Adel POV
Aku terus menangis. Aku tak seprti yang dikatakan Rain. Aku tak selingkuh. Aku benci sekali. “Aku bisa jelaskan.” Lirih bahkan hampir tak terdengar.
“Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi. Aku sudah lihat semuanya.” Rain tak kalah menaikkan nada bicaranya yang tajam.
“Lalu kau mau apa? Benar atau tidak yang terjadi bukan urusanmu.” Aku menatapnya sinis. Aku benci orang yang tau mendengar penjelasanku dan berbalik menuduh.
Rain menarik lenganku kasar. Mencengkramnya kuat. “Jelas ini urusanku. Kau milikku, Flo. Aku tak suka milikku dipegang orang lain.” Ucapnya sambil membelai kasar wajahku dan melempar tubuhku ke kasur.
Tubuhku terpental akibat sikap kasar Rain. Ia kembali menatapku tajam dengan tatapan yan begitu dingin. “Akan ku bunuh siapapun yang menyentuh milikku.”
Aku tak bisa berpikir jernih. Ia mau membunuh sahabatku. Meskipun aku kecewa sekali dengan perbuatannya, tapi Junno tetap sahabatku dan aku butuh penjelasannya. Ia tak boleh mati karena diriku. Aku akan membenci diriku sendiri.
Aku menghampiri Rain, memegang lengannya memohon dalam tangisku. “Jangan Rain, jangan sakiti dia. Dia sahabatku Rain.”
Melihat reaksiku seperti itu menambah amarahnya. Ia mendorongku hingga tersungkur ke lantai, dahiku terbentur ujung kasur dan berdarah. “Ahhhhh sakit.”
“Aku lebih sakit melihat tunanganku membela selingkuhannya.”
“AKU TAK SELINGKUH. Kau tuli?” Aku tak sanggup lagi dituduh seperti itu.
Sepertinya Rain terkejut dengan kemarahanku. Aku memang selalu menyebalkan namun baru kali ini aku benar-benar mengeluarkan amarahku.
Adel POV END.
RAIN POV.
Tatapan itu, sangat berbeda dari biasanya. Hatiku tak bisa melihatnya membenci seperti itu. Kali ini berbeda.
Aku menghampirinya, menarik tubuhnya kuat ke pelukanku. Ia memukul-mukul dadaku, namun aku tak ingin melepasnya. Ku eratkan pelukanku membawanya masuk lebih dalam. Adel menangis sejadi-jadinya.
Aku senang melihatnya cemberut atau kesal denganku, tapi aku tak bisa dia membenciku. Aku tak mau kehilangannya. Cinta dan obsesiku tak mau. Kuusap sambutnya pelan, berusaha memberikan kenyamanan. “Aku akan percaya padamu. Jelaskan padaku.” Lirihku pelan, tanpa amarah.
“Kau… hiks.. kau tak mau mendengar.” Suaranya terdengar lirih namun jelas terdengar.
“Aku mau, sayang. Don’t cry.” Aku mengecup rambutnya.
Aku membopongnya ala bridal style, membawanya ke kasur dan tetap memeluknya erat.
RAIN POV END.
Sepertinya Adel nyaman dipelukan Rain. Ia merasakan kehangatan di dalam diri pria itu.
Perasaan apa ini? Kenapa dia sangat berbeda. Ah tidak Adel. Batinnya.
Rain tak bergerak sedikitpun meskipun tangannya pegal ditindih Adel, tapi demi kekasihnya apapun dilakukan. Apalagi ia tau kalau tunangannya itu sedang nyaman dipelukannya. Ini kali pertama Adel tak menolak pelukan Rain.
Andai kau selalu seperti ini, Flo. Aku tak perlu melakukan kekerasan padamu. Batin Rain.
Terlalu nyaman dipelukan Rain, Adel baru ingat kalau ia tidak pulang selamaman. Ia belum memberi tau orang tuanya. “Auhhhh.” Kepala Adel sakit karena ia memaksakan duduk saat dahinya masih terluka.
“Jangan paksain bangun, sayang. Kau masih sakit.” Rain terkejut Adel bangun, ia langsung mengambil kotak P3K di dalam nakas.
Rain duduk didepan Adel sambil menuangkan alkohol ke kapas untuk membersihkan lupa di dahi Adel. “Sini aku obati, akan sakit tapi tahan ya.”
“Ahhhhh, kau tak bisa sedikit lembut.”
“Sudah ku bilang tahan.”
Adel terkejut karena Rain menaikkan nada bicaranya. Luka ini hasil perbuatannya tapi dia malah memarahi Adel.
“Sorry, sayang. Aku tak bermaksud….”
“Sudahlah.” Adel mengambil kapas itu dari tangan Rain. Menepuk-nepuk pelan luka di dahinya.
“Aku tak pernah mengobati luka orang lain. Aku selalu dilayani.” Rain tau Adel kecewa dengan perbuatannya.
“Aku bantu, aku janji akan lebih lembut.” Ia mengambil kapas lagi, mengobati pelan dahi Adel yang sedari tadi meringis kesakitan.
Adel berusaha menahan agar tak teriak. Orang seperti Rain selalu dilayani, ia harus mengerti. Meskipun caranya mengobati bahkan seperti memukuli dahinya.
“Bisa kita ke dokter saya, Rain. Kau lebih seperti memukuliku.”
“Terima saja. Aku tak suka wajah cantikmu diperhatikan pria lain.”
Bisa-bisanya dia menggombaliku disaat seperti ini. Dasar buaya. Batinnya.
“Ah benar. Orang tuaku?” Adel ingat ia belum mengabari orangtuanya. Ibunya bisa memanggangnya hidup-hidup kalau ia tak pulang.
“Sudah ku urus.”
“Maksudnya?” Adel masih tak mengerti.
Rain menjelaskan kalau ia sudah mengabari orang tua Adel karen ada acara dengan sahabatnya. Dan disitu ada dirinya, tentu saja orang tuanya sangat senang dan sangat percaya.
“Apa? Kau sudah merencanakan tak memulangkanku? Dasar…”
“Hei, kau mau orang tuamu melihatku mabuk seperti orang gila?” Rain tak kalah mengejek.
“Tapi kau…” Adel kesal sekali dengan Rain merencanakan ini semua, bahkan kesal dengan kedua orang tuanya yang rela melepaskannya semalaman tak pulang dengan pria m***m ini.
“Berterimakasihlah kau ku selamatkan dari b*****h itu, kalau tidak kau sudah menjadi santapannya.”
“Tapi aku malah menjadi santapanmu.” Ia hampir menjadi santapan buaya, malah masuk ke sarang piranha.
Tak dipungkiri, hampir saja tadi malam Rain menyetubuhi Adel dengan brutal. Bahkan banyak kissmark ditubuh Adel yang mungkin belum disadari. Untung saja ia cepat sadar jika tuangannya dalam keadaan mabuk. Ia tak mau membuat kesalahan lagi dan membuat tunangannya malah semakin membencinya.
“Bukankah setelah menikah kau akan selalu jadi santapanku.” Rain kini menggoda Adel. “All time.” Bisiknya tepat ditelinga Adel.
Mendengar pria didepannya malah menggodanya, Adel langsung mendorong Rain hingga terjengkal ke belakang. “Kyaaaa! Dasar mesum.”
Rain tertawa sekeras-kerasnya dengan tingkah Adel. Sangat menggemaskan. Bahagianya dia bisa quality time seperti ini.
“Sini sayang, come to papa.” Rain merentangkan tangannya lebar-lebar, memonyongkan bibirnya seperti ikan yang ingin mencium.
“Menjijikkan sekali. Rasakan.” Adel melempar bantal ke pelukan Rain, ia tak mau disantap pria ini.
Tak disangka dibalik sikap arogannya yang seperti monster, Rain bahkan sangat pandai bercanda. Bahkan ini berbanding terbalik dengan perilaku biasanya. Adel senang Rain berusaha bersikap lembut.