Happy Reading.
Typo koreksi.
_____
Sakit.
Kata apa yang bisa mewakili perasaan seorang Zaviar Alstair saat ini, ketika Bianca tidak mengenalnya sama sekali saat dirinya berada di toko bunga milik wanita itu. Bahkan Bianca tidak memeluknya balik, kala Zavi sudah sangat merindukan kehadiran wanita cantik itu. Zavi pun harus menelan pil pahit saat tatapan asing dari Bianca tertuju kepadanya, hal yang membuat hati Zavi terasa tertusuk oleh ribuan pisau yang sangat tajam karennya. Sesak, jika saja Zavi tidak berusaha menahan rasa sakitnya saat itu mungkin ia sudah menangis detik itu juga, karena untuk pertama kalinya Bianca mengabaikannya dan wanita itu juga membentaknya membuat hatinya merasa benar-benar sangat terluka.
Zavi masih duduk termenung di dalam mobilnya, hari di luar pun sudah mulai gelap karena lelaki itu sejak tadi tidak beranjak sedikitpun dari sana. Dengan terpaksa Zaviar harus menunda kepergiannya ke makam ibunya, bunga tulip yang ia beli pun masih tergeletak di kursi samping kemudinya. Tatapan Zavi lurus menatap toko bunga bertuliskan 'Shining Star' tersebut yang masih ada pengunjungnya.
Dalam hati, Zaviar bertanya mengapa Bianca tidak bekerja di perusahaan milik ayahnya.
Apa yang sudah terjadi selama 10 tahun terakhir ini.
Helaan napas berat terdengar. Zavi merogoh saku celananya, kemudian mendesah pasrah saat ponsel genggamnya pun sudah mati kehabisan baterai. Lelaki itu kembali memasukkanya ke dalam saku, tidak memikirkan untuk mengisi dayanya kembali agar ponselnya menyala. Mengabaikan hal di sekitarnya, Zavi bahkan tidak memikirkan mungkin saja nanti ada telepon penting dari Deka untuknya, namun sepertinya lelaki itu memang enggan melakukan apapun sekarang karena perhatiannya saat ini tertuju pada sosok Bianca Almora, kekasih yang ia rindukan selama ini.
Wanita yang tidak lagi mengingatnya.
Tepat pukul 18.30 lampu di dalam toko tersebut padam, tidak lama pintu kaca itu terbuka dua orang keluar di susul Bianca tentunya. Wanita itu terlihat tersenyum lepas dan sangat akrab dengan dua orang tersebut. Tangan Zavi sudah bersiap memegang handle pintu mobilnya yang tidak terkunci untuk keluar dari kendaraan miliknya.
Zavi masih menunggu, sampai dua orang yang berdiri di depan Bianca tadi selesai berbincang-bincang dengan wanita itu sebelum akhirnya keduanya benar-benar pergi meninggalkan Bianca seorang diri.
Brak.
Zavi turun dan segera berlari menghampiri Bianca yang sudah bersiap membuka pintu mobil berwarna merah di depan toko tersebut. Meneriaki Bianca hingga wanita itu berjengit kaget karenanya.
"Tunggu!"
Bahu Zavi bergerak naik-turun, dengan deru napas cepat lelaki itu saat sampai di depan Bianca, kedua matanya menatap fokus ke raut kaget Bianca saat ini.
Di tempatnya Bianca mengambil langkah mundur ketika menyadari siapa yang berteriak kepadanya barusan.
"Anda? Ada apa lagi?" tanya Bianca dengan raut heran.
Ragu, Zavi terlihat berpikir ingin memanggil nama wanita di depannya namun melihat reaksi Bianca sekarang membuat Zavi mengurungkan niatnya mengucapkan hal tersebut.
"Maafkan saya," ucap Zaviar bernada formal seraya merundukkan kepalanya sopan.
Bianca mendesah pelan, berdiri tegap memandang Zavi masih dengan tatapan curiganya.
"Saya sudah memaafkan anda. Boleh saya pergi sekarang." Bianca ingin cepat-cepat menghindar, tampaknya wanita itu benar-benar merasa tidak nyaman berdekatan dengan lelaki tampan di depannya saat ini.
Tatapan sendu dari lelaki tidak dikenalnya tersebut entah mengapa begitu menggangu hati Bianca. Di depannya Zavi hanya bisa mengulas senyum miris mendengar perkataan dari wanita yang dicintainya tersebut.
"Saya Zaviar. Zaviar Alstair." Uluran tangan Zavi terulur ke depan menggantung di udara kearah wanita cantik itu, Zavi menunggu sambutan dari tangan putih mulus milik Bianca.
Hembusan pasrah keluar dari mulut Bianca, matanya melirik tangan dan wajah Zaviar bergantian. Ragu, dengan gerakan lambat akhirnya tangannya ikut terangkat menyambut uluran tangan yang terasa begitu dingin di telapak tangan Bianca saat ini.
"Bianca," balasnya singkat, kemudian menarik tangannya menjauh dengan cepat.
"Ka-- kalau begitu. Maafkan saya pak Zaviar, saya harus pulang sekarang. Terima kasih atas kunjungannya di toko saya tadi. Maaf juga atas tamparannya, saya benar-benar hanya refleks. Dan anda juga tidak perlu khawatir saya tidak marah lagi dengan anda, Pak Zaviar. Ah! Kalau begitu saya permisi Pak Zaviar, selamat malam," pamitnya.
Zavi mengangguk pelan, untuk terakhir kalinya lelaki itu menatap Bianca intens. Sebelum membiarkan wanita cantik itu pergi lebih dulu masuk kedalam mobilnya, meninggalkan Zaviar bersama perasaannya yang berantakan sendirian di sana.
Bi, apa yang sebenarnya sudah terjadi sama kamu.
_____
Hari ini Zavi seperti di bawa lagi kedalam perasaan yang sama seperti 10 tahun lalu, perasaan yang membuat hidupnya nyaris hancur karena harus berpisah dengan Bianca Almora, kekasihnya.
Jika, saja masa sulit itu gagal Zavi lewati. Mungkin, ya mungkin saja Zavi tidak akan ada di sini sekarang. Ucapan Roy waktu itu membuat Zavi sadar bahwa cintanya tidak salah, dan orangtua Bianca tidak bersalah jika mereka tidak menyukainya.
Kamu harus bisa membuktikan sama mereka, kalau perasaan kamu layak di sambut olehnya. Jangan menyerah nak meski banyak rintangan, kamu harus bisa melewati semua batu loncatan demi cinta kamu.
Kata Roy saat itu.
Andai, seandainya saja waktu bisa diputar kembali, Zavi tidak ingin Bianca terluka ketika 10 tahun lalu. Kesalahan yang tanpa sengaja ia lakukan di masa lalu sekarang justru harus ia peroleh karmanya.
Kini kekasihnya tidak lagi mengingatnya.
Bianca sudah melupakannya.
Inikah hukumannya?
Mengapa Tuhan memberikan cobaan berat kepadanya seperti ini.
Berpisah saja sudah membuatnya tidak bisa melanjutkan hidup, menjalani hari-hari sulit dengan perasaan tidak tenang selama ini.
Bi, apa kecelakaan itu membuatmu melupakanku. Batinnya nanar.
Binar asing Bianca mengusik Zaviar kembali, lelaki itu mengerang frustasi.
Sekarang apa yang harus Zaviar lakukan untuk membuat Bianca mengingatnya.
Bagaimana membuat Bianca kembali ke sisinya.
Sampai tengah malam pun tiba Zavi tidak bisa tidur, rasa kantuknya lenyap entah kemana. Zavi tengah terbaring menatap langit-langit kamar hotel lagi, dengan sejuta pertanyaan menggelayutinya.
Tring.
Notifikasi ponselnya yang sudah di isi daya lagi berbunyi, dengan malas Zavi mengambil ponselnya di atas nakas lampu tidur dan mulai membuka isi pesan yang di terimanya.
Deka
Zav
Zav
Woy, Zav elo kemana?
Zav, bokap elo telepon gue katanya nomor elo nggak aktif
Wah parah ini anak
Zav elo nggak nyasar kan?
Zavi menggeleng heran melihat pesan beruntun dari Deka. Pasti sahabatnya itu sedang kesal sekarang karena ponsel Zavi memang benar-benar baru ia hidupkan lagi 5 menit yang lalu.
Malas membalas, tidak lama justru suara nada dering terdengar. Zavi menatap layar ponselnya. Lagi-lagi nama Deka tertera di layar. Mendesah pelan, lelaki itu terpaksa mendial layar hijau di layar.
"Hmm."
"b******k! WOY ZAV ELO ADA DIMANA SIH?"
Zavi menjauhkan ponselnya karena suara teriakan Deka yang membuat telinganya berdengung.
"Ponsel gue mati," balasnya.
"Alah alasan aja, elo dimana sekarang. Udah ke makam nyokap elo belum? Tahu nggak sih elo, kalau bokap elo tuh sampai neror gue terus."
Zavi menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.
"Deka," panggilnya pelan.
"Apa? Jangan bil--"
"Ka, gue udah menemuin dia."
"APA?"
Zavi menutup matanya pusing mendengar suara keras Deka yang heboh di seberang sana.
"Beneran? Kapan? Dimana? Terus-terus dia-- Zav hallo Zav."
"Zavi elo masih di sana kan?" Suara Deka memelan dengan perasaan mulai tidak enak menggelayutinya di seberang sana.
"Dia nggak ingat gue, Ka. Dia nggak ingat gue sama sekali. Apa yang harus gue lakuin sekarang, Ka?"
Deg.
Malam itu Zaviar menceritakan tentang perasaannya saat ini, membuat Deka tidak bisa berkata-kata lagi karena lelaki itu mengerti bagaimana terlukanya hati Zaviar sahabatnya.
Bahwa, saat ini ada seseorang yang melupakan sahabatnya.
Zaviar Alstair.
____
BERSAMBUNG...