LaD - sebuah pertemanan
Napas memburu, rasa sakit yang luar biasa dan luka fatal di dapatkan oleh Dino, dia benar-benar terpojok bahkan tak bisa melanjutkan pertarungan lagi setelah dirinya di hajar habis-habisan oleh Erix, padahal hanya beberapa serangan saja tapi dia sudah tak berdaya dibuatnya.
Entah siapa sosok Erix sebenarnya, seolah dia adalah kekuatan mutlak yang tak terkalahkan, atau memang dirinyalah yang terlalu lemah hingga bisa dikalahkan oleh orang itu hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
Dia menyeringai, tubuhnya terkapar di atas puing lantai yang hancur karena ledakan
Beruntung tubuhnya tidak ikut hancur karena serangan itu. Dan dia bisa sedikit bernapas lega ketika dia masih memiliki napas setelah kekalahannya.
Erix datang, lalu berdiri di hadapannya dengan tubuh menjulang tinggi. Aura gelap mengelilingi tubuh Erix dengan kekuatan yang luar biasa di sana.
Kekalahan yang tidak terlalu buruk untuk Dino, dan hal ini adalah sebuah pacuan untuk dirinya agar terus berkembang untuk menjadi lebih kuat lagi.
"Kau menang...," Ucapnya dengan napas menderu di sana.
"Bahkan belum ada lima menit dan lo udah tumbang."
Dino tak menjawab, karena baginya perkataan itu bukanlah sebuah hinaan, melainkan sebuah tamparan atas kesombongan dirinya yang terlalu bangga akan kekuatan yang dia miliki, seperti kata pepatah, di atas langit masih ada langit, dan di atas orang kuat tentu akan ada orang yang lebih kuat lagi.
"Tidak masalah, aku sudah ceroboh dan meremehkan mu sejak awal."
Erix menyeringai, setelahnya dia berlutut di sana menatap wajah Dino yang terlihat lebam dan tak berbentuk di sana. Dia mengulurkan tangan setelahnya. "Bangun, gue tau Lo masih bisa berdiri," ucap Erix dengan nada meremehkan. "Gue anter ke ruang perawatan biar luka Lo nggak jadi cacat permanen."
"Hahaha, kau sungguh lucu, sempat-sempatnya kau masih mencemaskan lawan yang sudah meremehkan mu sejak awal."
"Tidak masalah, gue cuma bersikap jantan dan jadi contoh baik buat lo yang masih puber ini."
"Haha, asal kau tahu aku sudah melewati masa puber lima puluh tahun yang lalu."
Erix mengerutkan kening gak percaya, siapa sangka jika sosok bocah di hadapannya ini sudah berusia lebih dari seratus tahun, jika memang itu benar, lalu berapa usia para tetua elf yang ada di tempat ini.
"Ck, Lo bener-bener udah tua emang."
"Tua?" Tanya Dino dengan kekehan pelan. "Kau tidak tahu saja berapa usia petinggi eksekutif. Jika kau tahu mungkin kau akan tercengang."
"Terserah. Yang bikin gue penasaran, berapa usia akhir kalian itu."
"Entah." Dino menyambar ukuran tangan Erix, dan setelahnya Erix menarik tangan Dino hingga tubuh anak itu berdiri. "Seribu atau lima ribu tahun mungkin."
"Bukankah membosankan jika bisa hidup selama itu."
"Mungkin untuk orang seperti kalian hal ini akan sangat membosankan, tapi bagi kami yang tidak bisa mudah mendapatkan sebuah keturunan, dan melanjutkan ras, hal ini tidaklah membosankan."
"Itulah kenapa ras elf tidak sebanyak ras orge?"
"Katakan saja seperti itu."
Erix berusaha memapah tubuh pendek Dino. Membawanya keluar dari arena pertarungan dengan seksama. Hal itu tentu saja tak luput dari perhatian para penonton yang masih tercengang atas hasil pertandingan ini.
"Uangku!" Teriak salah satu penonton setelah dia sadar.
"Tidak! Tidak! Ini tidaklah mungkin!"
"Gila! Uangku, uang yang sudah ku kumpulkan selama lima tahun lebih."
Mereka semua menjerit gak percaya, kekalahan yang mereka dapatkan tentu saja membuat mereka semua bangkrut karena sudah mempertaruhkan seluruh uang yang mereka miliki untuk pertarungan ini, dan hasil dari pertarungan ini sungguh di luar nalar. Bahkan serangan terakhir dari Erix berhasil membuat arena pertarungan hancur berkeping-keping tak berbentuk lagi.
"Gue penasaran, apa orang-orang di sini gila akan pertaruhan?"
"Jangan heran, karena di tempat ini, jika ada sebuah pertarungan di arena maka mereka akan datang dan mempertaruhkan uang mereka untuk mendapat sebuah keuntungan."
"Keuntungan? Jelas-jelas mereka bangkrut karena kelakuan mereka sendiri."
"Sudah menjadi resiko bukan, menang dan kalah tentu sudah menjadi hal yang wajar untuk mereka yang berani mengambil keputusan bodoh itu."
"Keputusan bodoh yang akan membuat mereka menyesal." Dengkus Erix di sela langkah kakinya.
"Menyesal?" Tanya Dino dengan kernyitan di dahinya.
Erix mengangguk pelan sebagai jawaban.
Sedangkan di sisi lain Dino terkekeh karena pernyataan konyol dari erix. "Kau tidak tahu saja, untuk mereka yang sudah lelah dalam menjalani kehidupan, taruhan seperti ini adalah sebuah kesenangan tersendiri, bahkan mereka bisa memacu adrenalin mereka untuk mendapatkan kesenangan yang tak terhitung jumlahnya."
"Untuk kami yang sudah bosan dengan kehidupan karena umur yang terlalu banyak, hal seperti ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, bahkan bukan hanya perjudian, mereka juga banyak yang melakukan hal kotor lainnya hanya untuk bersenang-senang."
"Bukannya hidup abadi itu menyenangkan?"
"Menyenangkan katamu?" Tanya Dino dengan dengkusan pelan.
Erix mengangguk pelan.
"Jika bagi mereka yang belum merasakan apa yang kami lalui mungkin akan berpikir hidup ini sangat menyenangkan, tapi apa kau berpikir hidup abadi akan selamanya menyenangkan ketika kau sudah tidak memiliki tujuan lagi di dunia ini?"
"Maksudmu?"
Erix tetap saja bingung dengan apa yang dikatakan oleh Dino. Bukankah orang-orang berharap memiliki umur panjang agar bisa melakukan semua hal yang mereka sukai, tapi sekarang.
"Untuk kami yang sudah hidup terlalu lama dan melihat segala hal yang mungkin tidak bisa di saksikan oleh ras lain adalah hal yang benar-benar membosankan, bukan hanya membosankan, tapi kami juga merasakan kesedihan saat kehilangan kerabat dan sahabat dekat dari ras lain, hidup abadi tidak seindah seperti apa yang dipikirkan, kita akan terkurung di dalam cangkang kosong tanpa ada gairah untuk hidup."
"Kenapa tidak bunuh diri saja."
"Kau pikir ras elf bisa mati hanya dengan bunuh diri?"
"Emangnya nggak bisa?"
"Bunuh diri atau mengakhiri hidup adalah pantangan untuk kami, bahkan kami tidak bisa melukai diri sendiri dengan sayatan ataupun tusukan pedang. Tangan kami tidak akan bisa melakukan hal itu."
"Lompat saja dari tebing."
"Dan menyakiti diri sendiri? Sungguh hal konyol."
"Lo mau mati kan? Ya udah lompat aja dari tebing."
"Jika kami bisa mati maka itu bukanlah sebuah masalah, tapi yang jadi masalah, kami tidak akan mati hanya karena melompat dari tebing atau terjun dari ketinggian sekalipun."
Erix terdiam, tatapannya menatap tak percaya pada sosok Dino yang masih berdiri di sana.
"Membosankan."
Satu kata itu keluar begitu saja dari mulutnya dan membuat Dino terkekeh pelan.
"Sudah ku katakan jika itu membosankan bukan." Ujar Dino dengan kekehan pelan.
"Oh ya, siapa namamu? Aku belum tahu namamu bahkan setelah kita baku hantam."
Dengan ekor matanya Erix melirik sosok Dino yang ada di sebelahnya.
"Panggil aja gue Erix."
"Erix?" Gumang Dino pelan. "Nama yang bagus."
"Terima kasih." Ucap Erix, mereka sudah sampai di ruang perawatan di mana Fairy sudah menunggu di sana dengan senyum seperti sebelumnya, teduh dsn mempesona.
"Dan kau bisa memanggilku dengan sebutan Dino, karena mereka semua memanggilku dengan nama itu."
"Gue udah tau."
Dino terkekeh pelan di sana, lalu berbaring di tempat tidur dan membiarkan Fairy menyembuhkan luka yang ada di tubuhnya.
"Dan sesuai kesepakatan. Aku akan memberitahumu di mana para orge yang tersisa di tahan. Namun sebelum itu, aku ingin menanyakan bapa alasanmu untuk membebaskan mereka yang sudah membuat sebuah kekacauan di hutan ini."
"Sebelum itu, sembuhkan saja dulu luka lo, nggak usah banyak omong dulu dari pada Lo mati karena sekarat."
"Kau pikir siapa aku ini? Mari hanya karena luka kecil seperti ini."
Erix mengedikkan bahunya pelan. "Siapa tau, kan, serangan gue membuat Lo sekarat dan mati."
"Hanya dengan luka seperti ini tidak akan membuat ku mati. Kau bahkan tidak akan percaya dengan apa yang sudah aku lalui sebelum ini."
"Masuk neraka?" Tanya Erix santai.
"Sial!" Dini mendengkus kasar. "Aku tidak mungkin mau masuk neraka sebelum aku puas hidup."
Seketika itu Erix tergeletak ketika mendengar ucapan Dino, dia sendiri jelas yakin jika Dino tidak akan mati hanya karena luka kecil yang sudah dia berikan, karena Erix hanya menggunakan sedikit kekuatan untuk menyerang Dino tadi.
"Gue pikir lo udah bosen hidup."
Dino melirik Erix dari ekor mataya, saat ini dirinya masih disembuhkan oleh skill milik Fairy yang masih berupaya untuk menutup luka di tubuh Dino.
Doa sendiri merasa heran, padahal gelora dan semangat di dalam dirinya akan sebuah pertarungan sudah lama padam, tapi entah apa yang terjadi sekarang, dia seolah mendapatkan kesenangan saat melawan Erix tadi. Seolah ada sebuah kobaran yang kembali menyala di dalam dirinya setiap kali dia merasakan pukulan demi pukulan di sana.
Beradu kekuatan dengan orang yang memiliki kekuatan setara- tidak, sepertinya Erix memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa melebihi dirinya, dia sadar ketika Erix mampu menekan serangan miliknya dan seolah tidak terpengaruh sama sekali oleh serangan itu.
"Entahlah, aku pikir mati lebih baik dari pada hidup lama dengan penuh kebosanan ini, tapi rasanya sekarang sudah berbeda
"Terus?" Eris menahan senyum di bibirnya ketika mata nakalnya melihat wajah Dino yang terlihat malu-malu di sana. "Apa karena gue Lo jadi dapet semangat untuk hidup?"
"Jangan terlalu percaya diri!"
Dan lagi, gelak tawa Erix membahana di raung perawatan itu, membuat beberapa elf yang lewat sedikit heran dan mengernyitkan kening dengan kebisingan yang terjadi di sana.
Padahal sudah jelas tempat ini adalah tempat perawatan, atau bisa dikatakan sebagai rumah sakit di kerjaan elf, tapi dengan bodohnya Erix tertawa keras seolah tempat ini adalah tempat umum untuk ya.
"Kecilkan suaramu bodoh, ini tempat perawatan, kau bisa mendapat masalah jika terus tertawa seperti itu." Dengkus Dino kesal, dia jelas tahu, siapapun tidak akan berani melakukan itu saat ada dirinya di tempat ini, tapi entah kenapa dia malah mengatakannya di depan Erix, seolah ingin melindungi dirinya dari rasa malu yang mendera.
Siapa yang tidak malu ketika dia mendapat perlakuan seperti itu dari seorang werwolf yang ada di sana. Sosok asing yang memiliki kekuatan luar biasa.
"Oke-oke, maafkan gue." Erix masih berusaha menahan tawanya walau demikian dia harus mengeluarkan air mata karena merasa lucu saat melihat raut malu dari Dino.
Di sisi lain, Dino memilih berbaring dan menatap langit-langit ruangan itu, pikirannya melayang dan memprediksi seberapa besar kekuatan di dalam diri Erix. Lalu mengambil kesimpulan jika kekuatan pria itu hampir sebanding dengan kekuatan raja iblis yang pernah dia lawan dulu, atau bahkan kekuatan Erix lebih besar dari raja iblis di sana.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini." Tanya Dino tiba-tiba, dia menoleh menatap Erix sejenak sebelum kembali menatap lurus ke depan. "Maksud ku apa yang akan kau lakukan setelah membebaskan para orge?"
Erix terdiam sejenak, dia sama sekali tidak memikirkan hal itu, baginya tujuan dia membebaskan para orge hanya karena janji yang pernah dia ucapkan sebelumnya.
"Tidak ada."
"Kau serius?"
Erix menoleh, menatap Dino yang kini menatap kearahnya.
"Memangnya kenapa?"
"Kau tidak berpikir apa yang akan terjadi pada mereka?" Tanya Dino tiba-tiba. "Mereka baru saja membuat sebuah kekacauan, dan mereka juga baru saja kehilangan pemimpin mereka. Apa kau pikir setelah membebaskan mereka, maka mereka akan mendapat sebuah kebebasan? Lalu tempat tinggal? Apa kau pikir dengan kau melakukan semua itu akan membuat mereka bisa hidup nyaman dan tenang?"
"Lalu bagaimana jika nanti ada pihak yang menaruh dendam kepada mereka dan menghabisi mereka karena sebuah dendam?"
Seketika Erix termenung, dia benar-benar tidak berpikir sampai sejauh itu, dia hanya ingin menepati janji tanpa berpikir apa yang akan terjadi kepada mereka kedepannya. Semua hanyalah karena pikiran dangkal dirinya tentang sebuah keadilan, tanpa berpikir bagaiman nasib mereka kedepannya.
"Lalu, gue harus gimana?"
Dino menarik senyum di bibirnya. "Aku bisa membantumu," ujar Dino pelan. Dan tentu saja hal itu tidak langsung di jawab oleh Erix.
"Tentu tidak gratis, aku akan membantumu, asal kau mengizinkan aku mengikuti mu."
"CK, Lo pikir siapa Lo ini?"
"Aku?" Tanya Dino pelan. "Salah satu petinggi eksekutif yang memiliki kekuatan luar biasa."
"Tapi Lo kalah dari gue."
"Karena kau memiliki kekuatan yang bahkan melebihi kekuatan iblis."
Deg!
Iblis? Erix langsung mengingat sebuah janji yang hampir dia lupakan, lalu sosok bertopeng yang dia lihat di tengah-tengah pertempuran para orge beberapa waktu lalu, dia sama sekali tidak menyangka jika Dino mengingatkan dirinya tentang janji yang sudah dia buat dengan sang naga.
"Bagaimana?" Tanya Dino lagi, kali ini pertanyaan itu berhasil menarik dirinya Desi lamunan.
"Tentu, asal lo siap menerima konsekuensinya."
"Bukan masalah." Ujar Dino sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Erix.
Erix menyambutnya, dan mereka langsung berjabat tangan, dan sebuah ikatan terjalin dari jawab tangan tersebut, sebuah ikatan pertemanan dari sebuah pertarungan yang sudah mereka lalui sebelumnya.