Bab 20Sampai di restoran, Rendy mendapat lirikan dari salah satu karyawannya. Rendy juga mendapat lambaian tangan hingga terpaksa menuju ruang kasir di mana orang yang melambai itu berada. “Ada apa?” dengus Rendy. “Tidak sopan sekali melambai begitu pada bosmu.” Karyawan itu meringis lalu garuk-garuk tengkuk. “Maaf, Bos,” katanya. “Ada apa?” “Itu, Bos, ada yang menunggu di ruangan bos.” Kening Rendy terangkat. “Siapa?” belum sempat menjawab, Rendy malah sudah berdecak dan mengepal kedua tangan dan beranjak pergi. Dalam orak Rendy, di dalam ruangannya pasti seorang wanita yang sudah tega berselingkuh darinya. “Ngapain lagi kamu mene— Reyhan?” Rendy ternganga. Ia salah menebak, ternyata yang berada di ruangannya bukan Sinta melainkan adiknya. “Halo, Bang.” Reyhan berdiri. “Maaf aku me

