Happy reading.
Typo koreksi.
___
Haruskah dirinya menyerah, tapi hati ini tidak bisa berbohong. Karena dalam hatinya yang terdalam seorang Zaviar Alstair masih mengharapkan bisa kembali bertemu wanita yang di cintainya dan memperbaiki keadaan mereka. Meski, Zavi tidak tahu bagaimana kehidupan kekasihnya selama ia pergi. Tapi, kini Zavi telah kembali dan ingin meminta maaf atas apa yang telah terjadi di masa lalu.
Setelah bertemu dan sedikit lebih lama berbincang dengan Intan, Zavi pun akhirnya pamit undur diri. Lelaki itu baru tahu kalau Intan bekerja di bagian Tata Usaha Perpustakaan kampus tersebut, sahabat kekasihnya itu bahkan sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak kembar berusia 5 tahun. Zavi turut bahagia meski hatinya sedang bersedih karena tidak bisa menemukan keberadaan kekasihnya.
Saat ini mobil Zavi melaju membelah jalan raya, hari masih pukul 2 siang. Zavi harus bergegas sampai di TPU pemakanan ibunya yang memakan waktu 1 jam 15 menit dari kampus tadi.
Tring.
Notifikasi pesan masuk, nama Deka tertera dilayar ponselnya yang tengah menyala. Zavi membukanya dan membaca isi pesan tersebut.
Deka
Bro, jangan lupa beli bunga tulip buat nyokap elo. Tadi bokap elo, suruh gue ingetin elo takut lupa.
Jadi menggeleng, Deka benar-benar seperti babysisternya yang selalu saja lapor apa yang di ucapkan ayahnya. Tangan Zavi mengetik balasan singkat yang pasti akan membuat Deka kesal di ujung sana.
Zavi
Ya
(Send)
Zavi menoleh, matanya mencari toko bunga yang mungkin saja bisa ia temui di sekitarnya saat ini.
Setelah berputar-putar akhirnya Zavi menemukan toko bunga di dekat jalan yang di laluinya. Turun dari dalam mobil dan bertanya tentang bunga tulip putih. Sayangnya, Zavi harus menelan helaan napasnya karena stok bunga itu belum masuk lagi di toko itu.
Zavi kembali mengendarai mobilnya mengikuti anjuran dari sang pemilik toko yang menunjukkan jika tidak jauh dari toko beliau, ada toko bunga yang mungkin memiliki stok bunga tulip.
Pasrah, Zavi hanya mengikuti arahan beliau sebelum nanti ia terlalu banyak berpikir dan menghabiskan waktu terlalu lama di jalan lalu membuat dirinya bisa kesorean sampai di tempat peristirahatan ibunya.
Benar saja, tidak butuh waktu lama hanya memakan waktu kurang lebih 10 menitan, Zavi sampai di toko bunga dekat pinggiran kota bertuliskan 'Shining Star'. Senyum tipis terukir di wajahnya, setidaknya Zavi tidak datang dengan tangan kosong saat mengunjungi ibunya nanti. Berharap toko ini memiliki stok bunga untuknya.
Tring.
Punyi lonceng pintu yang di gantung disisi pintu terdengar nyaring menyambut kedatangannya, Zavi seketika menghirup aroma wangi dari aneka bunga yang ada di sana. Kaki melangkah mendekati meja bertuliskan 'Kasir' di sana dan bertemu pegawai laki-laki muda. Lelaki tampan itu, segera meminta sebuket bunga tulip putih kesukaan mendiang ibunya setelah mendapat pertanyaan dari pegawai tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?"
"Ah, iya. Saya mau beli sebuket tulip putih, ada kan."
Pegawai itu mengangguk mengerti dengan senyum ramah, menyuruh Zavi menunggu sejenak sampai pemuda itu selesai menyiapkan pesanannya.
Zavi menoleh ke sekitarnya, lumayan cukup banyak juga pengunjung toko kecil ini. Zavi terus melihat sekitarnya memperhatikan bagaimana orang-orang memilih dan melihat-lihat aneka bunga di sana. Sampai raut tenang di wajahnya menghilang dengan mata terbuka lebar, mulut sedikit terbuka, tubuh yang menegang, serta bunyi detak jantung yang beritme seketika sangat cepat hanya karena melihat siluet sosok yang berdiri di jarak kurang lebih 3 meter darinya. Sosok itu baru saja keluar dari salah satu ruangan toko ini, pakaian sederhana dengan celemek bermotif bunga melilit di pinggangnya, rambut yang di gelung asal ke atas membuat dunia Zavi terasa berhenti detik itu juga. Kedua manik lelaki itu mulai mengabur memanas saat melihat senyum lebar sosok itu tercetak di wajah cantiknya saat melayani seorang pengunjung toko, senyum yang selama ini Zavi rindukan selama 10 tahun. Kini terpampang nyata di dekatnya. Kaki Zavi terasa lemas, ia tidak bisa berjalan mendekati sosok di depannya yang mulai mendekat kerahnya. Zavi ingin memeluk tubuh itu, sebelum harapannya jatuh kebawah jurang saat sosok cantik di hadapannya kini hanya melewati dengan senyum sekilas.
Zavi segera membalikkan tubuhnya, melihat punggung kecil itu mendatangi pegawai pemuda yang melayani beberapa saat lalu.
Bi. Bisik Zavi terlihat kebingungan.
"Ini, Mas." Zavi tersentak kaget, membuat pemuda di depannya sedikit terkesiap karena lelaki itumenyentak tangannya yang sedang menyodorkan bunga pesanannya. Zavi mengikuti langkah perginya sosok yang masih menempati hatinya. Tanpa menghiraukan pegawai tadi, Zavi melangkah dengan sangat cepat. Menarik lengan mungil itu dan mendekapnya degan sangat erat.
Grep.
"Akhirnya ... akhirnya aku menemukan kamu. I miss you, i miss you, so bad." bisiknya lirih.
Sret. Tubuh Zavi terdorong menjauh.
Dan ...
Plak.
Sebelum akhirnya suara tamparan cukup keras mengagetkan Zavi dan beberapa orang di sekitarnya, Zavi mengerjap menatap raut tidak suka sosok di depannya kini tertuju kearahnya.
"MAS INI APA-APAAN HAH! BISA SOPAN TIDAK."
Jleb.
Hati Zavi tersentil, mendapat perkataan yang keluar dari mulut seorang Bianca Almora, kekasih hatinya. Wanita yang sedang ia cari.
Bi, kamu kenapa.
Masih dengan raut terkejut Bianca menatap kesal kearah Zavi, tidak percaya ada lelaki asing yang berani-beraninya memeluk dirinya sembarangan di depan pegawai dan para pengunjung.
Di tempatnya Zavi mematung kaku ketika melihat sorot mata tidak biasa dari Bianca.
Zavi merasa asing, lelaki itu tidak mengenal binar itu.
Binar merasa terganggu milik Bianca.
"Mas nggak mau minta maaf hah?" Sarkas Bianca menatap lurus kearah Zavi yang masih berdiri diam seperti patung.
Bianca berdecak, sebelum membalikkan tubuh namun langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara berat dan lirih dari Zavi.
"Maaf, maafkan tindakan saya."
Bianca menghela napas panjang, menolehkan kepalanya dan tertegun karena melihat binar terluka di kedua manik lelaki yang baru saja memeluknya sembarangan tersebut. Hati Bianca merasa sedikit bersalah, namun ia enyahkan karena masih marah, tidak suka atas tindakan salah satu pengunjung tokonya barusan.
"Oke," balas Bianca singkat, sebelum pergi memasuki salah satu ruangan lainnya, meninggalkan keheningan di toko bunga tersebut.
Zavi menatap lantai kosong.
Pikirannya berkecambuk dengan hati sesak.
Apa yang sudah terjadi, Bi.
Kenapa kamu bersikap asing sama aku.
_____
Di dalam toilet Bianca membasuh wajahnya dengan air di wastafel, meredam sedikit rasa kesalnya.
Sorot sendu dan terluka milik Zavi kembali terbayang.
Bianca menggeleng cepat.
"Kamu nggak salah Bi, lelaki seperti itu pantas menerima tamparan kamu. Dasar laki-laki mesum." gerutu Bianca bergidik membayangnya pelukan erat itu lagi.
Bianca mengusap kedua bahunya sebelum menghembuskan napasnya kasar.
"Fokus Bi, kamu harus fokus. Ayo kerja lagi." serunya menyemangati diri, meski tidak memungkiri ia sedikit malu karena hal tadi.
Kosong, sudah tidak ada pengunjung lagi dan lelaki itu pun sudah pergi dari tokonya. Bianca menghela napas pelan.
"Mbak Bi, nggak apa-apa?" Putri langsung bertanya kepadanya ketika wanita itu sampai di depan meja kasir
Meringis, Bianca mengangguk kaku. "I-, iya saya tidak apa-apa, Put."
"Ya ampun Mbak. Tadi bikin kaget aja ya. Mbak teh kenal sama Mas tadi?" Gelengan kepala Bianca berikan.
Tidak.
Dia tidak mengenal lelaki tadi. Pikirnya dalam hati.
"Ya ampun, sayang banget ya Mbak. Padahal ganteng ya Mbak, mas tadi. Tapi kelakuannya nggak sopan main peluk-peluk orang sembarangan aja." Celoteh Putri lagi, dalam hati dibenarkan oleh Bianca.
Lelaki tadi, jujur Bianca akui sangat tampan.
"Sudah ... sudah tidak perlu dibahas lagi. Doni, maaf ya boleh saya minta tolong sama kamu. Bisa kamu bantu Putri pilih beberapa bunga yang mau kita kirim ke rumah sakit nanti sore," ujar Bianca mengalihkan pembicaraan mereka dengan cepat.
"Baik, Mbak," sahut Doni sebelum membawa Putri untuk mengikutinya.
Bianca menepuk pipinya, mencoba melupakan kejadian tadi.
Di luar toko, mobil Zavi masih terparkir cukup jauh dari tempat yang baru di kunjunginya.
Sorot mata kesal dan tidak suka Bianca masih terus menghantuinya.
"MAS INI APA-APAAN HAH! BISA SOPAN TIDAK." Suara lantang Bianca di dalam toko tadi mengguncang perasaan Zavi.
Dengan raut kebingungan, syok, senang sekaligus sedih, Zaviar hanya bisa menatap toko itu dengan perasaan campur aduk.
Bi, kamu kenapa?
_____
Bersambung....