Part 12 -- Belajar Melupakan

2253 Words
"Enggak, mungkin semester depan." Reza menjawab dengan singkat pertanyaan temannya itu. Reza malas untuk berbasa-basi pada temannya. Mereka pasti akan berusaha mengorek tentang kehidupan pribadinya. Sejak memutuskan menjauh dari sosok Arini, Reza memilih untuk diam. Tidak ingin lagi menjadi sosok yang banyak orang ingin tahu perihal kehidupan pribadinya. Ia bergegas menuju ke parkiran dan pulang ke tempat indekosnya. Selama perjalanan, sepintas ia melihat sosok yang ingin dilupakannya sedang bersama seorang pria yang tampak berpakaian perlente layaknya seorang pengusaha. Ya, Arini sedang bersama Henri Gunawan. Sosok pengusaha sukses di negara ini. Arini yang kebetulan dikenalkan oleh salah satu rekan dosen, sedikit terpesona dengan sosok Henri. Pun dengan laki-laki itu. Mereka sering jalan bersama menghabiskan waktu. Entah makan siang ataupun hanya sekadar bertemu biasa. Tidak ada status di antara mereka berdua. Cengkeraman tangan Reza pada stang kemudi motornya mengerat. Ia ingat apa yang dikatakan oleh wanita tinggi semampai itu. Jika wanita itu mencintai seseorang dan hendak masuk ke jenjang yang lebih serius. Apa yang dilihatnya hari ini adalah jawaban yang benar-benar logis bagi Reza. Reza menggunakan helmnya dengan cepat. Ia menyalakan mesin motornya. Ingin segera pergi dari parkiran motor. Apa yang dilihatnya membuat hatinya berdenyut nyeri. Menyakitkan. Reza mempercepat laju motornya. Ia ingin segera sampai di kamar indekosnya. Membereskan semua foto Arini yang ia ambil dengan diam-diam. Reza sangat hobi memfoto wanita cantik itu tanpa diketahui oleh si pemilik wajah cantik itu. Ia akan membuang atau menyimpannya nantinya. Reza memarkirkan motornya sembarang. Ia berlari kecil menuju kamarnya. Membuka kunci kamarnya dan menutupnya dengan kasar. Tas ransel yang dibawanya dilemparkan ke sembarang arah. Tangan kekarnya pun mulai mencopot satu per satu foto yang ada di dinding kamarnya. Foto-foto milik Arini. Semua foto itu ia masukkan dalam sebuah kotak kertas berwarna hitam. Kotak berisi sebuah buku yang hendak ia berikan sebagai kado pada sosok wanita pujaan hatinya itu dua bulan mendatang. Sayangnya, patah hati datang lebih dahulu dan membuat Reza mengurungkan niatnya. Lebih baik membaca sendiri buku itu daripada diberikan pada orang lain. "Za! Ada yang cari!" suara teriakan salah satu teman indekos Reza membuat laki-laki tampan itu terkejut dan bergegas keluar dari kamarnya. Betapa terkejutnya Reza saat tahu siapa yang mencarinya. Ya, di depan sana ada Arini dan laki-laki yang tadi dilihatnya. Sebisa mungkin, Reza bersikap wajar. Tidak emosi dan menekan segala rasa amarah yang siap meledak. Marah karena cemburu melihat Arini bersama dengan laki-laki itu. "Reza, ini bukti jika apa yang aku katakan itu serius. Kenalkan, dia Henri Gunawan, calon suamiku." Arini menekankan kata calon suami dengan tujuan memamerkan pada Reza. Reza menyambut uluran tangan dari Henri dengan rasa tak menentu. Akan tetapi, ia ingat dengan nasihat sang kakak. Arini bukanlah wanita yang tepat untuk dirinya. Reza berusaha tersenyum, lebih tepatnya memaksakan untuk tersenyum. "Saya Henri calon suami Arini," kata laki-laki di depan Reza dengan mantap. Reza berusaha sebiasa mungkin untuk menanggapi perkataan Arini. Ia tidak ingin terpancing amarahnya kali ini. Tekadnya sudah bulat, tidak akan mendekat ke arah Arini. Cukup sampai di sini saja. "Reza. Oh silakan duduk, maaf, ya, tempat indekos laki-laki, ya, begini bentuknya," kata Reza sambil menyingkirkan beberapa gelas kotor yang ada di meja saat tangan keduanya terlepas. "Tidak usah, kami akan segera pulang. Calon suamiku banyak pekerjaan." Arini mengatakannya dengan sombong perihal calon suaminya. Mereka segera meninggalkan tempat indekos Reza. Reza tidak menanggapi perkataan dari Arini. Ia memandang wanita dan laki-laki itu dengan pandangan nanar saat keduanya keluar dari pintu ruang tamu. Maksudnya apa? Sekadar pamer jika mereka hendak menikah? Sudahlah tidak usah memikirkan hal itu lagi. Hanya akan membuat sakit hati lebih mendalam. Perlahan, butiran air mata reza mengalir. Katakanlah ia adalah laki-laki yang cengeng. Cinta buta pada sosok yang salah. Dia wanita yang tidak patut untuk diperjuangkan. Hanya saat itu Reza terbawa perasaannya. Begitu memuja sosok Arini. Dadanya berdenyut, sakit, tetapi tidak berdarah. Rasanya itu bagi Reza sangat tidak mudah. Ia akan tertatih menjalani kehidupannya ke depannya. Melupakan rasa cintanya pada sosok Arini sangatlah tidak mudah. Butuh waktu untuk itu semua. Mungkin, ia bisa berpura-pura tegar. Akan tetapi hatinya sangat rapuh. Layaknya laki-laki pada umumnya, ia butuh pelampiasan. Reza tidak mau gegabah yang nantinya membuat salah jalan. Reza segera masuk ke dalam kamarnya. Melanjutkan pekerjaannya mencopot semua foto Arini. Ia tidak ingin lagi mengingat tentang kebodohannya itu. Sangat menyakitkan dan membuang banyak waktu. Tak hanya itu Kotak kertas berwarna hitam segera ditutup oleh si pemilik mata setajam elang. Reza mengusap air matanya yang lancang keluar tanpa permisi. Tekadnya sudah bulat untuk melupakan Arini. Laki-laki tampan idola di kampus membuka kembali kotak hitam itu. Ia mengambil buku yang seharusnya menjadi kado untuk Arini di ulang tahun sang mantan pujaan hati. Reza merasa sayang jika harus membuang buku tersebut. Ia mengambil dan meletakkan buku itu di meja. Suatu saat pasti akan dibacanya. Sebuah buku tentang Filsafat, buku kesukaan Arini. Reza kembali dengan aktivitasnya merapikan kotak hitam. Ia melemparkan kotak itu ke dalam tempat sampah yang ada di sudut kamarnya. Ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk. [Pasti lagi patah hati. Nikmati saja!] Arini tanpa perasaan mengirimkan pesan tersebut pada Reza. Ingin rasanya memaki sosok wanita tinggi semampai itu. Akan tetapi, otaknya masih bisa berpikir dengan positif. Laki-laki bermata elang itu, membalasnya dengan kalimat yang mungkin bisa membuat Arini berpikir ulang. [Aku memang pernah jatuh cinta padamu. Hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Tapi, waktu membuatku sadar, jika kamu tidak pantas untuk diperjuangkan. Semoga kehidupanmu setelah menikah jauh lebih baik. Tidak ada lagi kebohongan dalam hidupmu.] Pesan yang dikirimkan oleh Reza benar-benar membuat Arini terkejut. Sosok yang dia kira lemah ternyata mampu bangkit dengan cepat dari keterpurukan. Arini sengaja datang ke tempat indekos Reza dengan tujuan mematahkan hati mahasiswa tampan itu. Kenyataannya, apa yang dilihatnya salah. Sosok itu tampak biasa saja. Arini tetaplah Arini dengan ambisinya. Ia ingin membalas rasa sakit hatinya pada Hadi--mantan tunangannya. Sepertinya semesta sedang mendukung niat buruknya itu. Henri Gunawan sosok pengusaha sukses tampak tertarik pada wanita tinggi semampai itu. Arini tidak mempermasalahkan gelar playboy yang disematkan pada sosok Henri. "Sayang, tadi mahasiswamu?" tanya Henri sambil memegang tangan Arini. Saat ini mereka hendak makan malam berdua di salah satu kafe ternama di Kota Yogyakarta. Arini akhir-akhir ini mendekat pada sosok playboy yang ada di sampingnya itu. Satu kali, Indira pernah mengingatkannya agar tidak bermain api. Sayangnya Arini abai pada nasihat sang sahabat. Indira pun telah kembali ke Semarang kota tempat kelahiran wanita hitam manis itu. "Iya. Dia yang aku ceritakan waktu itu." Hanya anggukan yang diberikan oleh Henri sebagai jawaban. Henri tak menampik jika wanita yang ada di sampingnya itu sangatlah cantik. Wajar jika kaum adam sangat tertarik untuk memilikinya. Tidak tua maupun muda, mereka berlomba mendapatkan cinta sosok Arini. Pun dengan Henri, ia terpesona pada wajah cantik Arini. Sementara itu, Pak Indrayana sudah mulai mencurigai sang putra. Perihal foto seorang anak laki-laki yang mirip dengan Hadi saat masih kecil. Selama ini, anaknya tidak pernah terlibat hubungan asmara dengan banyak wanita. Akan tetapi, sebuah foto yang disimpannya dalam laci ruang kerjanya membuat pikiran tidak tenang. Beliau berencana mengambil sampel rambut sang anak kemudian rambut milik Hadi. Ya, ayah Hadi akan melakukan tes DNA secara diam-diam. Laki-laki paruh baya itu tidak ingin menggemparkan keluarga besarnya. Akibatnya bisa sangat fatal. Rumah tangga sang putra taruhannya juga bisnis yang digeluti akan turun karena skandal tidak jelas ini. Pak Indryana segera mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada orang kepercayaannya. [Tolong ambil rambut dari anak yang ada difoto yang kamu kirim kemarin.] Pesan singkat untuk orang kepercayaan Pak Indrayana sudah terkirim. Hanya ada jawaban siap laksanakan. Seperti biasanya, beliau hanya menunggu hasil dan membayar hasil kerja mereka. Tidak kehilangan akal, ayah Hadi pun harus meminta rambut sang putra. Hadi memiliki kebiasaan bercukur setiap dua atau tiga minggu sekali. Jadi bisa bertanya pada sang menantu perihal jadwal bercukur Hadi. Sebuah ide yang briliant dan mudah dilakukan. Pun tidak akan dicurigai oleh siapa pun. Dua hari berlalu dengan cepat. Hadi tidak curiga sama sekali ketika sang ayah datang berkunjung ke rumahnya. Entah kebetulan atau tidak, ia sedang bercukur dengan menggunakan alat cukur listrik. Hadi memang lebih suka memotong rambutnya sendiri di rumah. Itu sudah dilakukan sejak masih bujang dulu. "Wah, lagi bercukur? Tambah keliatan muda." Ibunya Hadi menegur sang putra kesayangan. "Ibu kapan datang? Kok ga kasih kabar dulu. Sama siapa?" tanya Hadi yang kebetulan mendekat ke arah ibunya. Hadi tidak memerlukan jawaban dari ibunya. Ia melihat ayahnya sedang bermain dengan Keenan. Pun dengan kedua mertua Hadi yang sementara tinggal di rumahnya untuk membantu Maya. Pak Hasan dan Bu Wati menyambut kedatangan besannya dengan antusias. "Lama tidak bertemu, ya," kata Pak Hasan saat menyapa Pak Inrayana yang sedang bermain bersama Keenan. "Iya," jawab Pak Indrayana singkat. Bukan rahasia umum jika hubungan keduanya tidak baik. Lebih tepatnya Pak Indrayana tidak menyukai keluarga sang besan yang berasal dari keluarga yang tidak sederajat dengannya. Jawaban sinis dan ketus pun sering keluar dari ibunya Hadi. Bagi Pak Hasan selama Hadi mencintai dan menyayangi anak perempuannya, mereka tidak mempermasalahkannya. Kedua orang tua Maya masih bisa menahan emosi. Membiarkan sikap besannya seperti itu. Tidak pernah mempermasalahkannya meskipun kadang ada rasa sakit hati. "Istrimu kemana?" tanya ibunya Hadi dengan ketus. Sebab, tidak melihat Maya ada di ruang tengah dan dapur. "Lagi tiduran, Bu. Harus istirahat pasca keluar dari opname kemarin." Sebisa mungkin Hadi memberikan penjelasan pada sang ibu agar tidak terjadi salah paham. Ibunya Hadi melenggang menuju dapur. Di sana ada Bu Wati yang sedang menyiapkan minuman untuk besannya. Juga beberapa cemilan berupa makanan kecil yang kemarin dibeli oleh menantunya. Bu Sari tersenyum ke arah besannya. Seperti bisanya, ibunya Hadi tidak membalas senyum itu. Bu Wati hanya menghela napas panjang. Tidak ada yang berubah dari sosok wanita di depannya itu. Sombong. Satu kata untuk menggambarkan istri dari Pak Indrayana. Maya yang mendengar ramai-ramai di luar kamarnya segera bangun dan melihat keluar. Wanita penyabar itu terkejut ketika melihat ayah mertuanya datang. Dengan tergopoh ia mendekati ayah mertuanya. Sepertu biasanya, mencium takzim punggung tangan sebagai tanda bakti dan rasa hormat terhadap ayah dari suaminya. Berbeda halnya jika dengan ibu mertuanya. Ibunya Hadi tidak pernah mau bersalaman dengan menantunya. Selalu menghindar agar tidak berdekatan dengan Maya. Rasa tidak terima dengan pilihan anaknya. Ibunya Hadi menganggap Maya adalah benalu. Bu Ira--ibu mertua Maya sangat tampak membenci sosok wanita penyabar itu. Selalu saja mencari-cari kesalahan sang menantu. Apa pun itu, tetapi beruntung Hadi bisa memberikan jalan tengah agar mereka tidak berseteru. Lebih tepatnya, Maya yang mengalah. Istri Hadi itu tidak ingin terjadi keributan antara dirinya dengan Bu Ira. "Kamu hamil kok tambah malas. Atau memang hanya ingin jadi nyonya saja?" Bukan sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Bu Ira, lebih tepatnya sindiran tajam yang menyakitkan hati. Maya menghela napas panjang. Tidak ingin memperkeruh suasana. Wanita penyabar itu pun tidak punya tenaga walaupun hanya untuk menjawab setiap kata yang keluar dari mulut Bu Ira. Maya hanya terdiam dan menunduk. Bukan salahnya, tetapi memang fisiknya kali ini tidak bisa bersahabat. Pusing dan mual hebat menderanya. "Mama lagi sakit, Nek. Jangan marahi mamaku!" Keenan berteriak saat tidak sengaja mendengar Bu Ira berbicara. Maya memilih tidak menanggapi ucapan sang mertua. Hatinya akan bertambah sakit lagi. Perkataan tajam Bu Ira akan selalu keluar dari mulutnya meski tidak sedang tidak ada masalah. Rasa tidak suka Bu Ira akan selalu beliau perlihatkan. Semua pandangan mata tertuju pada kedua wanita beda generasi. Hadi pun mendekati sang istri dengan pandangan bertanya. Bu Ira seperti biasanya akan melengos pergi. Sebelum pergi, beliau mengatakan hal yang menyakiti hati Maya. "Kamu jika dibandingkan dengan Arini, mantan tunangan Hadi sangatlah jauh!" Perkataan Bu Ira sukses menambah salah paham pada Maya. Tidak ada rasa bersalah dari Bu Ira saat mengatakan hal itu. Bagi beliau memang kenyataannya seperti itu. Arini adalah sosok terbaik yang bisa menjadi menantu keluarga Indrayana. Bu Ira masih akan menyebut nama itu setiap saat. Nama yang akan membuat hati Maya berdenyut nyeri. Maya mengira jika selama ini Hadi memang masih sering berhubungan dengan mantan tunangannya itu. Hadi pun menjadi serba salah. Ia tidak bisa mengatakan apa pun. Masalah yang kemarin belum selesai, justru saat ini ibunya menambah bebannya. Maya sampai saat ini masih bersikap dingin terhadapnya. Sikap dingin Maya masih bisa diterima oleh Hadi. Sebab, ia sadar diri dengan kesalahannnya. Tidak jujur saat menikahi istrinya. Andai jujur kala itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Banyak yang tersakiti karena ketidakjujurannya. Maya pun segera masuk ke dalam kamar dengan hati yang tak menentu setelah mendengar nama mantan tunangan sang suami disebut. Dadanya berdenyut nyeri. Air mata yang biasanya menetes, kini seolah enggan menetes. Apa pun itu, secepatnya harus segera diselesaikan. "Mas, ada yang ingin aku bicarakan." Sekuat tenaga Maya menahan air matanya. Hadi paham kemana arah pembicaraan sang istri. Ada rasa takut dalam dirinya. Takut kehilangan sang istri yang sangat dicintainya itu. Sebisa mungkin, Hadi akan menjelaskan permasalahannya dengan lembut. Ia akan menerima apa pun risikonya. Cintanya pada Maya begitu dalam. Apa pun akan dilakukan agar wanita yang telah melahirkan Keenan itu tetap bersamanya. Hadi bahkan rela bersujud jika Maya meminta. Begitulah, cinta Hadi pada Maya. "Mengapa tidak pernah mengatakan sejujurnya perihal Mbak Arini?" Bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang jelas akan sulit dijelaskan oleh Hadi. Hadi terperanjat kaget mendengar pertanyaan dari sang istri. Sejujurnya ia akan mengatakannya jika hati dan pikirannya sudah siap. Bukan saat ini, terlebih Maya sedang sakit. Hadi memikirkan cara bagaimana menjelaskannya. Ya, Maya memang tidak suka basa-basi ketika menghadapi masalah. Lebih baik to the point pada pokok permasalahan. Bukan masalah sepele yang sedang dihadapinya. Memang benar sosok Arini adalah masa lalu, tetapi tetap harus ada penjelasan. Terlebih wanita itu telah melahirkan anak dari benih Hadi. "A-aku ... bimbang saat itu ketika harus jujur. Takut kamu tidak akan menerima lamaranku." Hadi berusaha tenang saat menjelaskan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD