Happy reading.
Typo koreksi.
____
Zaviar Alstair menatap bangunan luas berlantai 5 yang sudah lama ia kunjungi dengan sorot sayu. Wajahnya tampak lelah namun lelaki itu tetap ingin datang ke tempat ini meski yang ia dapaf hanya gerbang yang tertutup rapat. Lelaki itu membuka ponselnya mencari hotel terdekat dari sini, setelah membookingnya Zavi menoleh kesekitar. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang, mungkin mereka salah satu penduduk atau mahasiswa di kampus ini.
Besok aku kesini lagi, Bi. Aku akan terus cari kamu Bi. Batinnya dalam hati.
Tepat pukul 18.00 Zavi tiba di hotel, lelaki itu sudah memesan makan malam untuk hari ini. Di dalam kamar hotel bertipe Deluxe Suite, Zavi duduk di sofa memijat pangkal hidungnya. Tangannya sedang berselancar mencari media sosial milik kekasihnya yang sudah tidak aktif lagi, Zavi mencoba mengingat lagi teman-teman yang dekat dengan kekasihnya itu.
Sampai lelaki itu selesai menghabiskan makanannya, Zavi masih sibuk dengan ponselnya.
Drrt drrt.
Panggilan telepon dari nomor luar masuk ke dalam ponselnya. Lelaki itu mendesah melihat nama ayahnya tertera di layar.
"Hallo, Pa," sapanya lebih dulu.
"Hallo, nak. Kamu sedang apa?"
"Zavi sedang di luar, pa," jawab Zavi.
"Di luar?" tanya ayahnya terdengar heran.
Zavi tahu, pasti ayahnya sedang bingung karena dia tidak berada di apartementnya sekarang.
"Kamu sedang bersama Deka?"
"Tidak, Pa. Aku sedang mencari rumah dia, Pa."
Helaan napas kasar Roy terdengar di ujung telepon. "Nak, papa menyuruh kamu ke Indonesia untuk bisnis bukan untuk--"
"Pa, Zavi mengerti. Zavi janji setelah ini Zavi akan fokus bekerja lagi." Potong Zavi cepat.
"Baiklah, karena sekarang kamu sedang punya waktu luang, jangan lupa kunjungi makan ibumu besok. Mamamu pasti sangat merindukan kamu."
"Baik, Pa."
"Pokoknya kamu harus bisa fokus dan jaga kesehatan. Percaya, nak. Jika kalian berjodoh papa yakin, kalian pasti akan bertemu lagi." Hibur Roy yang mengerti bagaimana perasaan putra semata wayangnya tersebut.
Awal Zavi datang ke Paris, jelas saja Roy merasa ada yang tidak beres. Terlebih, Zavi jadi sangat pendiam dan murung saat berada di Paris. Atas paksaan Roy, akhirnya anak itu mau bercerita tentang masalahnya.
10 tahun jelas bukan waktu yang singkat.
"Iya, Pa. Papa sehat-sehat juga di sana kan? Maaf kalau Zavi belakangan nggak tanya kabar papa."
Suara gelak tawa kecil terdengar di sambungan telepon mereka. "Hahaha, astaga nak. Kamu jangan khawatir, pria tua ini masih bisa jaga diri nak. Papa justru sangat khawatir sama kamu di sana meski ada Deka yang sudah papa minta untuk mengawasi kamu."
Sudut bibir Zavi tertarik keatas tipis, Roy selalu seperti ini. "Pa, aku bukan anak kecil lagi." Cebiknya.
"Haha, kamu tahu buat si tua ini kamu tetap masih anak kecil. Ya sudah Papa mau makan siang dulu, nak."
Zavi melihat jam tangannya, ah benar, berarti di Paris sudah sekitar jam 1 siang. "Baik pa, jaga kesehatan papa ya. Zavi sayang papa."
"Papa juga sayang kamu, nak," balas Roy menenangkan.
Tut.
Sambungan terputus, Zavi menghela napas pelan.
Sedikit terbayar rasa rindunya kepada sang ayah. Sejak kedua orang tuanya bercerai dan ibunya meninggal Zavi memang semakin dekat dengan ayahnya, Roy. Dan beliau juga masih menyendiri sampai sekarang, lebih fokus memghabiskan waktu dengan bekerja bekerja dan bekerja. Zavi tidak melarang kegilaan ayahnya dalam bekerja yang tidak pernah mengenal waktu.
Satu keinginan Zavi untuk beliau bisa membuat ayahnya bangga dan bahagia.
"Bi, aku harap bisa secepatnya bertemu kamu," bisiknya sendu.
_____
Keesokkan harinya, Zavi kembali ke bangunan bertuliskan 'Universitas Harapan Bangsa'. Lelaki itu memarkirkan mobilnya di area parkir setelah mendapat izin masuk ke dalam kampus dari satpam penjaga.
Sosok Zavi yang tampan, dan juga gagah jelas langsung menarik perhatian para kaum hawa yang kebetulan melihatnya. Mereka pikir Zavi merupakan dosen baru di kampus mereka karena lelaki itu memakai pakaian yang sangat rapih seperti dosen-dosen kampus.
Ya ampun ganteng banget.
Siapa tuh?
Gila, kalau dia dosen di sini gue mau pindah jurusan.
Bisikan-bisikan aneh terus saja terdengar di sepanjang jalan Zavi melangkah menuju ruang Rektorat, lelaki itu akan mencoba bertanya dari sana lebih dulu.
Tok tok tok.
"Masuk." Suara dari dalam menyambut kedatangannya.
Zavi menoleh kearah sampingnya sekilas, beberapa mahasiswi di sana terlihat menatapnya penuh minat. Zavi mendesah dalam hati, sebelum lelaki itu membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan di depannya.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?"
Seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan duduk di dekat meja kerjanya menatap Zavi yang baru mengulurkam tangannya ingin berjabat. Beliau terlihat berdiri sebentar untuk menerima uluran tangan tersebut.
"Siang Bu, saya Zavi. Saya kesini ada keperluan sebentar."
"Iya, ada apa ya Mas."
"Begini Bu, apa boleh saya bertanya tentang data salah satu mahasiswi di kampus ini."
"Maaf Mas, kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa Masnya ingin mengetahui salah satu mahasiwi kami."
"Begini Bu, saya kebetulan kehilangan kontak dengan keluarga mendiang ibu saya. Anaknya kuliah di kampus ini sekitar 10 tahun lalu, saya dan ayah saya sedang mencari keberadaannya karena ingin bertanya dimana makam ibu saya."
Beliau terlihat mengerutkan dahinya, tampak tidak yakin dengan penjelasan Zavi.
"10 tahun lalu, maaf Mas kalau mas tidak tahu nomor id mahasiswi kami yang Mas maksud, mohon maaf pihak kampus tidak bisa sembarangan memberi informasi mengenai hal itu."
"Apa tidak bisa jika hanya menggunakan namanya saja Bu, saya mohon ... saya benar-benar hanya ingin tahu info terakhir dia. Apa dia masih menjadi mahasiswi kampus ini 10 tahun lalu."
"Maafkan saya, Mas. Kami tetap tidak bisa memberi informasinya. Maaf Mas." Bahu Zavi meluruh lemas.
Bagaimana sekarang, apa yang harus dia lakukan lagi. Terus mencari keberadaan kekasihnya atau pulang dengan tangan kosong.
"Baik Bu, tidak apa-apa. Terima kasih, maaf kalau saya sudah mengganggu waktu luang Ibu."
"Iya, Mas. Tidak apa-apa, maafkan saya juga tidak bisa membantu Masnya."
Zavi mengangguk mengerti, lelaki itu pun segera pamit meninggalkan ruangan berjalan di koridor kampus dengan raut tidak semangat. Mengabaikan bisikan kaum hawa yang kembalu terdengar membuat kepala Zavi pusing sendiri mendengarnya.
Langkah kaki Zavi berhenti mendadak jika saja dirinya tidak bisa menjaga keseimbangan mungkin bokongnya sudah mendarat ke lantai hanya karena menabrak tumpukan kardus yang di bawa seseorang di depannya.
"Maaf ... maaf saya tidak sengaja," ujar orang itu sebelum kepalanya mengintip dari balik tumpukan kardus dengan mata membelalak lebar saat melihat sosok Zaviar Alstair.
"Kak Zavi."
"I-- Intan." Cicit Zavi tidak percaya.
Intan, sahabat Bianca saat masih kuliah di kampus ini. Zavi menatap sosok perempuan di depannya dengan alis terangkat sebelah.
Intan terlihat memakai baju putih dan rok hitam selutut. Dia terlihat seperti salah satu staff kampus.
Setelah memaksa Intan untuk mengobrol sebentar di sinilah Zavi, duduk di kantin kampus membuat semua pasang mata menoleh kearahnya dan Intan penasaran.
"Kak Zavi, apa kabar?" Seru wanita itu lebih dulu basa-basi.
"Aku baik, Intan. Maaf ya, aku harus bawa kamu makan di kantin."
Intan menggelang pelan, tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Tidak apa-apa, Kak." Zavi balas mengangguk, sedikit ragu untuk bertanya pada Intan.
"Kakak mau tanya tentang Bi kan?"
Deg.
Tertegun, Zavi hanya bisa mengangguk kaku. Senyum nanar di balik wajah sedih milik Intan membuat lelaki itu harus menahan napasnya, mengenyahkan pikiran jelek yang mulai merasukinya karena melihat hal itu.
"Maaf Kak, tapi Intan nggak pernah ketemu Bi lagi sejak kecelakaan itu. Bahkan Intan nggak tahu kemana Bi pindah rumah sakit waktu itu. Intan sempat datang kerumah Bi tapi rumah itu kosong untuk waktu yang nggak bisa Intan hitung Kak. Terakhir Intan kesana 9 tahun lalu, rumah itu sudah berganti pemilik."
Jantung Zavi berdebar kuat, tidak berani mendengar kelanjutan apapun lagi. Namun bibirnya justru tetap melayangkan pertanyaan kepada Intan, sahabat kekasihnya itu.
"Apa Bi, nggak pernah kuliah lagi, Tan."
Intan menggeleng lemah. "Tidak Kak, sejak kejadian itu Bi seperti hilang di telan bumi. Intan pikir Bi sama Kakak."
Kali ini Zavi yang menggeleng lesu dengan helaan napas pelan.
"Aku di usir sama ibu Bi sejak 10 tahun lalu, semua memang salah aku, Tan. Tapi aku nggak bermaksud mencelakai Bi."
Mengangguk, Intan percaya atas ucapan Zavi, lelaki itu terlalu mencintai sahabatnya. Tidak mungkin tega membuat sahabatnya celaka.
"Kenapa Kakak baru mencari Bi sekarang?"
"Aku harus tinggal di Paris bersama ayahku, Tan. Aku nggak bisa menghubungi Bi karena nomornya sudah tidak aktif sejak itu."
"Maafkan Intan ya Kak. Intan nggak bisa bantu apa-apa. Intan juga nggak tahu sekarang Bi ada dimana."
Zavi mengangguk paham.
Kini keresahan dan kesedihan bergelayut di dadanya.
Memikirkan dimana kekasihnya berada saat ini.
Bi, kamu ada dimana. Batin Zavi berteriak.
____
Bersambung...