Cumi saos tiram, udang tepung dan tumis jamur sudah siap di meja makan. Kusobek diary lalu menuliskan memo seperti biasanya. |Menu hari ini sudah siap, Mas. Silakan dicoba satu sendok, kalau enak lanjut kalau nggak enak stop. Dijamin nggak ada racun.| Seperti biasa, kuselipkan sobekan kertas itu di bawah sendok yang kuletakkan di atas meja. Sengaja agar mencolok dan bisa dia baca dengan mudah. Jika terlalu tersembunyi takut nggak dibaca atau nggak lihat memonya. Setelah selesai memasak, aku sarapan lebih dulu lalu kembali ke kamar. Rencananya akan istirahat sebentar sembari membaca pesan yang sedari tadi masuk ke handphoneku. [Bapak sudah dapat kontrakan baru, Nduk. Nggak jauh dari masjid Al Huda. Sebulan lima ratus ribu dengan tiga ruang seperti biasanya. Nggak terlalu bagus, tapi

