bc

POSSESIVE - END (Indonesia)

book_age16+
4.8K
FOLLOW
35.5K
READ
possessive
fated
second chance
drama
tragedy
sweet
like
intro-logo
Blurb

Nakyta Raquell, gadis SMA yang di kenal dengan keramahan serta senyuman yang tidak pernah lepas dari bibir mungilnya itu.

Dia ibarat sosok Ibu, Kakak serta sahabat idaman bagi siapapun yang selalu dekat dengannya

Gadis bertubuh mungil dengan paras imut, namun memiliki sikap dan sifat dewasa. Walau sangat tidak sesuai dengan usia serta wajahnya.

Semua akan merasakan, kenyamanan jika dekat dengannya, tidak akan ada yang bisa menolak pesona yang keluar dalam dirinya.

Namun, tidak ada yang tau jika Nakyta, sosok lembut, penuh kasih sayang itu akan berubah drastis jika sudah di hadapkan oleh seseorang.

Senyumnya yang selalu terkembang akan memudar dan digantikan dengan kebisuan serta kegelisahan yang berhasil membuat sosok Nakyta menjadi sosok penakut.

Matanya yang selalu berbinar ketika menatap orang-orag akan berubah menjadi redup dan ketakutan, dan itu semua hanya oleh satu sosok pria yang dikenalnya sebagai kakak dari sahabat terbaiknya.

Kesalahannya membuat Nakyta terjerumus ke dalam sebuah lingkup dimana ia akan selalu merasakan kegelisahan serta ketakutan.

Rasa itu akan selalu dirasakannya, walau hanya dengan sebuah tatapan saja ……..

Tatapan seorang Fariz Pramudya Husada.

*Gambar : NurulJaozah design

Font : NurulJaozah design

Cover : NurulJaozah design

chap-preview
Free preview
1

    Rombongan manusia berjalan beriringan keluar dari sebuah ruangan yang biasa di gunakan orang-orang untuk menonton sebuah film terbaru. Film yang baru saja di produksi oleh industri perfilman itu baru saja di rilis dan di sebar luaskan kepada seluruh gedung teater untuk di pertontonkan kepada semua orang penyuka film. Sebuah tayangan di mana hanya akan di putar di tempat yang di beri nama bioskop.


    Dua gadis yang termasuk dari salah satu rombongan itu berjalan keluar setelah melewati beberapa lorong dan pintu kaca. Kini mereka sudah berada di pelantaran sebuah mall besar yang biasa di kunjungi orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka berdua berdiri di tengah kerumunan orang-orang yang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Wajah mereka berseri karena sudah dimanjakan selama dua jam oleh film yang tengah hits kala itu, mereka memang sudah merencanakan akan menyaksikan film itu dari jauh hari.


"Gila itu film seru! Tapi kayanya itu film ada seri keduanya deh, abis itu ceritanya masih gantung gitu." Komentar salah satu dari dua gadis tersebut. Gadis yang memiliki rambut coklat sebahu dengan poni yang panjangnya hanya sebatas alis, terlihat seperti anak remaja yang baru saja menjejaki bangku SMA walau nyatanya gadis itu sudah hampir dua tahun menduduki bangku SMA.


    Salah satu gadis lainnya hanya mengangguk setuju dengan komentar yang di berikan oleh temannya itu. Gadis yang memiliki rambut panjang di kepang dua dan kacamata minus yang bertengger manis di matanya. Pasal nya film yang baru saja mereka saksikan itu memang seru, film bergenre horor namun masih di selipi dengan komedi hingga film tersebut tidak terlalu menyeramkan seperti film horor lainnya.


"Pasti ada seri ke duanya, abis itu hantunya masa lenyap gitu aja cuman dibacain mantra. Kayanya bakal di buat film lagi soal hantu itu deh." katanya lagi seperti belum puas mengomentari.


    Gadis berambut panjang itu mengangguk kembali merespon temannya yang langsung mendelik kesal karena merasa berbicara sendiri tanpa ada sahutan dari temannya. Tangannya mulai merapikan tatanan rambut yang di kepang itu dengan hati-hati dan melepaskan kacamatanya lalu menyimpannya ke dalam case kacamata dan di masukkan ke dalam tas selempang model rajut berwarna putih yang menggantung dibahu kanannya itu.


    Mereka berdiri menatap sekeliling guna mencari transportasi yang akan membawa mereka menuju tempat tujuan selanjutnya yaitu rumah. Hari sudah larut malam dan mereka harus pulang segera karena tidak baik seorang gadis pulang larut malam. Salah mereka juga mengambil jadwal tayangnya pada malam hari karena kesibukan mereka di sekolah, jadi selesainya larut malam.


"Kamu jadi nginep 'kan Ky?"


    Nakyta Raquell gadis yang berambut panjang itu hanya mengangguk lagi sebagai jawaban. Nakyta Raquell atau biasa dipanggil Kyky. Dia akan menginap di rumah sahabatnya itu karena hari ini weekend jadi seperti sebuah tradisi ia harus menginap. Pertemanan mereka yang terjalin dari semenjak SMP itu membuat mereka semakin dekat bahkan Nakyta juga heran, pertemanan mereka itu tidak di sangka akan bertahan lama. Bermula dari Nabilla yang berulang tahun dan mengundang seluruh teman sekelasnya untuk merayakan pesta dirumahnya dan di sana tanpa diduga Ibunya Nabilla mempercayakan Nakyta untuk membantu menyiapkan acara pesta tersebut padahal Nakyta, bahkan Nabilla tau betul bahwa mereka tidak dekat bahkan jarang sekali bertegur sapa walau satu kelas. Tapi anehnya setelah itu mereka jadi dekat dan kompak sampai sekarang ini.


    Nabilla Putri Husada. Gadis yang memiliki postur tubuh kecil dan sangat sama dengan Nakyta bahkan mereka selalu di juluki kembar oleh orang-orang. Sahabat Nakyta walau sekarang tidak satu sekolahan karena Nabilla memilih untuk sekolah bagian Seni sedangkan Nakyta memilih SMA untuk melanjutkan pendidikannya. Nabilla Putri Husada, putri satu-satunya dari keluarga dosen terbang yang sangat terkenal, kehidupannya sangat lah beruntung karena memiliki segalanya dengan mudah berkat penghasilan dari kedua orangtuanya yang sama-sama bekerja sebagai dosen. Tidak seperti Nakyta yang terlahir dari keluarga sederhana bahkan bisa di bilang Nakyta adalah kalangan keluarga ekonomi bawah. Ayahnya yang sudah meninggal ketika Nakyta berumur enam tahun dan Ibunya yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik.


    Yang lebih membuat Nakyta bangga adalah sosok Nabilla tidak pernah membeda-bedakannya, Nabilla bahkan tidak pernah merasa risih berteman dengan dirinya dan tidak akan segan-segan untuk memarahi orang-orang yang menghina Nakyta. Hal yang tidak pernah terduga dari sosok Nabilla yang hidup dengan serba berkecukupan bahkan mungkin lebih namun keluarga Nabilla di didik untuk tetap sederhana dan tidak berlebihan dalam hidup. Keluarga Nabilla yang termasuk kedalam golongan berpegang teguh pada keyakinannya terhadap Sang Pencipta membuat mereka selalu menghargai dan menolong sesama manusia.


    Suasana Mall masih ramai walau hari sudah larut malam bahkan di depan Mall terdapat pedagang kaki lima yang setia berjualan di pinggir jalan. Mata Nabilla melihat sekeliling dan di ikuti oleh Nakyta yang heran melihat sahabatnya itu seperti tengah mencari sesuatu. Tangan Nakyta masih aktif memainkan kunciran rambutnya dan tidak peduli lagi apa yang dilakukan oleh orang yang berada disampingnya itu.


"Abang mana ya? Katanya mau jemput," gumam Nabilla.


    Nakyta yang mendengarnya langsung terdiam. Raut wajahnya langsung berubah pucat bahkan mulai mengeluarkan keringat. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"A ... abang kamu jemput Nab?" tanya Nakyta berusaha untuk tidak terdengar terbata dan memastikan jika pendengarannya tadi salah.


"Heem." Jawaban Nabilla yang sangat tidak diharapkan.


    Perasaan Nakyta mendadak kalut dan gelisah hanya karena kakak dari sahabatnya itu akan menjemput mereka berdua. Sebenarnya itu bukan masalah, malah itu membantu agar mereka bisa cepat sampai rumah dan tentunya menghemat biaya. Masalahnya terdapat dari ketakutan yang selalu melingkupi diri Nakyta jika dihadapkan dengan Kakak sahabatnya ini. Nakyta tidak bisa bertemu atau bertatap muka dengannya dan Nakyta belum sanggup untuk menerima tatapan tajamnya.


    Sebuah mobil audi putih berhenti tepat di samping mereka. Kepanikan Nakyta mulai menyerangnya ketika melihat mobil itu. Dengan langkah pasti Nabilla langsung masuk ke dalam mobil di susul Nakyta dengan langkahnya yang ragu. Mau menolak untuk pulang bersama juga tidak ada alasan baginya, bukankah ia akan menginap di rumah Nabilla? Mau tidak mau Nakyta memang harus siap bertemu dengan orang itu bukan. Lagipula ini salah Nabilla juga yang tidak memberitau bahwa kakaknya itu akan menjemput mereka, padahal tidak ada perjanjian seperti itu.


"Lama banget sih bang." Protes Nabilla ketika mereka sudah duduk manis di kursi belakang. Pria yang dipanggil 'abang' oleh Nabilla hanya diam tidak merespon adiknya. Pria itu terlihat santai dengan kaos putih serta celana levis pendek yang terpasang manis dikakinya. Namun aura dingin dan mengintimidasi langsung dirasakan oleh kedua gadis itu ketika memasuki mobil.


"Pindah. Gua bukan supir." Suara baritonnya membuat kedua gadis yang duduk dibelakang itu menciut.


    Nabilla menyenggol sikut Nakyta menyuruhnya untuk pindah ke depan karena hanya pintu sebelah Nakyta lah akses satu-satunya jalan keluar, pintu samping Nabilla langsung menuju jalan raya jika dibuka pasti akan menggangu pejalan lain. Nakyta langsung menolak dengan melebarkan matanya seolah sedang berbicara melalui tatapannya itu.


"Kamu aja yang pindah. Aku mau tiduran disini. Cepet." Bisik Nabilla dan hanya mendapatkan gelengan dari Nakyta.


    Bunyi klakson mobil belakang membuat Nakyta memejamkan mata frustasi seolah memang tidak ada jalan pilihan lain karena mobil mereka menghalangi jalan. Dengan malas Nakyta langsung pindah tempat duduk di depan, di samping kursi kemudi. Setelah memastikan Nakyta memasang safety bealt nya, perlahan mobil itu keluar menjauh dari Mall tersebut.


                                                                          - - -


    Suasana mobil yang hening di tambah dengan tidak ada adanya penerangan di dalam mobil, hanya ada penerangan dari lampu jalanan saja yang membantu penerangan di dalam mobil itu. Tak ada satu pun suara yang terdengar, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Jalanan yang di lewati pun sedikit lenggang karena sudah malam, jadi kendaraan tidak banyak seperti pada siang hari. Nakyta dengan keringat dingin yang masih tercetak jelas di dahinya, padahal AC dalam mobil ini berjalan dengan sangat baik tidak ada masalah, namun tetap saja keringat itu tetap membanjiri tubuhnya. Orang yang tengah sibuk fokus menyetirlah penyebab Nakyta gelisah hingga berkeringat seperti itu. Nakyta benar-benar merasa sangat terintimidasi oleh orang itu, padahal orang itu tidak melakukan apa-apa hanya duduk diam menyetir.


'Kyky mohon cepet sampai' do'a Nakyta dalam hati.


    Mata pria itu menatap gadis disampingnya yang tengah gelisah. Perlahan sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum tipis yang jarang sekali ditunjukan kepada siapapun. Matanya beralih menatap kaca spion yang berada diatasnya, melihat adiknya yang sudah terlelap dengan nyamannya di kursi belakang dengan posisi meringkuk seperti janin. Kebiasaan adiknya yang akan mudah tertidur dalam perjalanan tak pernah bisa hilang. Dengan gerakan pasti tangan kirinya yang bebas menyetir langsung menggenggam salah satu tangan Nakyta dan membawanya kepangkuannya. Sontak perlakuannya itu membuat Nakyta terkesiap dan reflek menatapnya. Tangan kecil yang mengeluarkan banyak keringat karena gelisah namun terasa hangat dan pas dalam genggamananya.


    Nakyta berusaha untuk melepaskan genggaman pria itu namun nihil karena pria itu semakin menggenggamnya erat bahkan Nakyta yakin genggamannya itu akan membekas merah jika ia terus memaksakan untuk melepaskannya. Matanya terpejam ketika merasakan sebuah kecupan lembut di punggung tangan nya. Pria itu mencium punggung tangan nya membuat jantung Nakyta berdegup cepat, bukan karena tersanjung dengan perlakuan pria itu namun karena ia merasakan ketakutan. Hal ini sudah biasa ia dapatkan, namun ia merasa ini tidak benar, ini salah. Bahkan ini terasa aneh menurutnya, pria itu berlaku seperti Nakyta adalah orang yang sangat di pujanya.


"K ... kak." Lirih Nakyta ketika mendapatkan ciuman itu kembali di punggung tangannya. Matanya terpejam ketakutan.


"Ssst." Hanya sebuah desisan kecil yang di dapat Nakyta.


    Dengan takut Nakyta melirik kebelakang, memastikan jika sahabatnya itu tidak melihat apa yang tengah dilakukan oleh Kakaknya itu. Sahabatnya itu tidak boleh tau apa yang selama hampir dua tahun ini dilakukan oleh Kakaknya itu terhadap dirinya. Nakyta tidak ingin jika Nabilla tau hubungan yang terjalin dengan pria bermata tajam itu.


Hubungan?


    Sebenarnya Nakyta juga tidak yakin apakah memang dirinya menjalin hubungan dengan pria itu atau tidak, karena selama ini hubungan mereka tidak jelas, tidak ada status apapun. Di sebut dengan teman tapi tidak mungkin se intim itu, namun di sebut kekasih pun tidak ada pernyataan cinta diantara keduanya. Teman tapi mesra pun tidak bisa disebut dalam hubungan ini karena mereka sama sama tidak saling mengenal satu sama lain. Tidak ada kata teman dalam mulut mereka. Friendzone? Tidak. Mereka bahkan tidak pernah saling memberikan perhatian. Hubungan aneh ini terjalin begitu saja selama dua tahun belakangan ini. Karena sebuah tragedi yang membuat Nakyta bisa terjebak dalam lingkup kehidupan pria tersebut. Kehidupan yang penuh dengan tatapan intimidasi serta ancaman. Ancaman tak kasat mata yang membuat Nakyta selalu ketakutan serta gelisah jika berhadapan dengan pria itu. Kesalahannya yang menjerumuskan dirinya agar mau berkomunikasi dengan pria itu, padahal selama ini ia tau pria itu, tak pernah sedikit pun mereka berkomunikasi bahkan jika bertemu pun tidak pernah saling bertegur sapa atau bertatapan. Keduanya saling acuh seolah tak pernah ada satu sama lain. Namun semua berubah ketika hari itu. Hari yang sangat di sesali oleh Nakyta karena selain ia terjebak dengan hubungan aneh ini, ada salah satu nyawa yang hampir melayang karena kesalahannya itu.


Suara dering handphone yang terletak di car holder di atas dashboard mobil memecahkan suasana canggung dan penuh dengan intimidasi itu. Mata Nakyta menatap layar membaca id caller yang bertuliskan 'Mamah'. Tanpa bersusah payah pria itu menekan tombol panggilan menggunakan jari telunjuk dengan tangan yang masih menggenggam tangan Nakyta dan menekan tombol louspeaker agar dapat menyetir tanpa bersusah payah.


"Hmmmm." Singkat, padat dan jelas seperti biasanya.


"Fariz .... nak kamu lagi jemput Nabilla?" Suara lembut dari panggilan itu membuat Nakyta terdiam membeku.


    Fariz Pramudya Husada. Pria yang memiliki mata tajam. Jarang berbicara dan dingin. Aura intimidasi yang selalu mengelilinginya dapat mengancam orang-orang yang berada di sekelilingnya. Pria yang selalu membuat Nakyta takut serta gelisah jika berhadapan dengannya. Memiliki dua orang adik dan salah satunya adalah sahabat Nakyta. Seorang mahasiswa semester pertengahan. Pria yang tengah menggenggam tangan Nakyta dengan erat tanpa kesulitan padahal sedang mengemudi.


"Iya."


"Sekarang di mana? Sama Nakyta juga kan?"


"Hmm."


"Mana coba Nakyta nya? Mamah mau ngomong."


Genggaman Fariz semakin erat dan menatap Nakyta dengan tatapan menyuruh Nakyta agar berbicara.


"Ha ... halo Bu."


"Ky ... gimana film nya seru nggak?"


"Seru Bu. Nanti kapan-kapan Ibu sama bapa coba nonton. Film nya rame."


"Iya nanti Ibu coba sama Ayah mau nonton. Oh iya Nabilla nya mana? Pasti tidur tuh anak."


"Hehehe iya Bu, Nab lagi tidur."


"Ya udah kamu nginep kan? Nginep aja udah malem. Ibu lagi di jalan mau pergi ke Jakarta ada urusan Ibu mau nitip pesen sama Kyky boleh?"


"Bo ... boleh ko Bu mau nitip pesen apa?"


"Liburan weekend nya di rumah Ibu aja. Nginep gitu biar ada yang ngawasin anak-anak Ibu. Nanti kayak biasa tolong belanja buat masak. Daftar belanjaannya udah Ibu simpen di meja riasnya Nabilla sama uangnya juga. Pokonya nanti minggu malem Ibu pulangnya. Ibu nitip ya, Ky."


"I ... iya Bu."


"Ya udah kalo gitu, Ibu tutup dulu ya."


"Iya Bu, hati-hati."


"Kalian juga sayang. Byee."


    Perlahan tubuh Nakyta melemas dan bersandar pada jok mobil. Permintaan ibu nya Nabilla membuatnya langsung tidak bertenaga. Sebenarnya tidak ada masalah, justru memang ada niatan Nakyta akan menginap selama weekend. Menghabiskan waktu bersama sahabat dan merencanakan beberapa kegiatan. Hal yang biasa dilakukannya ketika berlibur di rumah sahabatnya selalu rutin seperti ini. Membantu ibu menyiapkan persediaan makanan bahkan membantu mencuci pakaian dan membereskan rumah. Nakyta selalu menganggap hal yang dilakukannya adalah kesadaran diri bahwa ia menumpang dan sebagai balasannya ia harus membantu keperluan rumah itu.


    Fariz menghentikan mobilnya tepat di halaman rumahnya. Nakyta berusaha untuk melepaskan tangannya tapi Fariz malah menariknya hingga membuat tubuh Nakyta berada di d**a Fariz.


"Nanti ke kamar!" Ini bukan permintaan melainkan perintah yang harus di laksanakan.


Nakyta hanya mengangguk dan terdiam menatap Fariz yang sudah turun dari mobil sebelum meninggalkan sebuah kecupan di pelipis Nakyta.


                                                                         - - -


    Sesuai perintah Fariz kini Nakyta berjalan perlahan menuju sebuah lorong yang menghubungkan antara dapur dan sebuah kamar. Lorong yang kedua ujungnya terdapat pintu dengan lampu bercahaya kuning yang bergantung di tengah lorong untuk membantu penerangan. Rumah sahabatnya ini sangat luas dan memiliki dua lantai dimana di lantai atas terdapat empat kamar. Satu kamar utama yang di tempati oleh orang tua Nabilla dan di sebelah kamar itu terdapat kamar Nabilla yang biasa di tempati Nakyta juga. Di seberang dua kamar itu terdapat kamar adik Nabilla dan sebelahnya kamar kosong yang dulunya di tempati oleh Fariz. Entah karena apa, saat Fariz mulai memasuki universitas ia memutuskan untuk pindah kamar dan menempati kamar di bangunan bawah yang tak jauh dari rumah. Sebuah bangunan yang tersambung dengan lorong dapur dan dalam rumah serta akses untuk keluar rumah dengan pintu lain.


    Di lantai bawah terdapat ruang tamu, lalu ruang keluarga, ruang makan serta dapur dan dua kamar tamu yang salah satunya sudah di tempati oleh pembantu rumah ini. Di luar rumah ini terdapat taman kecil serta kolam ikan yang sudah jarang terpakai, lalu disebelahnya terdapat garasi mobil. Rumah ini termasuk ke dalam bangunan tipe perumahan elit karena tempat ini memang berada di salah satu perumahan di kota Bandung.


    Dengan langkah perlahan serta berjinjit karena tidak ingin ketahuan oleh seisi rumah walau hanya ada pembantu serta Nabilla yang yakin pasti sudah tertidur pulas dikamarnya namun Nakyta harus selalu waspada. Ini memang bukan untuk yang pertama kalinya ia melakukan hal seperti ini, tapi dengan beberapa insiden yang selalu hampir saja ketauan oleh orang lain membuat Nakyta kini selalu berhati-hati jika ingin memasuki kamar Fariz.


    Dengan pelan Nakyta mengetuk pintu dan tak lama pintu terbuka hingga dengan cepat tubuh Nakyta tertarik masuk ke dalam, berdiri di belakang pintu setelah orang yang menarik Nakyta itu langsung duduk di atas karpet dengan tangan yang tengah memainkan laptop di atas meja kecil dengan tingginya yang hanya sebatas d**a orang ketika duduk. Kamar yang cukup luas dengan nuansa manly dan penuh dengan warna hitam dan abu-abu, khas anak laki-laki. Beberapa poster band rock luar negeri terpasang di dinding. Serta barang-barang simple yang tidak banyak, hanya ada kasur yang di beri sprai abu corak hitam, satu sofa hitam panjang di dekat kaca jendela yang tertutup tirai, lemari pakaian, pintu menuju kamar mandi, televisi hitam layar besar yang menggantung di dinding, dan sebuah rak buku yang penuh dengan beberapa koleksi buku-buku referensi serta beberapa novel milik Nakyta yang sengaja di simpan kalau Nakyta berdiam di kamar ini agar tidak jenuh, serta meja yang berada di samping tempat tidur. Di tengah kamar tersebut terdapat tumpukan bantal besar yang berwarna hitam dengan meja kecil diatasnya terdapat laptop yang sedang dimainkan oleh Fariz tersebut.


    Perlahan Nakyta berjalan menuju tempat Fariz dan ketika pantatnya hendak duduk di atas bantal hitam yang empuk di samping Fariz itu, suara Fariz berhasil membuatnya menghentikan aktifitasnya.


"Aku lapar." Perkataan Fariz membuat Nakyta terdiam langsung berdiri kembali dan berjalan keluar menuju dapur untuk membuat sesuatu disana. 


    Dengan menghembuskan nafas lelah Nakyta membuka kulkas untuk mengambil beberapa bahan yang akan ia masak. Hanya ada ayam dan beberapa masakan instan yang bisa langsung di masak tanpa perlu tambahan bumbu, seperti nuget dengan berbagai macam makanan yang langsung di goreng. Dengan cekatan Nakyta mengambil beberapa potong ayam dan langsung membersihkannya,setelah itu merebusnya dengan bumbu racik instan hingga airnya habis dan meresap kedalam ayam. Lalu di goreng hingga kering. Makanan favorit Fariz sudah jadi. Ayam adalah makanan favorit Fariz dan ia tidak akan makan jika tidak ada ayam, Nakyta di beritau oleh Ibu hingga setiap membantu Ibu untuk masak pasti akan selalu ada ayam walau di masak apapun. Tujuannya hanya agar Fariz mau makan.


    Walau begitu Nakyta menambahkan omelet yang di campur dengan beberapa macam sayuran agar makanan Fariz banyak nutrisinya. Ini sudah menjadi kebiasaan Nakyta jika Fariz mengatakan dirinya lapar pada Nakyta itu tandanya Nakyta harus membuatkan atau menyiapkan makanan untuk Fariz jika mereka sedang berdua seperti ini dan tidak ada yang tau akan hal ini kecuali mereka berdua. Beginilah Nakyta jika berada dengan Fariz, harus selalu mengikuti perintah dan keinginan Fariz apapun itu dan tugas Nakyta adalah tidak boleh membantah sama sekali.

Nakyta kembali dengan membawa nampan berisi makanan yang dibuatnya tadi.


"I ... ini kak," ucap Nakyta terbata sambil menyodorkan piring ke arah Fariz.


    Tanpa melepaskan pandangannya Fariz hanya membuka mulutnya dengan tangan dan mata yang fokus terhadap laptop. Nakyta yang mengerti langsung duduk di samping Fariz dan mulai menyuapi makanan itu ke dalam mulut Fariz dengan menggunakan tangannya. Tanpa rasa jijik Fariz menerima suapan tersebut dan langsung mengunyahnya. Kali ini tugas Nakyta bertambah yaitu menyuapi Fariz.


    Nakyta mencuci tangan serta peralatan masak dan piring yang kotor, setelah selesai ia kembali lagi duduk dan melihat Fariz yang tengah mengedit beberapa film untuk tugasnya di kampus. Jurusan perfilman yang diambilnya dan sekarang sudah memasuk tengah semester. Orangtua Fariz tidak menuntut anak-anak mereka untuk menjadi seorang dosen manajemen bisnis seperti Ayah mereka atau menjadi pengusaha sukses seperti kakek mereka. Ayah Fariz dan Nabilla membebaskan anak-anak nya untuk memilih bidang yang di ambil dan disukainya, asal mereka bisa mempertanggung jawabkan keputusan yang mereka ambil. Maka dari itu Fariz memilih mengambil jurusan perfilman karena kecintaannya terhadap dunia itu dan Nabilla yang memilih seni. Ada satu hal lagi yang membuat mereka tidak ingin memaksakan kehendaknya terhadap anak-anaknya, karena mereka tidak ingin hal dulu terulang kembali sehingga menimbulkan akibat yang fatal dan masih membekas sampai sekarang.


    Tanpa sadar Nakyta tertidur meringkuk dengan memeluk sebuah bantal hitam yang besar itu hingga membuat Fariz menghentikan tugasnya dan lebih fokus menatap wajah gadis yang polos jika tengah tertidur itu. Mata hitam bening yang bulat jika mata itu terbuka, hidung kecil namun tidak mancung seperti dirinya dan bibir mungil yang berwarna pink serta pipi chubby  yang membuatnya selalu gemas dan ingin mencubitnya selalu. Diambilnya selimut yang terlipat rapi di atas tempat tidur, dengan perlahan Fariz memindahkan kepala Nakyta ke dalam pangkuannya. Menyelimuti tubuh Nakyta dan kembali melanjutkan tugasnya dengan tangan satunya yang menggenggam tangan Nakyta, mengerjakan tugas dengan satu tangan walau kesulitan namun keinginannya yang selalu ingin menyentuh tangan atau mengelus rambut gadis itu tidak bisa dihentikan.


    Nakyta perlahan mengerjapkan matanya dan menggerakan tubuhnya sedikit. Melihat sekitar dan menyadari bahwa dirinya tertidur di pangkuan Fariz. Perlahan Nakyta melepaskan tangan Fariz yang menggenggam pergelangan tangannya dan bangkit menatap jam dinding di kamar yang menunjukkan pukul 04.25 pagi. Tanpa mau membangunkan Fariz dengan gerakan pelan juga Nakyta menyingkap selimut yang tadi melekat di tubuhnya dan beralih menyampirkan ke tubuh Fariz yang tengah tertidur dengan kepala yang disenderkan di meja laptop dan salah satu tangan yang dijadikan bantal. Pasti akan terasa pegal nanti jika posisi tidur duduk seperti itu. Namun Nakyta terpaku dengan pemandangan yang dihadapannya ini. Wajah Fariz yang terlihat damai ketika tidur membuat perasaan gelisah dan takut itu lenyap hanya dengan melihat wajah damai Fariz yang tertidur. Nakyta sangat menyukai melihat Fariz yang tertidur walau dalam keadaan cahaya yang minim hanya dari lampu tidur yang berada di atas meja di samping tempat tidur serta lampu cabe warna biru yang terpasang di atas langit kamar seperi bintang dengan menyala perlahan tapi Nakyta bisa melihat dengan jelas wajah Fariz yang seperti anak kecil. Tidak ada kerutan di dahinya dan tidak ada tatapan tajam yang selalu ditunjukkannya.


    Dengan langkah kecil Nakyta keluar kamar dan berjalan dengan sangat hati-hati menuju lantai atas untuk pergi ke kamar Nabilla dengan cepat sebelum Nabilla terbangun dan menyadari jika dirinya tidak ada di dalam kamar semalaman. Ia tidak ingin mengambil resiko hanya dengan ketauan tidur di kamar Fariz.



                                                                          %%%

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

EX-HUSBAND

read
46.2K
bc

My Overdose

read
68.9K
bc

ISSENA

read
84.7K
bc

My Little Friend, CEO

read
319.7K
bc

BEKAS PACAR ( INDONESIA )

read
169.3K
bc

Possesive

read
74.5K
bc

Infinity

read
199.3K