Amsterdam, 10:04 pagi waktu lokal Udara Eropa Utara menyapa begitu roda pesawat menyentuh runway Schiphol. Dingin, basah, dan jauh lebih lembut dibandingkan terik Doha tadi pagi. Dari cockpit, Tania dapat melihat hamparan rumput yang masih membawa sisa embun, pesawat-pesawat besar berjajar rapi, dan langit kelabu khas Amsterdam yang seperti punya filter alami sendiri. ‘Indahnya ciptaan Tuhan, inilah mengapa gue pengen banget jadi pilot, kapan coba bisa menikmati semua pemandangan ini secara gratis dan tanpa beban.’ batinnya berdecak kagum. Begitu pesawat parkir di gate, semua kru menghela napas panjang, campuran lega dan letih. Tania mematikan sistem terakhir, menyusun checklist sambil menatap apron yang sibuk. Nick di sebelahnya tetap cool, meski garis lelah samar jelas terlihat di b

