Merry si guru tak bijak

1023 Words
" pagiii~ Cinderella, kenapa cembetut" Celine mendelik pada sosok Angga kini duduk tepat di depan nya, baru juga bergabung di meja makan malah mendapat kan pangilan menjijikkan walaupun memang benar nama nya Cinderella, ingin dia protes pada sang almarhum ibu nya kenapa menamai nya tokoh kartun " Sudah, jangan saling meledek, habiskan makanan nya segera" celine diam-diam menurut saja kata Melisa wanita yang menyandang setatus ibu tiri nya, dalam hati ia bersukur dapat menikmati sarapan nya dengan damai sebelum sang ayah berkelakar membuat nya darah tinggi " Kau tau saja kalau dulu julukan saat SD nya itu Cinderella, dia sama sekali tak mau di panggil Seperti itu, makan nya dia suka di panggil Celine saat memperkenalkan diri, sampai-sampai waktu perkenalkan SMP dia menghapus nama Cinderella di setiap bet sekolah Bahakan buku absen guru" Celine melotot sembari mengangkat sendok makan ke udara, kenapa ingatan itu di ungkit lagi sih, ayah kurang ajar. Seperti kebanyakan sekolah pada umum nya, selalu ada saja jadwal absen bukan? Tapi ini adalah momen, ter-k*****t bagi Celine, kenapa begitu? Bagaimana kalau kita lihat cara guru SD ini memulai pagi Celine di sekolah " Amber Liu, hadir tidak?" Absen guru ber name tag, Merry pada anak didik nya " Hadir Bu" sahut dari anak bernama amber Liu Mati nih giliran ku, Celine kecil selalu ogah-ogahan kalau pas absen, pasti.. "Celine putri dongeng mana" tuh kan, mulai lagi. " Ada Bu" balas nya, berbeda dari yang lain setiap dia absen selalu terjadi kehebohan mendadak dalam kelas " Cel, sepatu mu di pake kan?" Tanya usil teman yang duduk di depan bangku nya, sampai repot-repot menoleh kebelakang hanya untuk mengatai nya, ia harap leren anak itu patah. Beda dari satu nya yang lain ikut menyahut, " Cinderella mah anggun, lah ini jalan aja kayak kepiting nya Ariel" Satu, dua bahkan entah kesekian kali dia terdiam mendengar ledekan konyol, guru di sana malah duduk terdiam menahan tawa, apa nya yang lucu? Nama nya? Dia itu Seperi badut kenapa seorang guru bisa Seperi itu sih, kenapa tak absen lainnya apakah menunggu satu kelas puas meledek nya baru di lanjud kan acara mengabsen nya. ' bruakkk' Sebagai tenaga anak kelas 6 SD termasuk kuat, celine berdiri bangkit dari kursi langsung ia angkat tempat ia duduk dan banting kursi kayu ke depan, bunyi menakutkan terdengar membuat mereka merasakan tercekam untuk sesaat momentum saat itu. Celine terengah-engah, baru saja ia menguras kekuatan nya hanya sekedar mengangkat kursi hingga terlempar mendekati meja si guru wanita " Celine...." Jerit nya sepontan, ia hampir terjungkal ke kebelakang jikalau ia tak hati-hati Nafas nya masih menderu kencang menahan amarah, entah sejak kapan, sejak ia mulai dari kelas satu? Sampai sekarang, " Kenapa?" Tanya nya marah. " Apa nya yang kenapa" tanya teman sebangku nya yang juga takut-takut, apakah celine tengah kerasukan setan? " Kenapa baru sekarang di panggil Celine, kenapa nggak dari awal aja" tatapan marah anak itu tak dapat di sembunyikan dia menatap satu persatu teman sekelas nya tajam, berakhir pandang nya tertuju ke guru pengajar tersebut, guru perempuan itu merasa ngerti dengan tatapan gadis kecil itu pada nya, seperti dendam menahun nya sudah keluar meluap bagai lahar pada saat ini. " Jadi kamu, marah hanya karena nama" seloroh Merry tanpa dosa ia nampak sok cantik di mata Celine " Yang kata mu hanya itu, membuat aku stres hampir tiap hari, kenapa kamu yang jadi guru tapi mengolok olok nama ku setiap hari" jari telunjuk kecil nya dengan berani menunjuk muka Merry Panik tentu nya hal se-sepele itu malah menjadikan keributan di pagi hari seperti sekarang, pikir Merry masa bodoh. Ia hanya bercanda dan untuk bersenang senang karena nama murid nya cukup lucu dan nyata, Cinderella orang tua bodoh mana menamai anak nya nyentrik begitu, kalau mau ambil tokoh Disney kenapa bukan Ariel atau belle bahkan nama Aurora terlihat lebih baik. Pikiran seperti itu tanpa sadar dengan berlahan membuat salah satu murid nya merasakan tekanan batin, tanpa sadar dia tengah membuat seorang anak manusia menjadi sosok monster atau penakut, hal itu bukan lah hal yang lucu di buat candaan Merry mendekati Celine yang tengah berdiri menatap nyalang siapa pun " Itu kan candaan, gitu aja di bawa hati... Dasar ngak bisa becanda, jadi orang jangan sensitif dong" yang bicara adalah anak laki-laki dengan rambut kriwil nya, anak yang duduk di depan nya tadi. Reflek Celine mendekati dirinya lalu menarik kerah putih nya kuat-kuat hingga si korban merasakan sesak " Sensitif kata mu? Kalau itu candaan kenapa aku ngak ketawa, kenapa cuman kalian aja yang ketawa!!!" Jerit nya tepat di depan wajah anak itu, wajah nya sudah memucat ketakutan sekali, baru kali ini Celine terlihat beringas " Am- ampun.." takut akan tatapan membunuh nya. " Coba aku tanya lagi, emang lucu? Kalau emang lucu kenapa aku ngak ketawa...kayak gini, ha..ha...hahha.." Celine nampak seperti pembunuhan sunguhan bahkan tawa di buat-buat nya cukup membuat se-isi kelas meremang bulu kuduk nya, ada beberapa gadis mojok dengan kawanan nya mulai menangis " Celine sudah!!" Namun Merry sama sekali tak berani mendekat terlalu dekat dengan anak itu, tatapan nya cukup tak tergambarkan. " Kalau aku gini aja, kalian semua pada minta berhenti... Kalian yang bilang aku sensitif.. gak bisa di ajak bercanda, yaudah sekarang aku lagi becanda loh, kenapa malah kalian panik" Gemeletak suara gigi terdengar sekali, anak lelaki itu bergetar ketakutan, belum Sampai Celine melanjutkan percakapan nya anak itu sudah tak sadarkan diri, Celine sontak melepaskan Krah anak itu hingga dia terjatuh beruntung teman sebangku anak itu menangkap nya cepat Celine menghindari dari tubuh lemas musuh nya, bagai mana tidak, anak laki-laki itu pingsan dengan kondisi celana nya basah, alias dia mengompol Bau Pesing seketika menyeruak se isi kelas, beberapa anak menutup hidung dan berekspresi geli, anak se-bongsor itu nyata nya dapat di taklukkan oleh sosok di anggap Cinderella jadi-jadian oleh mereka Anak perempuan tiap hari diamana ketika dia absen adalah hari banyolan untuk mengawal hari mu, anak yang tanpa di sadari bak pot di pupuki oleh hal-hal yang kata nya 'spele' itu menaganggung se-gunung rasa jengah, kesal, emosi yang baru saja ter-relisasikan barusan Kemarahan nya sekali waktu mengundang ke-hebohan, beberapa anak kelas lain mengintip dari celah-celah jendela kelas mereka, tontonan besar. Mungkin begitulah pikir mereka
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD