Pengakuan

376 Words
,Di bandara, Jessica melambaikan tangan sebagai salam perpisahan ke Jonathan disana. Dan kembali lagi menjalani hubungan jarak jauh. Selalu ada rasa berat ketika harus berpisah seperti ini. Tapi apalah daya, baik Jesica maupun Jonathan harus terus bersabar dan tetap kuat untuk saling setia selama proses menyusun masa depan masih direncanakan. Sampai pada akhirnya, pesawat pun lepas landas dan Jessica kembali ke mobil. Ia duduk sambil menyandarkan diri di kursi kemudi. Matanya terpejam sesaat sambil terpikirkan untuk menyudahi hubungan jarak jauh ini lalu ikut bersama Jonathan di Australia. Sayangnya, tidak semudah itu pemikiran Jessica sebab orang tuanya tak mengijinkan dirinya sekolah jauh-jauh kecuali setelah menikah nanti. Dan sebelum Jessica pergi meninggalkan rumah karena sebuah pernikahan, kedua orang tuanya menginginkan Jessica untuk satu rumah dan hidup bersama sampai pada akhirnya nanti dirinya duduk di pelaminan. Baru lah kedua orang tua Jessica rela melepaskan Jessica hidup berjauhan dengan kedua orang tuanya. Jessica pun menarik napas panjang menepis semua pemikiran-pemikirannya yang meninggalkan rumah belum pada waktunya. Ia pun kemudian memutuskan untuk menyalakan mesin dan pergi dari bandara. Namun baru saja ia menyalakan mesin, ponsel Jessica berdering dan muncul nama Jonathan disana. Jessica tak langsung menekan tombol terima disana. Ia seolah masih berpikir beberapa kali untuk mengangkat. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk menerimanya dengan setengah hati. “Ya?” Jawab Jessica. “Gue tahu sekarang lo di bandara.” Seru Alex dibalik telepon. Jessica tidak menjawab, ia hanya diam saja disana. “Gue ada di rumah lo.” Ucap Alex. “Ngapain lo disana?” respon Jessica. “Gue udah bilang sama lo. Jika lo tidak menghubungi ku maka aku akan datang ke rumah lo.” Terang Alex. “Gue mau bicara empat mata sama lo. Lo tinggal pilih, kita bicara di rumah atau di luar?” Tawar Alex. “Apa tidak bisa kita bicara di telepon saja?” Pinta Jessica sedang tidak ingin bertatap-an langsung dengan Alex, sebab hatinya saat ini sedang tidak stabil. “Tidak.” Jawab Alex tegas. Jessica pun menghela napas lalu berkata. “Ok, gue akan share lokasi, lo bisa nemui gue disana.” Kemudian menutup sambungan teleponnya kemudian menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata berusaha menenangkan diri sebab saat ini jantungnya berdebar begitu kencang. Sungguh, semenjak kejadian di jembatan itu membuat perasaan Jessica tidak tentu. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD