Malam Tokyo turun pelan, bukan seperti gelap yang menakutkan, tapi lebih seperti tirai biru tua yang ditarik perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu. Refleksinya jatuh ke permukaan sungai seperti pecahan cahaya yang bergerak pelan mengikuti arus air. Kevin dan Kesya berdiri di dermaga kecil, angin malam menyentuh wajah mereka. Setelah seharian jalan, makan, minum, dan keliling Tokyo, energi mereka sudah turun drastis—tapi justru di titik itu, semuanya terasa lebih tenang. Kesya menarik napas panjang. “…capek juga ya ternyata.” Kevin meliriknya. “Baru sadar?” Kesya langsung menoleh. “Dari tadi aku cuma pura-pura kuat.” Kevin ketawa kecil. “Gaya banget.” Kesya langsung nyengir. “Ya kan harus kelihatan kuat di depan suami.” Kevin langsung diam sebent

