Malam itu, keluarga Alexander terbang kembali ke Indonesia dengan penerbangan malam. Di balik kabin pesawat yang redup, Vincent duduk kaku di kursinya, rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang terus berusaha meledak. Tangannya bergetar tanpa bisa ia kendalikan. Meyla yang duduk di sampingnya menggenggam tangan itu erat, seolah takut jika putranya runtuh kapan saja. “Sayang … kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya pelan, suaranya penuh kehati-hatian, seakan satu kata salah bisa memicu badai. “Iya, Mah …” jawab Vincent lirih. Suaranya terdengar rapuh, jauh dari sosok dingin dan kejam yang selama ini ia bangun. Getar di suaranya tak bisa ia sembunyikan. “Kita akan segera bertemu Flora,” lanjut Meyla lembut. “Tenanglah.” Kata Flora justru menjadi pemicu. “Hiks

