Aleena mengerjap. Berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang menelusup melalui celah gorden. Terduduk, mengusap pelan matanya dan melihat ke sekitar. Tidak ada Aksa. Ia masih ingat betul jika semalam ia tidur bersama pria itu, lalu ke mana dia sekarang? Mencoba untuk tidak ambil pusing, pada awalnya Aleena ingin kembali tidur. Ia ingin mempersiapkan energinya guna menulis bab konflik utama dari buku novel yang tengah ia garap. Namun apa yang terjadi sepertinya tidak sejalan. Tiba-tiba saja rasa mual menyerang dengan intens tanpa bisa ia tahan. Buru-buru dirinya berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ia mengusap wajahnya sendiri, menatap pantulan diri dalam cermin dan membatin. “Aku benar-benar hamil. Apa ini memang takdirku?” Berusa

