sendiri apakah semua ini benar-benar pilihanku, atau aku hanya terbawa keadaan. Pertanyaan itu tidak membuatku ragu. Justru sebaliknya, aku semakin yakin bahwa sikap diamku bukan karena kebingungan, melainkan keputusan yang kuambil dengan sadar. Suasana kamar terasa berbeda, seolah udara menjadi lebih hangat dan menekan kulitku. Bukan sentuhan yang membuatku waspada, melainkan kesadaran akan maksudnya. Aku paham arti tatapan itu. Aku menger

