LaD - dunia yang kacau.
Erix sama sekali tak menyangka jika apa yang dia lakukan sama sekali tidak berefek untuk demon orge yang ada di sana. Bahkan tubuhnya sudah hancur karena skill lava black emperor yang dia gunakan, dan karena hal itu dia juga harus menguras setengah energi sihir yang dia miliki. Tentu saja level yang belum mencapai tingkat lanjutan membuat Erix harus sedikit kesulitan di tempat ini.
"Argh!"
Erix menjaga jarak, di tatapnya demon orge yang kini mulai mengerang ke saluran di sana. Matanya merah nyalang dengan raut yang penuh amarah.
"Kenapa ...." Dia bergumang pelan, menatap tubuhnya yang hancur di sana.
"Kenapa kalian selalu saja menghalangi jalanku?"
"Kenapa?"
"Kenapa kalian tidak mati saja, sialan!" Teriak demon orge itu dengan raungan kuat membuat Erix harus menjaga jarak di sana. Terlebih ketika aura gelap pekay mulai menyelimuti tubuh demon orge dengan tekanan yang luar biasa kuat.
"Mundur!" Bentak Erix saat melihat suasana di sana ada yang tidak beres, dia merentangkan tangan agar pemimpin elf tadi menyingkir dari sana.
"Tapi...."
"Udah gue bilang, kalo Lo mau bantu gue, lebih baik Lo diem dan minggir sekarang, atau Lo bener-bener akan mati!" Sentak Erix, dia sendiri merasa jika suasana di tempat ini sangat tidak layak untuk mereka. Terlebih ketika demon orge mulai mengamuk di sana dengan kekuatan yang luar biasa mengerikan.
Entahlah, Erix sendiri merasa heran ketika dia harus berada di tempat ini dan ikut campur dalam masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Hanya saja, ketika dia melihat pria bertopeng tadi, Erix merasa tubuhnya bergetar dan ikut turun kedalam Medan peperangan.
"Sialan, seharusnya kau membayar untuk apa uang gue lakukan setelah semua ini berakhir!"
Erix mengunakan dirinya untuk menjadi tameng pemimpin elf ketika ledakan kekuatan dari demon orge itu meluap-luap, dia harus bisa melindungi pemimpin elf agar dia bisa mendengar langsung alasan peperangan ini terjadi. Karena baginya hal itu adalah kunci dirinya tahu penyebab semua ini terjadi.
Tak ingin terlalu lama membiarkan demon orge itu mengamuk dan menyebabkan kekacauan. Erix langsung melesat, dia menyambar pedang milik pemimpin elf tadi, lalu menggunakan skill teleportasi dan mulai memberi serangan demi serangan untuk demon orge.
Walau dia yakin serangan yang dia berikan sama sekali tidak berpengaruh, tapi setidaknya dia sudah melakukan semua itu untuk menghentikan gejolak luapan energi dari monster besar di sana.
Karena jika tidak, maka akan semakin banyak orge yang ikut mati karena luapan energi itu.
Dengan pergerakan sangat cepat dan kemampuan yang dia miliki, Erix mulai memberi serangan demi serangan, hingga tanpa sadar pedang yang dia gunakan mulai terkikis perlahan, bahkan dia merasakan kekuatan sihirnya mulai terhisap dengan sangat cepat di sana.
Sialan!
Erix melompat mundur menggunakan skill teleportasi, lalu mencari cara untuk mengalahkan demon orge yang memiliki kekebalan terhadap serangan langsung, bahkan berpotensi menyerap energi sihir serta stamina yang dia miliki.
Benar-benar monster yang menyusahkan. Jika saja ini dunia game, mungkin ada cara dan trik agar bisa mengalahkan bos monster di sana. Namun sayangnya, saat ini dia benar-benar berada dalam keadaan yang bisa dikatakan sebagai dunia nyata, bahkan dia merasakan rasa sakit yang dia dapatkan dari luka akibat dampak dari setiap serangan demon orge di sana.
Dan hal itu juga yang membuat Erix kesulitan dan agak ragu saat melakukan serangkaian serangan itu.
"Kenapa?" Tanya demon orge dengan suara mengerang.
"Apa hanya ini saja kemampuanmu?" Tanya monster busuk itu lagi.
"Lo pikir gue udah selesai?"
"Lalu? Kenapa kau berhenti?"
"Berhenti buka berarti kalah." Ucap Erix dengan seringai kecil di sana, jika kekuatan fisik dan sentuhan tidak bisa melukai demon orge, maka dia akan menggunakan beberapa skill yang dia dapat dari gua sebelumnya.
"Jangan salahkan gue kalo Lo bakal mati di tempat ini!" Erix terdiam sejenak, lalu mulai menyusun skill apa saja yang akan dia gunakan kedalam slot skill yang dia miliki.
Lalu setelahnya dia memikirkan bagaimana mana cara memberikan efek pada demon orge, Erix mulai melakukan serangan kombinasi dari setiap skill yang dia miliki.
Perlahan dia melilit menggunakan jaring hitam hingga membuat demon orge tak bisa bergerak di sana, hanya saja Erix dapat merasakan jika skill yang dia gunakan seolah terserap dengan perlahan di sana. Tak ingin membuat sebuah kesalahan, Erix langsung membuat sebuah getaran di atas tanah menggunakan skill keduanya, yaitu skill tanah, lalu dia kombinasikan dengan skill ketika yang seolah-olah menjadi sebuah lubang dengan skill penciptaan, dan setelahnya dia menghujani demon orge dengan puluhan petir di sana. Semua dia lakukan dengan ketentuan waktu yang sangat tepat dan perhitungan yang sangat tepat.
Erix berharap dengan serangkaian serangan itu berhasil membuat Demon orge tak bisa berkutik atau setidaknya bisa membuat monster bodoh itu menyerah.
Hanya saja semua skill yang dia gunakan tentu harus diimbangi dengan stamina dan energi sihir yang sangat banyak. Bahkan Erix harus kelelahan ketika dia menggunakan semua skill itu.
Erix melompat mundur, mengambil tempat yang cukup jauh di sana dan berusaha untuk melihat kondisi sang demon orge, dia tidak ingin jika dia gegabah malah membuat dirinya berada dalam masalah ataupun terancam oleh serangan dari demon orge itu.
Hingga kabut pasir itu menghilang, dia bisa melihat sang demon orge terkapar di sana. Melihat kesempatan itu, Erix langsung mengambil langkah, dia menggunakan energi sihir yang tersisa untuk serangan penentuan ini.
Sekali lagi dia menggunakan skill lava black emperor untuk memastikan semuanya.
Tapi siapa sangka, dua dari orge lain yang menjadi bawahan demon orge itu menghalanginya, hingga membuat Erix harus melompat mundur lagi dan menggagalkan skill dengan pinalti yang dia dapatkan tentunya.
"Apa yang kalian lakukan!" Sentak Erix dengan nada marah. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan para orge itu. Padahal sudah jelas jika tuan mereka akan menghabisi mereka dan menghancurkan semua yang ada di tempat ini, tapi mereka malah dengan bodohnya mencegah Erix untuk melancarkan serangan dan terkesan melindungi monster haus di sana.
"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh raja!"
"Itu benar, jika kau ingin membunuh raja, maka bunuh kami terlebih dahulu!"
Erix menatap kedua orge bodoh itu dengan tatapan tak percaya. Apakah mereka benar-benar gila? Sudah jelas sosok yang mereka anggap raja di sana mengamuk dan membuat daerah di sekitar hancur, bahkan ada beberapa orge lain yang menjadi korban dari demon orge di sana.
"Lo semua buta?" Tanya Erix dengan tatapan tajam. "Jelas-jelas monster yang Lo sebut raja itu memakan dan menjadikan kalian sebagai tumbal. Dan sekarang, kalian malah melindungi dia?"
"Tentu saja!"
"Sebagai rakyat dan pelayan raja, kami akan melakukan apapun untuk keberhasilan tuan, bahkan jika nyawa kami sendiri yang menjadi tumbal untik keberhasilan raja!"
"Bodoh! Di mana otak Lo semua!"
"Tidak peduli kami bodoh atau apapun itu, keputusan raja adalah mutlak, dan kami akan melindungi raja kami dengan nyawa kami di sini!"
Ck!
Erix benar-benar kesal.dengan situasi semacam ini. Situasi yang membuat dirinya jengah ketika harus berurusan dengan orang-orang bodoh yang sok peduli, padahal dari mereka jelas merasa takut karena perbuatan raja mereka, tapi dia orge sialan ini malah menunjukkan sesuatu yang membuat Erix merasa jengah!
Dia benar-benar benci ketika harus berada di situasi yang membuat dirinya tak bisa berbuat apa-apa, jikapun dia melakukan serangan, jelas dua orge itu akan binasa karena kekuatan mereka tidak sebanding dengan kekuatannya. Hanya saja, Erix masih berpikir waras dan menganggap jika mereka masih layak untuk tetap hidup.
Walaupun dia benci dengan orang-orang seperti itu, dan dia benci akan keramaian yang memaksa dirinya kembali ingat tentang kejadian di kehidupan sebelumnya, tapi dia masih memiliki hati untuk tidak membunuh siapapun di tempat ini.
"Jika kau ingin mengakhiri semua ini, maka bawa kamu beserta raja kami!" Balas salah satu orge dengan jubah di sana.
"Karena kami tidak akan bisa melihat raja kami mati!" Sahut orge yang lain.
"Kami akan menjadi jembatan agar tujuan raja tercapai, apapun itu asal kami bisa terbebas dari penderitaan ini, akan kami lakukan!"
Erix benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa, setengah energi sihirnya jelas sudah lenyap karena pinalti Nyang dia dapatkan ketika menggagalkan skill tadi. Dan sekarang, jika dia harus bertarung dengan orge itu, maka hanya skill predator yang bisa dia gunakan, tapi untuk menggunakan itu, tentu saja dia harus melahap demon orge dengan segala resiko yang harus dia tanggung.
"Ka-kalian...."
Erix mengernyit ketika melihat demon orge di sana mulai bangkit, dengan keadaan compang camping, dia berusaha untuk berdiri.
"Menyingkir dari hadapanku. Aku akan menyelesaikan pertarungan ini dan membawa ras orge ke keadaan yang lebih baik, aku, raja kalian sudah berjanji untuk memberikan kehidupan yang layak untuk kalian...." Tubuh demon orge mulai limbung, dia jelas kehilangan setengah tubuhnya yang kini mulai mengucurkan darah di sana, walau kemampuan regenerasi itu terbilang cepat, tapi untuk memperbaik sel yang rusak parah, tentu saja membutuhkan waktu yang sangat lama.
"Raja!"
"Tidak usah pikirkan aku, lebih baik kalian menyingkir dari sini, dan selamatkan para prajurit yang tersisa!"
"Tidak! Aku Tom, sebagai panglima perang tidak akan membiarkan raja bertarung seorang diri!" Bantah orge yang menggunakan jubah di sana, dia terlihat ingin bertarung dengan sang raja, tapi apa daya, kekuatan yang dia miliki jelas tidak akan sebanding dengan pertempuran di tempat ini.
"Apa kau ingin membantahku?" Tanya demon orge dengan napas menderu, rasa sakit itu mungkin membuat demon orge terlihat tidak stabil, bahkan emosinya terlihat sudah meluap di sana.
"Apa kau tidak mendengarkan aku?" Tanya demon orge dengan tatapan tajam. "Aku melakukan semua ini demi kalian, lalu apa gunanya kemenangan jika kalian harus mati di tempat ini?"
Kedua orge yang berdiri di depan demon orge terlihat terdiam di sana.
"Mengorbankan nyawaku bukanlah sesuatu buang sulit untuk meraih masa depan yang baik untuk rasa kita. Aku tidak peduli, apakah aku harus mati atau mampu bertahan untuk segala kemungkinan, tapi saat ini, kalian adalah harapan terakhir ketika aku benar-benar tidak mampu lagi mempertahankan nyawaku!" Demon orge perlahan bangkit.
"Bahkan sebelum peperangan ini di mulai, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan mengorbankan nyawaku demi kalian. Para rakyat yang harus mendapat tempat yang layak untuk hidup. Aku sebagai raja merasa malu jika aku harus mengorbankan kalian dan membawa kalian ke jalan yang berliku lagi. Sudah cukup penderitaan yang aku berikan kepada kalian, dan sekarang, biarkan aku bertarung dengan membawa kebanggaan diri demi kebaikan kalian semua!"
Dua orge, bahkan orge yang mendengar ucapan itu tak bisa berkutik di sana, mereka semua terdiam tanpa suara, hingga keheningan itu membuat Erix merinding.
Dia sama sekali tidak mengerti dengan kondisi yang di alami oleh para ras orge, bahkan dari ucapan yang dia dengar itu membuat Erix tak bisa mengambil kesimpulan.
Dia menoleh, menatap pemimpin elf yang berdiri di belakang tubuhnya, dari tatapannya dia seolah bertanya apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan ras orge. Lalu gelengan pelan dari elf membuat Erix kembali mendengkus dengan kasar.
Dia menoleh, menatap para orge yang masih menunduk dalam di sana.
"Permisi!" Teriak Erix dengan lantang. "Kalian ngomongin apaan woy? Gue sama sekali nggak ngeri ke mana arah pembicaraan kalian!"
Demon orge mengangkat wajahnya, dia menatap Erix dengan seksama sebelum akhirnya dia berjalan, tangannya meraih pundak tim si panglima perang, lalu mendorongnya mundur beberapa langkah, dan setelahnya dia berjalan menuju ke hadapan Erix. Dengan tubuh yang perlahan mulai beregenerasi itu dia berdiri dengan kokoh di sana.
Walau sudah jelas terlihat jika kondisi orge itu sama sekali tidak bisa di katakan baik.
"Tidak ada yang perlu kau tahu." Kata demon orge dengan tatapan tajam dan terkesan tenang di sana. Tatapan yang membawa Erix kembali ke mana dia berada di kondisi yang tidak baik-baik saja, tapi dia masih bersikap jika semua tetap baik-baik saja.
"Aku akan melakukan semua yang aku mampu untuk menghadapi mu, tapi...." Demon orge itu menjeda kalimatnya, dia memanjakan matanya dan menarik napas dalam-dalam sebelum dia membuka kedua kelopak matanya perlahan.
"Tapi jika ternyata aku kalah dan mati di tangan mu, aku hanya ingin minta satu hal kepada mu."
Erix tak langsung menjawab, dia malah memincingkan matanya dan seolah bertanya, "serius?"
"Jika aku kalah dan mati, tolong lepaskan para prajurit ku dan biarkan mereka pergi ke keluarga mereka masing-masing...."
"Dan setelah itu mereka akan membuat rencana untuk menghancurkan hutan ini? Menjajah serta membuat kekacauan terhadap ras lain?"
Ah, Erix ingat kenapa dia ikut andil dalam peperangan yang mengancam banyak ras serta hutan ini sendiri. Semua karena janjinya kepada sang naga, dan pria selalu menepati ucapannya, hal itulah yang membuat Erix merasa dia harus ikut campur dalam peperangan ini.
Demon orge menggeleng pelan. "Aku, akan menjadi jaminan jika mereka membuat kekacauan lagi. Maka saat itu aku akan datang dan membuat mereka mengingat apa yang sudah terjadi di tempat ini."
"Serius? Apa Lo lagi ngelawak sekarang? Udah jelas Lo bakal mati, tapi masih bisa buat janji bodoh semacam itu?"
"Tentu saja, aku akan menjamin jika aku mati karena kalah di tempat ini, maka semua keturunan dan rakyat yang selama ini aku pimpin tidak akan ada yang berani membuat kekacauan lagi."
"Jujur saja gue nggak ngerti sama apa yang Lo bicarain, tapi gue bakal kasih jaminan kalau gue akan melepaskan prajurit Lo, tapi dengan satu syarat!"
"Tentu saja, katakan."
"Salah satu dari kalian harus memberi tahu alasan kenapa kalian semua melakukan p*********n ini."
"Baik, aku akan menjamin semua itu, dan ketika aku kalah nanti, maka aku akan menyerahkan semua janji itu kepada Tom untuk menjawab semua pertanyaan mu."
"Baik, gue akan memegang janji itu, dan akan menagihnya setelah lo mati nanti!"