90

1675 Words

Suasana di dalam ruang persalinan itu mendadak hening, hanya menyisakan deru napas Sena yang mulai teratur dan suara detak monitor jantung yang melambat damai. Cahaya lampu ruangan yang benderang terasa hangat, menyinari sosok kecil yang kini sudah dibalut kain flanel putih bersih di atas meja pemeriksaan kecil. Perawat perlahan menyerahkan bayi laki-laki itu ke lengan Dialta. Pria itu mematung. Tangannya yang biasa mencengkeram kemudi motor balap dengan kecepatan tinggi atau menandatangani kontrak miliaran rupiah, kini gemetar hebat saat menyangga tubuh seringan kapas itu. "Silakan, Pak Dialta. Adzani putranya," bisik perawat lembut. Dialta menarik napas panjang yang terasa sangat berat di dadanya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga mungil putranya. Begitu ia mulai melantunkan kalimat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD