Vincent berdiri kaku di depan gerbang besar rumah orang tua Flora. Tangannya mengepal tanpa sadar, sementara napasnya terasa berat, seolah dadanya dipenuhi beban yang tak kasatmata. “Kenapa sunyi sekali, Mah …?” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. Meyla menoleh, menatap wajah putranya yang pucat dan gelisah. “Wajar, sayang. Orang tua Flora sedang di luar negeri,” jawabnya lembut, berusaha terdengar menenangkan. Jobart melangkah ke depan, menekan bel di gerbang. Suara ting tong terdengar nyaring di tengah keheningan malam, membuat Vincent refleks menegakkan tubuhnya. Detik-detik menunggu terasa jauh lebih lama dari seharusnya. Tak lama, seorang petugas keamanan muncul. Begitu melihat Vincent dan keluarganya, wajah pria itu langsung berubah terkeju

