Ruang kesehatan kembali sunyi. Aku masih bersandar di dinding, memejamkan mata sebentar, mencoba menata napasku hingga kembali teratur. Ada jeda di antara kami yang terasa wajar. Jo berdiri agak menjauh. Ia membenarkan kausnya, lalu menoleh ke arahku. Tatapannya tidak lagi menekan. Matanya terlihat lebih jernih, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah lama dipendam. Aku lalu merapikan diri dengan perlahan. Gerakanku sederhana dan hampir otomatis, tapi tidak terasa hampa. Ini seperti cara kecil untuk menenangkan diri dan merasa utuh. Saat kakiku menapak lantai dengan mantap, aku merasakan detak jantungku mulai melambat dan napasku kembali teratur. Jo kemudian menatapku sebentar. Bukan tatapan yang menuntut, juga bukan untuk memastikan apa pun. Hanya tatapan seseorang

