Perpisahan

882 Words
Malam lebih tepatnya hampir saja menuju tengah malam, Taeyong mulai terbangun, dan saat ia membuka mata hal yang pertama kali terasa adalah sakit yang luar biasa disekujur tubuhnya. Matanya mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yg mulai masuk dalam retinanya. "Dimana aku?" Taeyong menoleh ke kanan kiri menelisik dalam ruangan yang terasa asing untuknya. Namun seketika memori kejadian malam hari ketika reuni mulai berputar di pikiran nya saat ini. Seketika air mata itu mulai turun lagi tanpa permisi, membasahi pipi mulus sang pemilik. Taeyong menangis menatap tubuhnya sendiri, lalu kemudian memeluk selimut tebal itu dan terus menangis, ia merasa badannya begitu kotor dan hina karena dirinya berhasil digagahi oleh lelaki yang bukan suaminya. Cklek Pegangan pintu terdengar di gerakan, dan sesaat selanjutnya pintu pun mulai terbuka. Taeyong lantas menoleh dan menatap kehadiran seorang pria yang semalam telah merusak tubuh nya, merusak kesucian nya, merampas dan menghancurkan masa depan nya. Taeyong merasakan pipinya kembali basah namun dengan cepat ia mengusap air matanya kasar kemudian memalingkan wajahnya. "Tolong antarkan saya pulang sekarang tuan, maaf saya terpaksa merepotkan anda karena saya tak tau sekarang tengah berada dimana" Ucap Taeyong tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jaehyun, ya benar seseorang yang masuk kedalam sana adalah pria yang semalam merusak tubuhnya, Jaehyun. "Maafkan aku Tae, namamu Taeyong kan? Aku benar-benar tidak sadar sudah melakukan hal bodoh dan hina seperti itu padamu" Jaehyun menatap datar pemuda diatas ranjang sana, karna jujur saat ini ia bingung untuk bagaimana caranya yang ia lakukan guna menjelaskan. "Sudahlah tuan, bahkan namaku saja kau tak begitu mengingatnya bagaimana mungkin kau akan ingat apa yang sudah kau lakukan padaku semalam" ucap Taeyong sebari tertunduk merasakan nyeri di ulu hatinya. "Kumohon antarkan saja diriku pulang sekarang dan lupakan apa yg sudah terjadi antara kita" Tegas Taeyong mulai bangkit hendak melangkah keluar. Namun sayang karena tubuhnya masih terasa lemas dan nyeri, ia sampai tanpa sengaja ia terjatuh tepat dihadapan Jaehyun. Tangan Jaehyun terulur padanya hendak membantu Taeyong berdiri namun segera ditepis kasar oleh si pemuda Lee itu. "Aku tak selemah itu tuan sshh" Ucap Taeyong datar kemudian bangkit dan segera melangkah pelan walaupun tertatih keluar pintu. Jaehyun hanya bisa menghela napas berat nya dan kemudian mengambil kunci mobil mewahnya dan segera mengikuti langkah si pemuda Lee. Setelah melalui perjalanan kurang lebih 35 menit, dalam keheningan akhirnya mereka sampai didepan flat yang ditinggali Taeyong dan Haechan beserta ibunya. "Terimakasih sudah berkenan mengantar kan saya tuan, semoga setelah ini kita tak perlu bertemu lagi" Ucap Taeyong sendu sambil menundukkan kepala. Jaehyun hanya menatap datar lurus ke depan tanpa ingin bersuara membalas perkataan sang pemuda di sampingnya. Taeyong segera melepas kan seatbelt pengaman dan segera turun, menghela napas dalam sebelum ia beranjak untuk memasuki flatnya. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 00.00 malam, ia tak bisa membayangkan lagi hal apakah yang akan ibu tirinya lakukan padanya karna melihat Taeyong pulang selarut ini, sementara Haechan mungkin sudah pulang sebelumnya. Jaehyun hanya menatap sendu punggung Taeyong yang mulai menjauh dan menghilang dibalik pintu. Kemudian memutar kemudi dan berlalu dari kediaman si pemuda Lee. *** "Darimana saja kau pergi hah? Aku kira kau sudah lupa jalan pulang. Setelah ayah mu meninggal kau sudah mulai berani keluyuran sampai selarut ini. Mau jadi jalang kamu hah? Tak tau diri sekali kamu Lee Taeyong!!!" Bentak Kang SooYoung ibu tiri Taeyong sambil menjambak kuat surai dan menampar pipi Taeyong hingga ia meringis, padahal Taeyong baru saja sampai rumah. "Benar ma mau jadi jalang kali dia, soalnya sedari tadi pas di Villa Tennie Hyung, Channie tak melihatnya di sepanjang acara padahal sebelumnya dia disana. Entah pergi kemana coba kalo gak diangkut sama om om m***m ke apartemen nya, ck " Sinis Haechan menyeringai, terlampau senang melihat Taeyong disiksa dan disudutkan seperti ini. "Maaf ma tadi Yonggie ketiduran dikamarnya Ten hyung karena kelelahan berjalan ke Villa, hingga tak sadar kalo hari sudah sangat malam" Elak Taeyong. Kang SooYoung malah semakin menarik kuat rambut Taeyong hingga Taeyong memekik kesakitan kemudian tubuhnya terdorong kuat bahkan hingga terhempas begitu keras ke tembok dan menimbulkan suara yang cukup nyaring. Brukk Sakit sudah sekujur tubuh nya, dan malah di tambah oleh ibu tirinya. Rasanya tubuh Taeyong seakan ingin patah dan remuk. "Malam ini mama mau kau tidur diluar" Ucap Kang SooYoung sebari menarik narik kasar kerah baju yang tengah Taeyong kenakan dan mendorongnya kuat keluar pintu hingga Taeyong terjungkal dengan kepala membentur tiang didepan flatnya, nasib baik hanya memar tidak sampai berdarah. Kemudian membanting pintunya keras. Namun sebelum pintu tertutup ibu tirinya sempat menghardik Taeyong. "Dasar anak sialan kamu. Tak tau diri." Ucap sang ibu. Taeyong hanya bisa meringkuk memeluk lututnya menahan nyeri yang mendera di kepala nya. "Ayah ibu tolong bawa Yonggie dari sini, sakit yah." Sesak hanya itu yang sekarang ia rasakan di hatinya, lebih tepatnya setiap hari dalam hidupnya setelah kepergian sang Ayah. Sesak di dadanya itu bersamamut begitu terasa, kenapa hidupnya jadi sebegini tragisnya. Pikir Taeyong. *** Jaehyun menjambak rambutnya frustasi. Mungkin bisa dibilang hari ini adalah hari tersialnya dalam sepanjang hidupnya. Setelah tadi siang dipaksa menikah oleh sang Kakek, sekarang malah dengan tidak sengaja menggagahi pemuda yang baru ia kenali. Bahkan sedari tadi ia mengabaikan pesan dari teman temannya di acara itu yg menanyakan keberadaan nya karena tiba-tiba saja menghilang. Dan sekarang Jaehyun memutuskan meminum obat penenang yang selalu ia simpan dalam lacinya, dan tak lama kemudian ia pun terlelap dalam tidurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD