Carolline masih memandang lurus kedepan, pandangannya cukup tegas namun matanya memancarkan kekecewaan yang dalam. Adel masih terisak dengan di lantai. Tangannya memeluki kaki ibunya, kepalanya disandarkan dipangkuan. Namun ibunya tak meliriknya sedikitpun.
“Aku tak mau kehilanganmu. I’ll do anything for you mom. Please, don’t leave me alone.” Tangisan anak gadis itu makin menjadi.
“Then, get married if you’ll anything for me.”
“Apa dengan menikah mommy akan bahagia?” lirih Adel yang mulai pasrah.
“Mungkin aku terkesan egois. Tapi mommy melihat ada ketulusan dari pria tadi.” Carolline melihat ketulusan dimata Rain, meskipun secara fisik Rain terlihat dingin.
“Tapi dia orang berbahaya mom. Dia bisa melakukan apa saja. Mom….” Adel tak tau lagi bagaiman caranya meluluhkan hati ibunya itu. Dia mulai pasrah.
“Ya, mungkin kau benar. Mungkin juga firasat mommy salah. Lakukan sesukamu!” Carolline membuang muka, menahan air mata yang sudah terbendung.
Beberasa saat hening. Mereka mencoba berpikir dengan matang hingga Adel menyerah. Ia menarik nafas dalam dan dihembus kasar. “Ok, mom. Aku akan terima tapi jika dia membahayakanku, mommy harus rela membatalkan.”
“Ok. Kita lihat.” Tentu saja Carolline tak percaya. Ia tau benar anaknya akan mencari cara untuk membatalkan semuanya. Disaat inilah Carolline harus bekerja sama dengan Rain.
Bukan karena sekedar materi, namun Carolline melihat mata Rain yang tulus pada putinya. Entah apa yang telah terjadi, Rain satu-satunya orang yang berani melamar langsung tidak seperti laki-laki lain. Mata Rain berbicara seolah cinta yang lama ia tanam akan dipetik.
Adel terlalu menutup kebaikan dengan sebuah kejahatan hingga melupakan bagaimana sifat Rain yang sebenarnya. Rain yang menyenangkan, perhatian, penyayang, supportif kalah dengan satu tindakan. Rain mengungkapkan cinta dengan cara yang salah.
***
Kini lamaran Rain resmi diterima, berarti saat ini Adel adalah kekasih Rain. Dan sebagai kekasih ia ingin memperlakukan Adel seperti tuan putri di negeri dongeng.
Seorang office boy mendatangi Adel yang sibuk di kubikal. “Nona, ini ada kiriman bunga dari tunangan anda.” OB itu menaruh rangkaian bunga tulip cantik dengan ukuran yang cukup besar.
“Ha?” Adel mengernyitkan dahi seolah bingung. Ia berpikir sesaat sampai pikirannya jatuh ke seseorang. Rain.
Beberapa karyawan lain langsung memandangi Adel seakan ia waji mengklarifikasi maksud dari ‘tunangan’ dan rangkaian bunga yang datang. Adel celingukan bingung harus melakukan apa.
Sebuah surat terselip di bucket itu. Punya yang cantik untuk wanita cantik. I love you, my fiancé. Love, Hujan.
Adel langsung pusing setelah membaca surat itu. Sepertinya akan banyak gangguan yang akan datang ke hidupnya. Sangat menjengkelkan. Hingga seseorang mengambil surat itu dari tangannya.
Tiara dengan lantang membaca surat itu dihadapan rekan kerja se divisinya. Sorak sorai mengolok-olok Adel yang mendapat perlakuan manis dari sesorang sangat jarang terjadi, bahkan tidak pernah.
“woooowww. My fiancé?” Lantang sekali Tiara mengulangi kata itu. Hingga ia mulai bingung dan berpikir. “fiancé? What?”
Adel sedari tadi memelototi tingkah temannya yang lancang. Ia tak ingin mengungkapkan hubungannya dengan Rain. Tapi yang terjadi sebaliknya.
“Kau mau mati, ha?” Ancam Adel meremas tangan Tiara.
Tiara mulai sadar, ia menundukkan kepala berjongkok di meja Adel. “Kau harus jelaskan ini.” Tiara mulai serius dan penasaran.
“Dan kau sangat bodoh melakukan hal tadi. Kau pikir ini masalah sepele.” Bisik Adel agar yang lain tak dengar.
“Kau bertunangan tanpa memberitahu aku? Tega sekali. Bahkan aku tak tau kau dekat dengan pria.” Tiara mulai mengencangkan urat karna kesal.
“Aku mencari waktu yang tepat namun pria b******k itu ternyata lebih gila dari dugaanku?”
“Maksudnya? Tunanganmu gila? Aku tidak mengerti.” Tiara bingung dengan aa yang sebenarnya terjadi.
“Nanti ku jelaskan, sebaiknya kau sumpal mulut sampahmu itu sebelum ku robek.” Nada bicara Adel mulai meninggi.
“Baiklah. Jika kau tak jujur akan ku sebarkan ke penjuru perusahaan.” Tiara menggoda Adel dan berlari menjauh.
Shit! Pria b******k. Beraninya dia bertindak bodoh. Batin Adel.
Sebuah pesan di ponsel Adel. Dari nomor yang tak dikenal.
“Sudah terima bunga dariku my fiancé? Akan aku kirimkan setiap hari bahkan lebih banyak?”.
Kalau kau melakukan ini lagi akan ku bunuh kau tangan tanganku.
Takut, sayang. Ampun.
Rain terkekeh dengan pesan yang dikirimkan Adel. Mana mungkin dia bisa membunuh Rain.
Rain senang sekali bisa mengganggu Adel seperti ini. Ia senang melihat Adel marah-marah bahkan mengancam. Menurutnya itu menggemaskan. Sepertinya ia akan melakukan hal yang lebih lagi. Ia ketagihan.
***
Setiap hari Adel mendapat gangguan Rain mulai dari bunga, paket dan yang lebih ekstrim ketika Rain langsung mendatangi kantor Adel, menjemput paksa gadis itu. Adel tak punya pilihan lain jika ia menolak maka Rain bisa berulah dikantor. Ia hanya ingin membawa Rain jauh dari kantornya.
“Bisakah kau berhenti menggangguku seperti ini?” Adel geram sekali dengan kelakuan Rain, ia menahan amarah.
“Aku suka melakukan itu padamu. Romantis bukan?” Rain terkekeh.
“Lucu? Kau membuatku semakin membencimu.” Adel menatap Rain tajam, bahkan nadanya mulai serius.
Rain tertegun dengan ucapan Adel. Ia berusaha mengambil hati gadis itu namun tak pernah ia menghargai. Rain membanting setir dan berhenti di tepi jalan yang lupamayan sepi. Matanya menunjukkan amarah.
“Apa yang kau lakukan?” Adel panik melihat Rain yang sedari tadi menatapnya dengan tajam seolah ingin membunuhnya.
Rain masih diam dan membuat Adel panik. Tiba-tiba ia menarik kasar badan Adel mendekat, mencium kasar bibir ranum itu. Adel yang terkejut dengan Rain hanya bisa melawan sebisanya dan menutup bibirnya rapat-rapat.
Rain menggigit bibir bawah Adel, membuat gadis itu mengaduh dan membuka mulutnya. Bibir Rain dengan sigap melumat kasar, memaksa lidahnya beradu dengan milih Adel. Tangannya sudah bergerilnya di puncak Everest yang masih tertutup kain.
Adel meronta namun tak bisa bergerak karna tubuhnya terkunci sempurna. Ia menahan tangis disetiap tindakan panas dari tunangannya itu. Bukan ia tak ingin, namun ia terlanjur benci. Ia muak dengan lelaki yang hanya mementingkan keinginannya.
Rain puas melahap bibir dan d**a Adel. Ia melepaskan ciuman itu, tak mau melanjutkan lagi. Itu hukuman untuk Adel yang tak tau terimakasih dengan sikap manis Rain. Banyak wanita yang menginginkan hal itu, namun Adel berlaku sebaliknya. Rain kesal sekali.
Adel menarik nafas sebanyak mungkin setelah dihabisi pria itu. Mereka masih diam tak ingin mengucapkan apapun.
“Kau tau akibatnya jika membantahku.” Ujar Rain sinis.
Tak ada jawaban dari Adel. Ia masih menatap kedepan. Tatapan kosong. Rain pun mulai membuat dirinya rileks dengan menyandarkan tubuh ke kursinya.
Rain memejamkan mata sebentar, menenangkan hatinya yang kacau. Adel yang melihat itu tiba-tiba saja keluar mobil, berlari secepat kilat kearah berlawanan dan menghentikan taksi.
“FLO. SIALAN.” Rain terkejut dengan tindakan Adel. Ia menggebrak setir meluapkan amarah.
***
Disebuat club yang tak terlalu ramai. Seorang pria sedang menikmati minuman beralkohol kadar rendah. beberapa kali ada wanita yang menghampirinya namun tak digubris. Ia terus meneguk minumannya pelan, menikmati alunan musik.
“Junno.” Seorang wanita menghampirinya.
“Hai, Del. Kemarilah.” Wanita itu Adel. Ia sedikit tidak nyaman dengan suasana di club itu namun tetap mendekati sahabat karibnya.
Setelah kabur dari Rain, Adel memasuki taksi yang berlawana arah agar mobil Rain kesusahan mengejarnya. Adel meminta supir taksi mengemudi sedikit cepat. Adel berpikir Rain akan menyusul ke rumahnya, makanya ia tak mau pulang dulu. Ia harus pergi ke suatu tempat yang tak diketahui Rain.
Adel memutuskan untuk menelpon sahabatnya, Junno. Hanya dialah yang belum tau perihal Rain. Ia tak mungkin menemui tiara, yang ada dia akan ditodong berbagai pertanyaan dan membuat hatinya makin kacau.
Adel menemui Junno di sebuah club malam yang lumayan elit di New York karena sahabatnya memang sedang disana.
“Tumben sekali kau ingin bertemu denganku. Terakhir kali kau janji padaku mengajak ke pesta, namun kau menghilang berhari-hari.” Junno terlihat kesal dan mulai terpengaruh dengan minumannya namun masih bisa mengontrol emosi.
“Maafkan aku. Nanti akan ku jelaskan tapi tidak sekarang. Suasana hatiku senang buruk.” Adel merasa tidak enak dengan Junno karena ia sudah berjanji datang bersama ke tunangan tiara namun gagal karena insiden kemarin.
Junno hanya memandangi wajah muram Adel, menelaah apa yang sedang terjadi. Adel yang sadar dengan tingkah temannya malah menjadi kesal. “Berhenti menatapku, aku tak ingin membahas masalahku. Biarkan aku tenang.”
“Baiklah. Let’s have fun.” Junno memberikan isyarat kepada bartender untuk memberikan segelas minuman kepada Adel.
Adel ragu sekali mencoba minuman itu. Ia tak pernah minum alcohol sebelumnya. Namun Junno meyakinkan bahwa minuman itu memiliki alcohol berkadar rendah, tidak memberikan efek berlebih. Adel menenggak minuman itu sekaligus, terasa panas, perih ditenggorokan. Rasa manis dan pahit yang bercampur membuatnya bergidik.
Adel ketagihan dengan sensasi minum alcohol pertama kali. Ia kembali memesan satu gelas lagi dan minum langsung sekaligus.
Junno yang melihat sahabatnya itu hanya terkekeh, seperti melihat anak kecil diberi permen.
“Let’s dance on the floor, baby.” Junno menarik tangan Adel dari kursi menuju lantai dansa.
Lampu kerlap kerlip yang sedikit redup membuat pandangan Adel kabur. Ia hanya terus saja menggerakkan tubuhnya dilanta dansa tanpa memikirkan Junno. Ia menikmati sensasi melayang, sepertinya efek minumannya mulai beraksi. Bagi pemula sepertinya, meskipun berkadar rendah namun efek memabukkan pasti terasa.
Adel tetap menari meskipun badannya sudah gontai hingga sebuah tangan menariknya kasar. Badannya terhuyung ke sudut dan menabrak tembok, meskipun ia mabuk ia tetap tau bahwa ada orang yang sedang berusaha menjamahnya.
“Menyingkirlah.” Adel berusah mendorong orang itu dengan kesadaran seadanya.
Namun sepertinya orang itu memiliki keadaran yang lebih tinggi hingga menghimpit badan Adel ke sudut. Pria itu berusaha mencium bibir Adel namun tangan Adel masih kuat untuk menghalangi. Adel dengan setengah kesadarannya pun berteriak sebisanya. Namun percuma, suaranya kalah dengan musik.
“Kau tak bisa menghindar, nikmati saja.” Bisik orang itu ditelinga Adel.
Ia memaksa memeluk tubuh adel dengan paksa, cukup sulit karna Adel meronta-ronta. Orang itu lagi-lagi mencoab mencium bibir Adel, ia memegangi wajah Adel dengan kedua tangannya.
“Ahhhhhhhh….” Suara Adel melengking.