POV SERENA LEE Mobil Sam melaju meninggalkan halaman rumah sakit. Aku melirik Sam yang fokus menyetir. Wajahnya kembali seperti biasa. Tenang, datar, dan sulit ditebak. “Ibumu terlihat sangat baik,” ucapku memecah kesunyian dalam mobil. “Iya memang,” jawabnya singkat. Aku menunggu. Dan akhirnya, tanpa kuminta, dia melanjutkan. “Kondisinya memang seperti itu. Kalau sedang stabil, beliau seperti orang normal. Bisa ngobrol, bercanda.” Tatapannya lurus ke depan. “Tapi kambuhnya bisa tiba-tiba. Trigger-nya kadang hal kecil.” Tangannya mencengkeram setir sedikit lebih kuat. “Kalau sudah kambuh… beliau bisa melukai diri sendiri. Pernah sampai harus dijahit.” Dadaku mencelos. Aku membayangkan Bu Ernita yang lembut tadi, dalam kondisi seperti itu. “Sam…” suaraku melembut. Dia menghela na

